<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Surga Dunia</title>
	<atom:link href="http://surgadunia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://surgadunia.wordpress.com</link>
	<description>Cerita Penuh Nafsu</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Sep 2007 08:52:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='surgadunia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Surga Dunia</title>
		<link>http://surgadunia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://surgadunia.wordpress.com/osd.xml" title="Surga Dunia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://surgadunia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Aku dan Guru Pancasilaku</title>
		<link>http://surgadunia.wordpress.com/2007/09/06/aku-dan-guru-pancasilaku/</link>
		<comments>http://surgadunia.wordpress.com/2007/09/06/aku-dan-guru-pancasilaku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2007 08:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>surgadunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surgadunia.wordpress.com/2007/09/06/aku-dan-guru-pancasilaku/</guid>
		<description><![CDATA[Saat itu aku masih sekolah di suatu SMPN yang cukup ternama di Medan. Aku baru saja pindah dan belajar mengenali suasana baru di sekolah itu. Pada waktu masuk kelas di hari pertama, saat itu kami akan bejar soal PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Ibu Rossi, nama guru PMPku itu, dia cantik, mungkin sekitar 30 tahunan usianya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=23&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Saat itu aku masih sekolah di suatu SMPN yang cukup ternama di Medan. Aku baru saja pindah dan belajar mengenali suasana baru di sekolah itu. Pada waktu masuk kelas di hari pertama, saat itu kami akan bejar soal PMP (Pendidikan Moral Pancasila).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-23"></span><span style="font-family:Batang;">Ibu Rossi, nama guru PMPku itu, dia cantik, mungkin sekitar 30 tahunan usianya. Bodynya yahud menurutku dan yang jelas payuradaranya sangat besar dan menantang tegak. Saat beliau mengajar, aku tidak bisa melepaskan tatapanku pada tubuhnya yang menarik itu. Sebagai gambaran bu rossi menggunakan baju putih yang tembus pandang sehingga branya yang hitam sangat terlihat jelas. “Hei Kamu” dia memanggilku dengan menunjukku dengan suara keras, “Ibu sedang mengajar, kamu malah melamun” ujarnya. Sontak seluruh kelas langsung tertawa melihatku. “siapa nama kamu” tanyanya lagi. “andre bu” jawabku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Setelah sekolah usai, kamu temui saya” katanya keras. “baik bu” jawabku lemas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Donny teman semejaku mengingatkanku untuk berhati-hati karena dia bisa galak sekali. Akupun mengangguk lemah mendengar uraiannya. Seusai sekolah akupun menemui bu rossi. Saat aku temui, dia langsung bertanya galak “kamu anak baru sudah melamun lagi”. Aku terdiam saja sambil memandangi bra hitamnya yang tercetak jelas itu. Ada sekira 1 jam dia menceramahi aku tentang pentingnya Pancasila. Saat dia menceramahi aku, aku memperhatikan payudara yang tertutup bra hitam itu. Aku membayangkannya sambil menelan ludah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Saat dia selesai, dia menyuruhku untuk membuat paper tentang Pancasila. “aku dengar kamu pernah memenangni lomba tentang P4 waktu SD, ngga akan sulit bagimu untuk menulis paper tentang Pancasila kan?” aku terdiam sambil bertanya dimana aku bisa ambil bahan2nya. Bu rossi menyuruhku untuk mengambil bahannya besok pagi, karena rencananya selama seminggu sekolah kami akan ada kompetesi olahraga yang sudah dutin digelar. Akupun mengangguk dan mencatat alamatnya pada bukuku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Esok paginya aku pergi ke rumah bu rossi sambil diantar sopir, sesampainya disana, aku berpesan untuk ditinggal saja, karena letak rumahnya teletak tak jauh dari kantor ayahku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Saat aku mengetuk pintu rumahnya yang asri, bu rossi sendiri yang membukakan pintu untukku. Akupun mengucapkan selamat pagi dan ia menyuruhku untuk duduk. “Andre, tunggu sebentar, ibu ambilkan bahan-bahannya dulu” ucapnya sambil meninggalkanku di ruang tamu. Tak lama kemudian dia kembali membawa setumpuk buku dan diletakkan di meja tamunya. Saat bu rossy meletakkan buku, jantungku berdesir keras, karena aku melihat payudaranya yang tidak ditopang oleh payudara, sehingga tampak menggantung bebas di balik kausnya yang lebar itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Diapun menutup pintu dan langsung menyalakan AC di ruang tamunya. Dalam hati aku bertanya dimana suami dan anaknya saat ini, ternyata dia langsung menjawab sambil tersenyum “suami saya sedang ke kantor, sementara anak saya belum lagi pulang dari liburannya di Jakarta”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Saat aku sedang mengerjakan tugasku, aku mulai merasa jenuh dengan tugas ini. Sepertinya bu rossi mengetahui kesulitanku dan menawarkan bantuannya. “andre kita pindah ke meja makan yaa” ujarnya” akupun mengangguk. Bu rossi duduk persis diseberangku dan aku tidak dapat menahan pandangan mataku ke arah payudaranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Sambil tersenyum bu rossi berkata “kamu kenapa melihat ke dada ibu terus ndre?” dia berjalan mendekatiku dan memintaku berdiri dihadapannya. “kamu tertarik dengan ini ndre?” akupun menjawab “iiiiyyya bu”. Bu rossy tiba-tiba melepaskan kaosnya dan menarik tanganku untuk memegang payudaranya “kalau kamu mau, remas aja ndre” katanya. Akupun segera melaksanakan perintahnya dan langsung kuraba-raba payudaranya dengan ilmu yang telah kudapat selama di Dilli. Aku mendekatkan wajahku ke payudaranya dan mulai melumat kedua payudaranya dengan mulutku. Diapun mendesah “aaaah terrrus ndre, hisapanmu ennnakk sekali” katanya. Kepalanya bergerak liar sambil tangannya mendekap kepalaku dengan erat. Tangannya kemudian mulai menjarah ke arah penisku dan mulai meremas penisku dengan ganas. “oooh andre, enak banget ndre”. Dia pun mulai membuka baju dan celanaku dan kemudian berlutut di hadapanku sambil memegang penisku. Dia mulai menjilati dan mengulum penisku. Aku pun hanya terdiam sambil memegang kepalanya sambil berkata “terussss buuuu”. Dia mengulum penisku sambil matanya merem melek keenakan karena mulutnya terus disodok oleh penisku. Dia mengelurkan penisku dari mulutnya dan menempelkan penisku ke kedua payudaranya yang besar itu. Dia terus menggesek-gesekkan penisku. Setelah puas menggesek-gesekkan penisku dia memintaku untuk tiduran di lantai. Sambil memegang penisku bu rossi memasukkan penisku kedalam lubang kenikmatannya sambil berteriak kencang “oooohhhh ennnnnakkk andddree” setelah penisku berhasil masuk ke dalam lubang kenikmatannya, dia mencumbuku dengan ganas dan menggoyangkan tubuhnya. Bu rossi kemudian berteriak kalau dia mau mengeluarkan cairannya. Tak lama setelah bu rossi mengeluarkan cairannya, aku bertanya apakah aku boleh kencing di dalam, dia langsung berdiri dan kembali dan menarik tanganku agar aku berdiri juga. Setelah aku berdiri bu rossi kemudian kembali menghisap penisku dan saat itu aku mengeluarkan spermaku di dalam mulutnya dan juga mengelarkannya kembali ke wajahnya dan kedua payudaranya. Setelah kami berdua puas, bu rossi bertanya, apakah aku pernah berhubungan seks dengan orang yang lebih tua dariku. Sambil tersenyum, aku menjawab apapun keinginannya akan aku penuhi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Setelah itu kami bergegas untuk berkemas agar tidak meninggalkan jejak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/surgadunia.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/surgadunia.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/surgadunia.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/surgadunia.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/surgadunia.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/surgadunia.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/surgadunia.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/surgadunia.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/surgadunia.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/surgadunia.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/surgadunia.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/surgadunia.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/surgadunia.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/surgadunia.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/surgadunia.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/surgadunia.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=23&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://surgadunia.wordpress.com/2007/09/06/aku-dan-guru-pancasilaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/201112ee97f0805487f43bf36143f1ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">surgadunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sore Itu</title>
		<link>http://surgadunia.wordpress.com/2007/07/05/sore-itu/</link>
		<comments>http://surgadunia.wordpress.com/2007/07/05/sore-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 05:28:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>surgadunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surgadunia.wordpress.com/2007/07/05/sore-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu aku berangkat pagi-pagi ke sekolah. Biasa, mau nyontek PR teman. O,ya aku sekolah di SMA negeri di kota X. sekolah ini termasuk unggulan, namun bukan dalam hal akademisnya melainkan dalam hal ekskulnya. setiap pulang para siswa terlebih dahulu mengikuti ekskul hingga sore hari. Karena termasuk sekolah baru, guru yang mengajar umumnya masih muda. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=22&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Hari itu aku berangkat pagi-pagi ke sekolah. Biasa, mau nyontek PR teman. O,ya aku sekolah di SMA negeri di kota X. sekolah ini termasuk unggulan, namun bukan dalam hal akademisnya melainkan dalam hal ekskulnya. setiap pulang para siswa terlebih dahulu mengikuti ekskul hingga sore hari. Karena termasuk sekolah baru, guru yang mengajar umumnya masih muda. Mereka rata-rata tidak ada yang berumur lebih dari 30 tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-22"></span><span style="font-family:Batang;">Jam 6 pagi aku sampai di sekolah, segera kucontek PR temanku yang terlebih dahulu datang. Tidak terasa aku mengerjakan PR hingga bel masuk berbunyi. Untungnya PRku selesai lebih dulu. Pelajaran pertama biologi. Aku sih enjoy aja mengikutinya apalagi gurunya manis, masih muda lebih tinggi sedikit dariku dengan berat badan yang ideal, dan berjilbab. Dia baru mulai mengajar 3 hari yang lalu. Kami biasa memanggilnya Bu Fira. Pagi itu Bu Fira datang memakai baju warna hitam dan jilbab dengan warna sama. Dia menggunakan jilbab selengan. Selain mengajar biologi, dia juga menjadi pengurus UKS maklum sekolah kami masih baru minim SDM.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Aku tidak konsen menerima pelajaran karena memperhatikan tubuh Bu Fira. Aku membayangkan apabila Bu Fira yang berjilbab itu telanjang. Tentu merupakan hal yang menarik apabila wanita berjilbab namun tidak berbusana. Selama ini aku hanya bisa mengkhayal bu Fira yang berjilbab telanjang di depanku. Memikirkan hal itu aku jadi ngaceng. Tak terasa pelajaran selesai kulihat jilbabnya melambai-lambai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Pukul 1 siang “teeeeeeeeeee………….t” bel pulang berbunyi aku segera mempersiapkan diri untuk ikut ekskul. Aku menjadi kapten tim sepak bola di sekolahku. Sehingga harus bertanggung jawab pada ekskul itu. Ekskul yang kuikuti berlangsung mulai jam 2 siang hingga 4 sore.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Tak terasa sudah jam 4 sore. Semua anggota tim pulang, sedangkan aku masih ada di sekolah untuk membereskan peralatan ekskul. Memasuki sekolah, suasana terasa lain. Jika setiap pagi sangat ramai, keadaan di sore hari berbeda 180 derajat. Koridor yang tadinya ramai kini menjadi sepi.<br />
Aku berjalan menuju gudang untuk meletakkan bola sepak. Pada saat perjalanan kembali aku melewati ruang guru. Kulirik sebentar hanya tinggal tas Bu Fira. Guru lainnya sudah pulang sedangkan dia masih di sekolah. Aku menyempatkan diri mandi di kamar mandi dekat ruang guru. Di sana hanya ada 2 kamar mandi satu untuk pria satu untuk wanita. Namun dindingnya tidak membatasi dengan sempurna, ada sekitar 30 cm celah di atas dinding yang membatasi kamar mandi itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Di kamar mandi bajuku tidak segera kulepas. Aku menunggu keringatku mengering. Belum selesai aku menunggu keringatku kering, terdengar suara kamar mandi sebelah terbuka. Aku hanya diam saja karena kupikir bisa mendapat pemandangan bagus. Saat mengintip aku terkejut karena ternya di sana kulihat Bu Fira, guru berjilbab yang mempunyai wajah manis seperti artis sinetron. Aku lebih terkejut lagi karena bu Fira saat itu sedang berjongkok tanpa mengenakan rok panjangnya. Terlihat roknya berada di gantungan kamar mandi. Saat itu dia memandangi gambar di ponselnya. Aku menduga dia tengah menonton bokep, karena terlihat dia tidak bias mengendalikan diri dan menggosok-gosok vaginanya. Tak kusangka walaupun berjilbab, Bu Fira sangat bernafsu. Kuabadikan masturbasi bu Fira tersebut dalam ponsel kameraku. Bu Fira tidak sampai mengerang, muungkin dia malu apabila terdengar orang lain. Walaupun berjilbab namun suka masturbasi ternyata dia masih punya malu.<br />
15 menit setelah Bu Fira muslimah berjilbab yang “alim” itu keluar dari kamar mandi, aku selesai mandi. Kulihat foto hasil jepretanku tadi. Kulihat seeorang wanita manis berjilbab dengan tangan yang berada di vaginanya. Kulihat kakinya putih dan mulus sekali. Aku jadi ternagsang melihatnya.<br />
Sengaja kulewati ruang guru, kulihat Bu Fira masih di sana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Segera kuhampiri dia kemudian kuelus-elus jibab hitamnya.<br />
“Ngapain kamu!” dia menggertak Kutunjukkan fotonya saat bermasturbasi tadi, kulihat dia sangat syok. “kalo ibu tidak mau melayani saya, foto ini akan kusebar luaskan” ancamku sambil terus mengelus-elus jilbabnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Dia hanya terdiam tanpa kata-kata. Kujambak jilbabnya agar dia mengikutiku menuju ruang UKS. Sesampainya di sana pintu kukunci.<br />
“Ibu meskipun pakai jilbab ternyata libidonya tinggi yah” kataku. Kulihat air matanya hampir keluar. Segera kuperintah Bu Fira untuk mengoral kontolku. Dia menurutiku karena takut gambarnya tersebar. Kuusap-usap jilbab Bu Fira. Air matanya terlihat menetes membasahi jilbabnya. Namun aku tertawa penuh kemenangan sambil mengusap-usap jilbabnya. 15 menit kemudian kurasakan gejolak di penisku, tak mampu menahan lebih lama, spermaku keluar dengan deras. Karena kaget Bu Fira melepas kulumannya sehingga spermaku tidak hanya menodai wajah manisnya namun juga jilbabnya. Kulihat jilbabnya yang semula hitam polos kini ada motif putih karena spermaku. Namun aku belum puas. Kuperintahkan dia melepas semua bajunya namun tetap mamakai jilbabnya. Dan aku juga segera melepas bajukku. “impianku melihat Bu Fira berjilbab namun tidak berbusana akhirnya terpenuhi” kataku dalam hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Kulihat dugaanku tidak salah, bu Fira terlihat menantang walau telanjang tanpa melepas jilbabnya. Dadanya montok seolah minta untuk diemut. Segera kuraih dada kanannya dan kukulum dengan rakus.<br />
“ah..ah…ah..” walau kupaksa ternyata Bu Fira menikmatinya. Kulihat wajahnya di balik jilbab ketika sedang horny, hal itu segera membuatku “ON” lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Bu Fira kubaringkan di ranjang dalam UKS dan kuserbu mulut guru berjilbab itu dengan nafsunya. Sekitar 10 menit kulakukan hal itu. Kemudian kupandangi wajahnya yang masih terbalut jilbab manis sekali. Kemudian kusuruh dia menungging. Segera kutancapkan kontolku ke memeknya, rasanya semppit sekali. Kugenjot tubuh guruku sambil memegangi jilbab hitamnya. Seperti joki yang memacu kuda. Sekitar 20 menit kurasakan kontolku tidak kuat menahan sperma yang akan keluar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">“ah…………” aku berteriak bersamaan dengan keluarnya spermaku dalam memeknya. Setelah keluar semua. Kucopot jilbab guruku untuk membersihkan kontolku dan memeknya dari cairan yang keluar baik dari memeknya maupun dari kontolku. Terlihat rambutnya yang hitam sebahu yeang selama ini tersembunyidi balik jilbabnya. Aku sangat terangsang melihatnya, apalagi saat itu Bu Fira terlihat sangat menggairahkan dengan keringat di sekujur tubuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Setelah aku merasa masih mampu untuk mengocok bu Fira, kuminta dia untuk berbaring telentang. Tanpa membuang waktu segera kutusuk vaginanya. Dia terlihta sangat menikmati permainanku ini. Puas dengan posisi itu, gentian aku yang telentang, kemudian kuminta dia menggenjot kontolku dari atas. Jepitan vaginanya terasa enak sekali. Genjotannya yang liar membuatku tidak bisaertahan lama. Lima menit kemudian aku memuncratkan spermaku di lubang kenikmatan Bu Fira. Terlihat wajahnya yang manis menunjukkan ekspresi kepuasan.<br />
Sehabis itu kami ngobrol sebentar sambil memakai baju. Aku cukup penasaran mengapa tadi waktu kuentot tidak keluar darah, dari ceritanya aku tahu walau berjilbab,dulu Bu Fira pernah nge-seks dengan pacarnya sebelum pakai jilbab. Setelah itu kami segera keluar sekolah karena takut ketahuan orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Tak terasa terdengar adzan maghrib Bu Fira kulihat segera menuju tempat parkir dan menutupi jilbabnya yang penuh sperma dengan helm sepeda motor, mungkin dia malu bila ketahuan ada sperma di jilbabnya. Akupun segera pulang dengan penuh senyum kemenangan</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/surgadunia.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/surgadunia.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/surgadunia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/surgadunia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/surgadunia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/surgadunia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/surgadunia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/surgadunia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/surgadunia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/surgadunia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/surgadunia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/surgadunia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/surgadunia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/surgadunia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/surgadunia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/surgadunia.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=22&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://surgadunia.wordpress.com/2007/07/05/sore-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/201112ee97f0805487f43bf36143f1ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">surgadunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku dan Gadis Berjilbab Itu</title>
		<link>http://surgadunia.wordpress.com/2007/05/14/aku-dan-gadis-berjilbab-itu/</link>
		<comments>http://surgadunia.wordpress.com/2007/05/14/aku-dan-gadis-berjilbab-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2007 03:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>surgadunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surgadunia.wordpress.com/2007/05/14/aku-dan-gadis-berjilbab-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Saat itu aku sudah bekerja di sebuah LSM di kota B. Saat itu kantor kami menerima beberapa teman untuk magang dari sebuah univeritas islam negeri yang cukup ternama. Saat itu aku diminta untuk memberikan materi magang. Saat sedang memberikan materi aku melihat ada mahasiswi yang selalu tersenyum kepadaku. Tidak lama kemudia kamipun berkenalan. Namanya Iffa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=21&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Saat itu aku sudah bekerja di sebuah LSM di kota B. Saat itu kantor kami menerima beberapa teman untuk magang dari sebuah univeritas islam negeri yang cukup ternama. Saat itu aku diminta untuk memberikan materi magang. Saat sedang memberikan materi aku melihat ada mahasiswi yang selalu tersenyum kepadaku. Tidak lama kemudia kamipun berkenalan. Namanya Iffa, dia mahasiswi tingkat 4, orangnya cukup manis meski tidak begitu tinggi dan juga bekerja di sebuah LSM anak </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-21"></span><span style="font-family:Batang;">Singkat cerita aku mengajaknya untuk terlibat beberapa proyek di kantor kami. Akhirnya selain dia terlibat dalam magang, Iffa juga terlibat di beberapa proyek yang sedang aku kerjakan. Kedekatan kami waktu cukup intim, bahkan kami sempat salin mencuri pandang beberapa kali dan berkirim SMS. Pekerjaan yang selalu membuat kami dekat saat itu adalah pada saat hendak melakukan pemantauan untuk pemilihan presiden secara langsung yang pertama kali. Saat itu aku sering mengantarnya ke tempat kos, karena pekerjaan tersebut menyita waktu hingga malam hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Pada suatu malam, saat itu kami hanya berdua di kantor menyelesaikan beberapa persiapan untuk penyelenggaraan simulasi pemilu. Aku berkata ”fa dah malam nih, mau makan malam dulu nggak?” ”Mau mas” katanya. ”kita beli sate yuk, kamu tunggu sini, nanti aku pesankan yaa” lanjutku lagi ”baik mas” katanya. Saat itu aku bergegas pergi untuk membeli sate yang letaknya tidak jauh dari kantor. Dan saat kembali ke kantor, aku mencarinya karena kantor tidak terkunci dan kulihat di ruang rapat tidak ada siapapun. Aku pun menyiapkan piring dan minuman untuk kami berdua. ”Mas Farid sudah pulang toh” dia tiba-tiba keluar dari kamar mandi. ”iya nih, makan yuk” lanjutku. Saat itu, untuk pertama kalinya aku menatapnya lembut dan saat itu aku merasa bahwa aku ingin menikmati tubuhnya. Aku pun langsung memegang tangannya ”fa, aku pengen menikmati tubuhmu” kataku ”jangan mas” dia menolakku. Saat itu yang terpikir olehku adalah bagaimana menikmati tubuhnya, aku pun segera mendekap tubuhnya dan ”sudah kamu jangan melawan fa, nikmati aja” kataku ”jangggan maas” katanya memohon padaku. Saat itu aku sudah tidak peduli dengan permohonannya. Saat itu aku langsung </span><span style="font-family:Batang;">memegang kedua lengan bagian atas Iffa dengan cepat mulai membuka kancing-kancing depan baju terusan yang dikenakan Iffa. Badan Iffa hanya bisa menggeliat-geliat, &#8220;Jangan&#8230;, jangan lakukan itu!, stoooppp&#8230;, stoopppp&#8221;, akan tetapi Aku tetap melanjutkan aksiku. Sebentar saja baju bagian depan Iffa telah terbuka, sehingga kelihatan dadanya yang kecil mungil itu ditutupi dengan BH yang berwarna putih bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Perutnya yang rata dan mulus itu terlihat sangat mulus dan merangsang. Tangan kanan Aku bergerak ke belakang badan Iffa dan membuka pengait BH Iffa. Kemudian Aku menarik ke atas BH Iffa dan&#8230;, sekarang terpampang kedua buah dada Iffa yang kecil mungil sangat mulus dengan putingnya yang coklat muda agak tegang naik turun dengan cepat karena nafas Iffa yang tidak teratur. &#8220;Oooohh&#8230;, ooohh&#8230;, jaanggaannn&#8230;, jaannnggaann!&#8221;. Aku mulai mencium belakang telinga Iffa dan lidahnya bermain-main di dalam kuping Iffa. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan Iffa menggeliat-geliat dan tak terasa Iffa mulai terangsang juga oleh permainanku ini. Aku sengaja tidak melepas jilbabnya, karena aku ingin melihatnya telanjang dengan jilbab yang masih terpakai di kepalanya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Mulutku berpindah dan melumat bibirnya dengan ganas, badan Iffa yang tadinya tegang mulai agak melemas, kepala Iffa tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arahku, payudaranya yang kecil mungil tapi bulat kencang itu, seakan-akan menantangku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Aku langsung bereaksi, tangan kananku memegangi bagian bawah payudara Iffa, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Iffa yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutku. Buah dada Iffa yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulutku, Aku mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Terasa sesak napas Iffa menerima permainanku yang lihai itu. Badan Iffa terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan, &#8220;Sssshh&#8230;, ssssshh&#8230;, aahh&#8230;, aahh&#8230;, ssshh&#8230;, sssshh&#8230;, jangaann&#8230;, diiteeruussiinn&#8221;, mulut Aku terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan mejilat-jilat kedua puting buah dada Iffa secara bergantian selama kurang lebih lima menit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Badannya benar-benar telah lemas menerima perlakuanku ini. Aku melihat matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Dalam keadaan terlena itu tiba-tiba badan Iffa tersentak, karena dia merasakan tanganku mulai mengelus-elus pahanya yang terbuka karena rok panjangnya telah terangkat sampai pangkal pahanya. Iffa mencoba menggeliat, badan dan kedua kakinya digerak-gerakkan untuk mencoba menghindari tanganku tersebut beroperasi di pahanya, akan tetapi karena badan dan kedua tangannya terkunci olehku, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya dapat dilakukan oleh Iffa adalah hanya mengerang, &#8220;Jaanngaannnn&#8230;, jaannngggannn&#8230;, diitteeerruusiin&#8221;, akan tetapi suaranya semakin lemah saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Melihat kondisi Iffa seperti itu, Aku yang telah berpengalaman, yakin bahwa gadis ayu ini telah berada dalam genggamanku. Aktivitas tanganku makin ditingkatkan, terus bermain-main di paha Iffa yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan jariku menyentuh bibir kemaluannya. Segera badan Iffa tersentak dan, &#8220;aahh&#8230;, jaannggaan!&#8221;, mula-mula hanya ujung jari telunjuk Aku yang mengelus-elus bibir kemaluan Iffa yang tertutup CD, akan tetapi tak lama kemudian tangan kananku menarik CD Iffa dan memaksanya lepas dari pantatnya dan meluncur keluar di antara kedua kaki Iffa. Iffa tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindari perbuatanku ini. Sekarang Iffa dalam posisi duduk di atas meja dengan tidak memakai CD dan kedua buah dadanya terbuka karena BH-nya telah terangkat ke atas. Muka Iffa yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Tampa menyia-nyiakan waktu yang ada, Aku, dengan tetap mengunci kedua tangan Iffa, tangan kananku mulai membuka kancing dan retsliting celanaku, setelah itu dia melepaskan celana yang dikenakannya sekalian dengan CD-ku. Pada saat CD-ku terlepas, maka senjataku yang telah tegang sejak tadi itu seakan-akan terlonjak bebas mengangguk-angguk dengan perkasa. Aku agak merenggangkan badannya, maka terlihat oleh Iffa benda yang sedang mengangguk-angguk itu, badan Iffa tiba-tiba menjadi tegang dan mukanya menjadi pucat, kedua matanya terbelalak melihat benda yang terletak diantara kedua pahaku. Dari mulutnya aku mendengar jeritan tertahan, &#8220;Iiihh&#8221;, disertai badannya yang merinding. Aku menatap muka Iffa yang sedang terpesona dengan mata terbelalak dan mulut setengah terbuka itu, &#8220;Kau Cantik sekali Iffa&#8230;&#8221;, gumam Aku mengagumi kecantikan Iffa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Kemudian dengan lembut Aku menarik tubuh Iffa yang lembut itu, sampai terduduk di pinggir meja dan sekarang Aku berdiri menghadap langsung ke arah Iffa. Sambil memegang kedua paha Iffa dan merentangkannya lebar-lebar, Aku membenamkan kepalaku di antara kedua paha Iffa. Mulut dan lidahku menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan Iffa yang yang masih rapat, tertutup rambut halus itu. Iffa hanya bisa memejamkan mata dan berteriak &#8220;Ooohh&#8230;, nikmatnya&#8230;, ooohh!&#8221;, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian. &#8220;Ooooohh&#8230;, hhmm!&#8221;, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya. &#8220;Mass&#8230;, aku tak tahan lagi&#8230;!&#8221;, Iffa memelas sambil menggigit bibir. Tanganku yang melingkari kedua pantat Iffa, kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua payudara Iffa dengan sangat bernafsu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan olehku ini, Iffa benar-benar sangat kewalahan dan kemaluannya telah sangat basah kuyup. &#8220;Maasss&#8230;, aakkhh&#8230;, aakkkhh!&#8221;, Iffa mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus menjepit kepalaku untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambutku keras-keras. Aku melepaskan diri, kemudian bangkit berdiri di depan Iffa yang masih terduduk di tepi meja, aku menarik Iffa dari atas meja dan kemudian Aku gantian bersandar pada tepi meja dan kedua tangannya menekan bahu Iffa ke bawah, sehingga sekarang posisi Iffa berjongkok di antara kedua kakiku dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Iffa sudah tahu apa yang diinginkan olehku, namun tanpa sempat berpikir lagi, tanganku telah meraih belakang kepala Iffa dan dibawa mendekati kejantananku.<br />
Tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Iffa, kepala penisku telah terjepit di antara kedua bibir mungil Iffa, yang dengan terpaksa dicobanya dan dikulum alat vitalku ke dalam mulutnya. Ku lihat Iffa bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya. Rasanya sangat seksi melihat gadis yang sudah telanjang tapi masih memakai jilbab sedang menyedot penis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Beberapa saat kemudian Aku melepaskan diri, badannya yang ringan itu dan membaringkan di atas meja dengan pantatnya terletak di tepi meja. Kemudian Aku mulai berusaha memasuki tubuh Iffa. Tangan kananku menggenggam batang penis dan digesek-gesekkan pada clitoris dan bibir kemaluan Iffa, hingga Iffa merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Aku terus berusaha menekan senjataku ke dalam kemaluan Iffa yang memang sudah sangat basah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Pelahan-lahan kepala penisku menerobos masuk membelah bibir kemaluan Iffa. Dengan kasar Aku tiba-tiba menekan pantatku kuat-kuat ke depan sehingga pinggulku menempel ketat pada pinggul Iffa. Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Iffa terdengar jeritan halus tertahan, &#8220;Aduuuh!.., ooooooohh.., aahh&#8221;, disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Iffa mencengkeram dengan kuat pinggangku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Beberapa saat kemudian aku mulai menggoyangkan pinggulku, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat dan bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Iffa berusaha memegang lenganku, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan penisku pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas meja. Iffa mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajahku, dengan takjub. Iffa berusaha bernafas dan …:&#8221; &#8220;Mass&#8230;, aahh&#8230;, ooohh&#8230;, ssshh&#8221;, sementara aku tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Iffa sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Aku menggerakkan tubuhku, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya. Setiap kali aku menarik penisnya keluar, dan menekan masuk penisku ke dalam vagina Iffa, maka klitoris Iffa terjepit pada batang penisku dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penisku yang berurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan Iffa menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Aku tersebut terus menyetubuhi Iffa dengan cara itu. Sementara tanganku yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian dada Iffa dan meremas-remas kedua payudara Iffa secara bergantian. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuatku segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi aku terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.<br />
Ia memiringkan kepalanya, dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, &#8220;Ooooh&#8230;, ooooooh&#8230;, aahhmm&#8230;, ssstthh!&#8221;. Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan&#8230;, akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Iffa terkulai lemas tak berdaya di atas meja dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penisku tetap terjepit di dalam liang vaginanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Selama proses orgasme yang dialami Iffa ini berlangsung, memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan olehku, dimana penisku yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang vagina Iffa dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang penisku serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut seluruha penisku, terlebih-lebih pada bagian kepala penisku setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Iffa, yang diakhiri dengan siraman cairan panas. Perasaanku seakan-akan menggila melihat Iffa yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning langsat mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Aku membalik tubuh Iffa yang telah lemas itu hingga sekarang Iffa setengah berdiri tertelungkup di meja dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arahku. Aku ingin melakukan doggy style, tanganku kini lebih leluasa meremas-remas kedua buah payudara Iffa yang kini menggantung ke bawah. Dengan kedua kaki setengah tertekuk, secara perlahan-lahan aku menggosok-gosok kepala penisku yang telah licin oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam vagina Iffa dan menempatkan kepala penisku pada bibir kemaluan Iffa dari belakang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Dengan sedikit dorongan, kepala penisku tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluan Iffa. Kedua tanganku memegang pinggul Iffa dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan Iffa tidak terletak pada meja lagi, hanya kedua tangannya yang masih bertumpu pada meja. Kedua kaki Iffa dikaitkan pada pahaku. Kutarik pinggul Iffa ke arahku, berbarengan dengan mendorong pantatnya ke depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Iffa, &#8220;Oooooooh!&#8221;, penisku tersebut menerobos masuk ke dalam liang vaginanya dan Aku terus menekan pantatnya sehingga perutnyaku menempel ketat pada pantat Iffa yang setengah terangkat. Aku memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutku mendesis-desis keenakan merasakan penisku terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang vagina Iffa yang ketat itu.<br />
Kemudian Aku merubah posisi permainan, dengan duduk di kursi yang tidak berlengan dan Iffa kutarik duduk menghadap sambil mengangkang pada pangkuanku. Aku menempatkan penisku pada bibir kemaluan Iffa dan mendorongnya sehingga kepala penisnya masuk terjepit dalam liang kewanitaan Iffa, sedangkan tangan kiriku memeluk pinggul Iffa dan menariknya merapat pada badanku, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti penisku menerobos masuk ke dalam kemaluan Iffa. Tangan kananku memeluk punggung Iffa dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan Iffa melekat pada badanku. Kepala Iffa tertengadah ke atas, pasrah dengan matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya sehingga dengan bebasnya mulutku bisa melumat bibir Iffa yang agak basah terbuka itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Iffa mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga penisku seakan mengaduk-aduk dalam vaginanya sampai terasa di perutnya. Tak berselang kemudian, Iffa merasaka sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya. Terus&#8230;, terus&#8230;, Iffa tak peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang memekik lirih menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu datang lagi, Iffa tak peduli lagi, &#8220;Aaduuuh&#8230;, eeeehm&#8221;, Iffa memekik lirih sambil menjambak rambutku memeluknya dengan kencang itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuanku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Kemudian kembaliku gendong dan meletakkan Iffa di atas meja dengan pantat Iffa terletak pada tepi meja dan kedua kakinya terjulur ke lantai. Aku mengambil posisi diantara kedua paha Iffa yang kutarik mengangkang, dan dengan tangan kananku menuntun penisku ke dalam lubang vagina Iffa yang telah siap di depannya. Aku mendorong penisku masuk ke dalam dan menekan badannya. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Iffa yang terkapar lemas di atas meja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan penisku. Iffa benar-benar telah KO dan dibuat permainan dan benar-benar tidak berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu, kedua tangannya mencengkeram tepi meja untuk menjaga keseimbangannya. Dan aku sekarang merasa sesuatu dorongan yang keras seakan-akan mendesak dari dalam penisku yang menimbulkan perasaan geli pada ujung penisku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Aku mengeram panjang dengan suara tertahan, &#8220;Agh&#8230;, terus&#8221;, dan pinggulku menekan habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu, sehingga buah pelirku menempel ketat dan batang penisku terbenam seluruhnya di dalam liang vagina Iffa. Dengan suatu lenguhan panjang, &#8220;Sssh&#8230;, ooooh!&#8221;, sambil membuat gerakan-gerakan memutar pantatnya, aku merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh semprotan air maninya ke dalam vagina Iffa. Ada kurang lebih lima detik aku tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut, dengan seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Iffa yang telah terkapar lemas tak berdaya itu merasakan suatu semprotan hangat dari pancaran cairan kental hangat ku yang menyiram ke seluruh rongga vaginanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Aku melihatnya lemas dengan jilba yang sudah nggak keruan bentuknya lagi dan aku berkata, supaya lain kali dia pasrah saja dan nggak perlu melawan, aku melihatnya mengangguk sedih sambil menangis. Dalam ahti aku berkata, maafkan aku fa yang telah merenggut keperawananmu</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/surgadunia.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/surgadunia.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/surgadunia.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/surgadunia.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/surgadunia.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/surgadunia.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/surgadunia.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/surgadunia.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/surgadunia.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/surgadunia.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/surgadunia.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/surgadunia.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/surgadunia.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/surgadunia.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/surgadunia.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/surgadunia.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=21&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://surgadunia.wordpress.com/2007/05/14/aku-dan-gadis-berjilbab-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/201112ee97f0805487f43bf36143f1ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">surgadunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku dan Bekas Wali Kelasku</title>
		<link>http://surgadunia.wordpress.com/2007/05/10/aku-dan-bekas-wali-kelasku/</link>
		<comments>http://surgadunia.wordpress.com/2007/05/10/aku-dan-bekas-wali-kelasku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 03:59:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>surgadunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surgadunia.wordpress.com/2007/05/10/aku-dan-bekas-wali-kelasku/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah pulang sekolah, aku bergegas mandi dan segera pergi ke rumah bu maria. Di tengah jalan aku melihat tante diana sedang berdiri di depan pagar bersama suaminya. Dia menyapaku dan bertanya hendak kemana, saat itu aku menjawab mau les matematika di rumah bu maria. Dia tersenyum nakal padaku dan memintaku untuk bertanya pada bu maria [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=20&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Setelah pulang sekolah, aku bergegas mandi dan segera pergi ke rumah bu maria. Di tengah jalan aku melihat tante diana sedang berdiri di depan pagar bersama suaminya. Dia menyapaku dan bertanya hendak kemana, saat itu aku menjawab mau les matematika di rumah bu maria. Dia tersenyum nakal padaku dan memintaku untuk bertanya pada bu maria apakah bu maria bersedia memberikan les matematika di rumahnya. Aku menangguk dan segera pergi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-20"></span><span style="font-family:Batang;">Sesampainya di rumah bu maria, aku langsung membuka pintunya yang tidak terkunci. Aku langsung masuk dan mengunci pintu rumahnya. Bu maria bertanya apakah aku yang datang, aku jawab iya. Tak lama dia keluar dari kamarnya dan bertanya “farid, apakah harus begini?” </span><span style="font-family:Batang;">Oiya bu, karena saya pengen juga olahraga sama bu maria” jawabku. Dia pun mengangguk sambil tersenyum lemah. Di aberjalan ke arah kamar sambil menggandeng tanganku. Sesampainya di kamar dia melucuti baju dan celanaku. Saat dia turunkan celanaku, burungku langsung keluar dan bu maria langsung memegangnya sambil bertanya ”ini mau diapain rid” aku menjawab ”langsung diemut aja bu, dijilat, seperti yang ibu lakukan sama pak john” dia terkejut sambil bertanya ”kamu lihat semuanya yaa” ”betul bu, bahkan sampai titit pak john masuk ke punya ibu” jawabku ”saya mau persis seperti itu bu” lanjutku lagi. ”baiklah, kalau begitu” katanya . Tak lama dia memegang dan menjilati seluruh batang tititku. Lidahnya terus menerus naik turun sambil sesekali memasukkan seluruh tititku ke dalam mulutnya. ”terrrusss bbbu&#8230;.aaarggggggghhhh, enak&#8230;.” kataku ”sekarang stop dulu, buka baju ibu” perintahku. Bu maria pun segera membuka bajunya ”sama sekalian bh dan celana dalamnya” perintahku lagi saat dia ragu untuk membuka underwearnya itu. Saat dia membuka behanya, nampak kedua payudara menggantung besar dan montok itu, aku segera memegang dan mencium payudara yang membulat itu. Dia berteriak perlahan dan mendesis ”farrrid..eennnakkk teeerrruuus” tak lama tangan bu maria pun aku tarik untuk memijat tititku. Tanganku yang satu memegang vagina yang agak sedikit berbulu. Bu maria mendesah perlahan dan mempercepat gerakan tangannya. Tiba-tiba dia berkata ”farid, cepat kamu masukkan punya kamu”. Bu maria merebahkan diri dan membuka kedua pahanya. Aku segera mengarahkan senjataku ke lubang vaginanya. ”pelan-pelan rid” katanya, saat masuk bu maria menggeram perlahan ”aaahhhh eeennnnak” aku pun segera melanjutkan pekerjaanku naik turun di atas tubuh bu maria dan aku pun segera mencium dan menghisap payudaranya yang bulat itu. ”aaah faaariiiid” katanya. ”buuu, nanti sperma saya diminum yaa” kataku ”ok rrrrriiiiddd, aaaahhhhh eeennnnnaaaak”. Aku melihat bu maria melem melek menahan genjotanku yang makin kencang. ”bu, sekarang ibu diatas yaa, kita ganti posisi” kataku. Aku pun segera rebahan di kasur dan bua maria langsung mengarahkan vaginanya di atas tititku dan memasukkannya secara perlahan. Bu maria pun naik turun dia atas badanku. ”ffffaaarrriiiid, arrrrrgggghhhh ennnakkk” dia semakin kencang naik turun di atas tubuhku. ”faarrriiiddd aku mau kelllluuuarr nih” tiba – tiba aku merasa seluruh batang tititku hangat di dalam vaginanya. Bu maria langsung kemudian menghisap dan menjilati kembali seluruh tititku. ”Bu, aku mau kelllluarrr nnniiihh” kataku ”kamu berdiri ke rid” kata bu maria dan pun segera berdiri dan bu maria jongkok di hadapanku. Saat itu aku merasa wajahnya seksi sekali, tangannya aktif sekali maju mundur dan mulutnya nggak ketinggalan menghisap maju mundur. Tiba-tiba spermake kleuar dan tumpah ke seluruh wajah bu maria. ”punyamu kental sekali rid” katanya sambil tersenyum dan menjilati sisa sperma di tititku. Setelah selesai membersihkan tititku dengan lidahnya, bu maria berdiri dan memakaikan bajuku. Saat memakaikan bajuku aku sempat menghisap payudara yang montok sesaat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Setelah kami berdua selesai, bu maria berkata “sudah ya rid, habis nggak ada lagi kan” katanya sambil tersenyum ”enggak bu” kataku. Bua maria tersenyum senang sekali ”tapi&#8230;” kataku ”tapi kenapa rid” tanyanya cemas dan senyumnya hilang ”tante diana tetangga depan saya minta ibu memberikan les matematika yang seperti tadi bu” lanjutku ”bbbaiik rid” katanya lemas ”kapan?” tanyanya lagi aku menjawab ”esok pagi aja bu, bisa kan” kataku ”iiyyaa deh, tapi kamu cuma bilang ke tante diana kan” tanyanya lagi ”iya bu, tenang saja” jawabku. Aku pun segera bergegas pergi meninggalkan rumahnya dan mampir sebentar ke rumah tante diana untuk memberitahukan bahwa besok bu maria akan datang membicarakan les matematika. Saat itu tante diana yang mengangguk setuju dan tersenyum sambil berbisik ”besok kamu punya empat gunung yang bisa dihisap rid”. Aku pun tersenyum sambil pamit dari rumahnya</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/surgadunia.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/surgadunia.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/surgadunia.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/surgadunia.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/surgadunia.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/surgadunia.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/surgadunia.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/surgadunia.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/surgadunia.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/surgadunia.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/surgadunia.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/surgadunia.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/surgadunia.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/surgadunia.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/surgadunia.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/surgadunia.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=20&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://surgadunia.wordpress.com/2007/05/10/aku-dan-bekas-wali-kelasku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/201112ee97f0805487f43bf36143f1ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">surgadunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengalamanku dengan Istri Tetanggaku (bagian II)</title>
		<link>http://surgadunia.wordpress.com/2007/04/24/pengalamanku-dengan-istri-tetanggaku-bagian-ii/</link>
		<comments>http://surgadunia.wordpress.com/2007/04/24/pengalamanku-dengan-istri-tetanggaku-bagian-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 02:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>surgadunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surgadunia.wordpress.com/2007/04/24/pengalamanku-dengan-istri-tetanggaku-bagian-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Sejak peristiwa itu, aku selalu tidak bisa tidur, pikiranku kacau dan terus menerus melayang ke tante diana. Namun pada saat yang sama aku juga nggak berani pergi ke rumah tante diana. Sudah dua minggu sejak kejadian itu di rumah tante diana, aku nggak pergi main ke rumahnya. Sore itu, aku hendak pergi ke rumah temanku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=18&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Sejak peristiwa itu, aku selalu tidak bisa tidur, pikiranku kacau dan terus menerus melayang ke tante diana. Namun pada saat yang sama aku juga nggak berani pergi ke rumah tante diana. Sudah dua minggu sejak kejadian itu di rumah tante diana, aku nggak pergi main ke rumahnya. Sore itu, aku hendak pergi ke rumah temanku si frans. Saat itu hari sudah malam, aku berjanji ke sana untuk mengerjakan tugas sekolah bersama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-18"></span><span style="font-family:Batang;">Saat pulang dari rumah Frans, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WITA. Aku berjalan melewati sekolahku waktu SD saat pulang, karena rumah frans terletak persis di belakang sekolah. Saat melewati rumah bekas walikelasku, aku mendengar suara ah-uh di rumah tersebut. Karena halaman sekolah gelap dan hanya rumah itu yang agak terang, tidak sulit untuk menuju kesana. Aku mencoba mencari tahu, darimana suara itu berasal, ternyata suara tersebut berasal dari salah satu kamar yang dari luar terlihat lampu yang agak temaram. Aku mencoba mengintip apa yang terjadi, dari sebuah lubang angin di atas jendela kamar tersebut. Aku berhasil memanjat dan mengintip, ternyata aku lihat bekas guruku, ibu maria sihombing sedang telanjang bersama seorang laki-laki yang bukan suaminya. </span><span style="font-family:Batang;">Saat melihat itu, aku hanya bisa diam dan meneruskan menonton. Aku melihat orang tersebut sedang jongkok dan menciumi vaginanya sambil kedua tangannya meraih payudara ibu maria yang cukup besar dan bulat. Cukup lama juga perbuatan tersebut dilakukan lelaki itu, nggak lama kemudian lelaki tersebut berdiri dan merebahkan ibu maria di tempat tidur, dia mengarahkan penisnya ke vagina ibu maria, ibu maria berteriak perlahan dan berkata, ”pelan-pelan john”, waduh ternyata itu adalah bekas guru olahragaku pikirku, ”punyamu besar sekali” lanjut ibu maria dan selanjutnya pak john menggenjot ibu maria sampai kemudian dia keluarkan penisnya dari ibu maria dan ibu maria kemudian meraih penis pak john untuk dihisap. Pak john kemudian berkata ”aku mau keluar maria”, ”keluarkan saja john” kata bu maria. Crot-crot dan keluar cairan itu di mulut bu maria, Waduh pikirku sambil tidak konsentrasi karena tititku tegang, pergi saja deh, saat aku pergi tiba-tiba aku jatuh. </span><span style="font-family:Batang;">Suara jatuh itu mungkin mengejutkan pak john dan bu maria karena tiba-tiba ada suara gaduh dari kamar tersebut. Lari nih, sebelum ketangkap pikirku saat itu. Saat sedang lari, tiba-tiba tante diana memanggilku dan bertanya ada apa. Aku tidak bisa menjawab saat itu. ”Farid, kenapa tititmu menonjol? Habis mengintip siapa kamu?” tanya tante diana dengan penuh selidik. ”ini tante saya nggak sengaja melihat ibu maria sama pak john sedang begituan di rumahnya” jawabku ”punya saya tegang banget sampai pas selesai lihat saya nggak sengaja jatuh” kataku lagi. ”ya sudah ke sini aja biar di pijat yaa, ditunggu yaa, agak pagian kalau bisa datangnya” kata tante diana ”bbbb&#8230;aik tante” jawabku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Esok paginya sekitar pukul 8.00 aku bersiap berangkat, Ibuku heran aku berangkat sepagi itu ke sekolah, aku bilang kalau ada tugas di sekolah. Aku pun berangkat dan bergegas untuk ke rumah tante diana. Kali ini ternyata di rumah tante diana, cuma ada dia seorang. ”kemarin siapa ibu maria dan pak john itu rid” tanya tante diana ”bekas wali kelasku dan bekas guru olahragaku tante” jawabku ”memang bu maria sudah punya suami yaa” tanyanya lagi, ”sudah tante” jawabku ”ya sudah, yuk sini tante pijat, cepat buka bajumu rid” perintah tante diana. Aku pun bergegas membuka baju dan kulihat tante diana pun membuka baju. Saat itu kulihat vagina tante diana bersih banget nggak ada rambut sehelai pun, payudarapun terlihat pada, bulat, dan montok. ”Kemarin yang kamu lihat seperti apa rid” tanya tante diana ”yang mana tante” tanyaku lagi, ”itu loh yang kamu intip” jawab tante diana. ”oh aku lihat punya bu maria dimasuki oleh tititnya pak john tante” jawabku ”oh gitu yaa” kata tante diana. Dia mengambil baby oil ke kamarnya dan memintaku tiduran di ruang tivi itu. Dia nggak lama memijat tititku yang sudah tegang itu sambil berkata ”nggak baik mengintip itu rid, nanti membuat kita pusing”. Aku terdiam dan mengangguk. Sambil terus mengurut, aku pun berusaha memegang payudaranya. Payudaranya aku pijat dengan lembut. Tiba tiba tante diana mendekatkan kepalaku ke payudaranya dan ”farid sedot susu tante yaa” aku pun menyedotnya ”aahh eennnak bangget sedotanmu rid” kata tante diana. Aku pun bersemangat menyedot susunya. Sambil menyedot aku memainkan lidahku diantara puting susunya. ”aaahh terus rid, ya gitu terus jilat yaaa” kata tante diana. Setelah lama menyedot dan menjilat susu tante diana, dia melepaskan kepalaku dan berbaring sambil membuka kedua pahanya. ”Farid coba cium dan jilat vagina tante yaa” pintanya. Aku pun segera menunduk serta langsung mencium sekaligus menjilati vaginanya, wah enak banget pikirku ”arrrrgg farid, terus” katanya meracau sambil memegang kepalaku. </span><span style="font-family:Batang;">Kedua pahanya pun ikut menjepit pahaku. Saat itu aku teringat pada kejadian pak john yang menjilati vagian bu maria sambil memegang payudara bu maria, akupun langsung memegang payudara tante diana sambil terus menjilati vaginanya. ”farid ennnnaaaak oooh” teriaknya, aku lihat dia menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil terus teriak-teriak. Tante diana tiba-tiba menjauhkan kepalaku saat aku masih asyik sambil terengah-engah dia berkata ”farid sini tante pijat tititmu yaa” katanya ”tapi pijatnya pakai itu ya tante” jawabku sambil menunjuk ke arah vaginanya. Dia pun tersenyum sambil merebahkan diri dan membuka pahanya ”masukkan punyamu rid, biar vagina tante yang pijat titit kamu” perintahnya aku pun menurut dan memasukkan tititku ke vaginanya ”faird, oooohhhh eeennnaknya tititmu sayang” katanya meracau lagi, aku pun asyik memompa vaginanya naik turun, sambil memompa aku pun menghisap dan menjilati susunya. ”tan, ennnnak bangeeeet nih” kataku. ”terrrus rid” katanya ditengah-tengah saat asyik mempompa vaginanya, Tante diana tiba-tiba menjepit tititku dengan vaginanya, aku berteriak ”tanteeee pijatannya ennnnakk arggghhhh” kataku ”terus rrriiid, yang kencang” perintahnya. Aku pun menuruti perintahnya sambil mengintip ke luar kamar ternyata rini sudah pergi. Saat sedang asyik aku merasa sesuatu akan keluar dari tititku, aku berteriak ”tante, tititku rasanya mau pipis tante” kataku tante dianapun kemudian mendorong tubuhku hingga tertidur dan kemudian menghisap kuat tititku, dan tiba-tiba seluruh tubuhku lemas. Kulihat tante diana menjilati seluruh batang tititku dengan nyamanya dan sambil mulutnya belepotan cairan putih seperti susu yang kental. ”Ennak banget spermamu rid” katanya, saat itu aku baru tahu kalau cairan putih seperti susu itu namanya sperma. ”tante kenapa nggak boleh keluarkan sperma di selain di mulut tante?’ tanyaku polos ”karena nanti tante bisa hamil rid” jawabnya sambil tersenyum. ”enakkan rid pijatan tante” tanyanya ”enak tante, sampai farid lemas” ”namanya juga habis dipijat, pasti lemas seluruh urat rid” kata tante diana ”nah sekarang kamu pergi mandi dulu gih yuk sama tante” katanya ”baik tante” kataku. Aku pun dimandikan tante diana di kamar mandinya, dia kembali menyabuni seluruh tubuhku. Tititku kembali disabuni dan langsung tegang, ”hebat kamu rid, punyamu tegang lagi tuh” tante hisap lagi yaa” pintanya memelas sambil jongkok, ”iya tante” jawabku. Tak lama kemudian kulihat mulut tante diana maju mundur di tititku dan sesekali tititku di jilati dibagian kepala, batang, dan kedua telurku. Cukup lama juga kepala dan lidahnya bermain di tititku, sampai spermaku kemudian muncrat kembali. Tante diana pun kembali menghisap habis sperma ”errrhm enak banget nih” katanya sambil tersenyum. Aku pun tersenyum dia membasuh badanku dan memberikan handuk untukku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Sambil mengeringkan badan dan memakai baju, tante diana memberikan kecupan sambil berkata ”belajar yang benar yaa rid, nanti kalau capek, kamu kesini lagi, nanti tante kasih hadiah yang buat farid” ”iya tante, tapi jangan lupa hadiahnya yaa” jawabku ”oke dua hari lagi kamu kesini yaa” jawab tante diana ”baik tante” jawabku dan kemudian langsung pergi ke sekolah. Akupun pergi ke sekolah dengan menggunakan bis saat itu sudah pukul 11 siang, ternyata tiga jam sudah berlalu pikirku. Saat sedang melamun tiba-tiba di sampingku duduk seorang ibu yang ternyata ibu maria. ”wah farid, mau kesekolah yaa” tanyanya ramah ’iya bu”jawabku. Tak lama kemudian aku terlibat pembicaraan dengan ibu maria. Aku pun menanyakan kenapa pak john sering ke rumah bu maria. Saat itu bu maria menjawab kalau itu untuk memberikan pelajaran olahraga. ”tapi bu kalau olahraga harus pakai telanjang berdua di kamar yaa?’ bisikku. ”Apalagi selalu waktu suami ibu tidak ada dirumah” lanjutku lagi. Muka bu maria langsung memerah dan memohon agar aku tidak menceritakannya pada siapapun. Aku menyanggupi permintaannya tetapi dengan syarat dia mau mengajariku olahraga telanjang. ”kamu kan masih kecil rid” katanya terkejut. ”aku pun menjawab enteng ”kalau nggak mau ya sudah, nanti saya kabari suami ibu” Dia pun menyetujui permintaanku dengan lemah. Saat itu aku langsung memintanya untuk melakukannya malam ini dan bergegas turun dari bis sambuil tersenyum ke arahnya</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/surgadunia.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/surgadunia.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/surgadunia.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/surgadunia.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/surgadunia.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/surgadunia.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/surgadunia.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/surgadunia.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/surgadunia.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/surgadunia.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/surgadunia.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/surgadunia.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/surgadunia.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/surgadunia.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/surgadunia.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/surgadunia.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=18&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://surgadunia.wordpress.com/2007/04/24/pengalamanku-dengan-istri-tetanggaku-bagian-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/201112ee97f0805487f43bf36143f1ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">surgadunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengalamanku dengan Istri Tetanggaku (bagian I)</title>
		<link>http://surgadunia.wordpress.com/2007/04/24/pengalamanku-dengan-istri-tetanggaku-bagian-i/</link>
		<comments>http://surgadunia.wordpress.com/2007/04/24/pengalamanku-dengan-istri-tetanggaku-bagian-i/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 02:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>surgadunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surgadunia.wordpress.com/2007/04/24/pengalamanku-dengan-istri-tetanggaku-bagian-i/</guid>
		<description><![CDATA[Saat itu pada 1991, aku masih kelas 6 SD, baru saja pindah ke Dilli, Timor Leste. Saat baru pindah, keluargaku mengadakan acara syukuran. Beberapa tetangga kami hadir untuk mengucapkan selamat datang. Pada saat sedang menyiapkan minum, aku dipanggil oleh ibuku untuk menyambut tamu yang baru datang. Om Pudjo (bekerja di Dept PU), tamu yang baru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=17&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Saat itu pada 1991, aku masih kelas 6 SD, baru saja pindah ke Dilli, Timor Leste. </span><span style="font-family:Batang;">Saat baru pindah, keluargaku mengadakan acara syukuran. Beberapa tetangga kami hadir untuk mengucapkan selamat datang. Pada saat sedang menyiapkan minum, aku dipanggil oleh ibuku untuk menyambut tamu yang baru datang. Om Pudjo (bekerja di Dept PU), tamu yang baru datang itu, datang bersama Tante Diana dan anaknya Rini. </span><span style="font-family:Batang;">Diam-diam aku memperhatikan anaknya Rini yang cantik itu, eh ternyata ibunya juga cantik. Singkat cerita ayahku dan ibuku bercerita kepada mereka kalau aku menyukai membaca buku. Tante Diana membalas kalau Rini (pada saat itu masih kelas 5 SD) juga mempunyai banyak buku dan juga senang membaca seraya memintaku untuk kapan-kapan datang ke rumah mereka yang ternyata letak rumahnya cuma selemparan batu dari rumahku. </span><span style="font-family:Batang;">Akhirnya pestapun usai, dan kami pergi beristirahat karena hari sudah malam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-17"></span><span style="font-family:Batang;">Singkat cerita, aku sering bermain ke rumah Rini setelah pulang sekolah, dan ternyata dia penggemar komik, sesuatu yang langka untuk di dapat saat itu di Dilli. Aku dan Rini sering bertukar pinjam buku komik. Saat aku masuk kelas 1 SMP dan Rini masih kelas 6 SD, aku jarang mampir ke rumah Rini lagi karena aku masuk siang dan Rini masuk pagi. Otomatis hanya pada Sabtu kami bisa bermain bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Suatu hari, masih pagi sekira pukul 8, aku diminta ibuku untuk mengantarkan kue ke rumah Rini. </span><span style="font-family:Batang;">Aku pun pergi ke rumah Rini. Ternyata yang membuka pintu Tante Diana. Tante Diana masih mengenakan daster pagi itu. Sebagai gambaran daster itu sangat tipis dan menerawang ke dalam, tentu saja aku terpana melihat Tante Diana yang meski sudah berumur 31 tahun ternyata masih tetap cantik dan seksi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">”Ada apa farid” tanya tante Diana, ”ini Tante, kue dari mama” jawabku. ”Masuk dulu farid biar ditukar tempatnya, kenapa jarang main kesini lagi rid” tanya Tante Diana ”Habis Rininya nggak ada Tante” jawabku ”ya sudah masuk dulu deh, tivi yaa” jawab Tante. Aku masuk sambil mengikuti Tante Diana dari belakang dan aku tak bisa melepaskan pandangan mataku dari tubuhnya. Wah ternyata dia nggak pake bra pikirku. Aku pun duduk sambil menyalakan tivi, dan tante Diana masuk ke dapur untuk mengganti tempat kuenya, tak lama kudengar dia menyuruh pembantunya untuk pergi ke pasar lama membeli sesuatu. Saat sedang asyik nonton, tiba-tiba tante Diana membungkuk di depanku untuk membereskan mainan dan perlengkapannya Rini yang tergeletak berantakan di ruang tivi. Tanpa sengaja aku melihat kedua buah dada yang menggantung karena tidak ditopang bra, waduh besar sekali pikirku. Cukup lama tante Diana seperti itu dan kemudian berdiri lagi sembari tersenyum dan berkata ”Farid tunggu dulu yaa, kamu baca-baca sambil nonton tivi, tante mandi dulu yaa” ”jangan tante, saya pulang dulu nanti dicari mama” kataku. Ternyata tante diana malah menelpon ibuku dan bilang aku hendak main dulu di rumahnya dan sepertinya ibuku tidak keberatan. ”Tante sudah bilang mamamu dan kamu boleh main disini dulu” kata tante Diana ”iya tante” jawabku. Nggak lama kemudian tante diana mandi dan dari dalam kamar mandi memintaku untuk mengambilkan handuknya tertinggal di jemuran pakaian di luar. Aku pun bergegas mengambil handuknya, aku mengetuk pintu kamar mandinya dan Tante Diana membuka pintunya yang membuatku tertegun, karena melihat Tante Diana telanjang dan mengambil handuk yang masih kupegang sambil tersenyum dan menutup pintu kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Waduh pikirku, toketnya gede, padet, mulus lagi, tititku langsung tegang saat itu, waduh nonton tivi aja deh pikirku yang masih polos itu. Saat aku nonton tivi Tante Diana keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang terlilit. Aku melihat ke arah kamar mandi sambil berharap dia telanjang lagi, ternyata tante Diana malah berjalan ke arahku sambil mematikan tivi. Tiba-tiba handuknya melorot (atau sengaja dipelorotkan), aku pun berteriak tante handuknya copot tuh. Dia berpaling ke arahku sambil tersenyum dan jongkok sambil berkata ”bukannya kamu senang melihat tante telanjang”. Wah, aku terdiam dan terpana, ”kenapa bengong, sini ikut tante ke kamar”. ”iya tante” jawabku. Dan aku mengikutinya ke kamarnya. ”Farid sini lepas dulu celanamu yaa”, sambil melepaskan celana pendekku, ”biar enak” katanya. ”Duduk di atas kasur” pintanya dan akupun duduk diatas kasurnya yang luas itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">”Tititmu kenapa Farid, kok berdiri gitu sih” tanya Tante Diana, Tiba-tiba tangan Tante Diana meraih tititku sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya. ”En&#8230;enggak tahu tante” jawabku . ”Ya sudah tante pijat biar lemas yaa” jawab Tante Diana ”Iiiyyyya Tante” jawabku. ”Tiduran kalau gitu rid” kata tante Diana, akupun tiduran dan tante diana kemudian mengambil baby oil dan menuangkannya ke tangannya yang halus untuk memijat tititku memakai baby oil itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Batang;">Sambil duduk Tante Diana kemudian membelai lembut tititku dan mengurutnya perlahan lahan. ”tante kenapa sih tititku harus dipijat” tanyaku polos sambil keenakan. ”Farid, urat yang tegang di badan itu harus dipijat biar lemas” ujarnya lembut. ”begitu juga dengan punyamu ini, kalau nggak dipijat nanti tegang terus” ujarnya lagi.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Batang;">Aku terus memandangi payudaranya yang tergantung indah itu, sambil takut aku bertanya apakah aku boleh memijat payudaranya dengan memakai baby oil, ternyata Tante Diana mengangguk sambil tersenyum. Kamipun terlibat saling memijat, aku memijat payudaranya yang indah dan Tante Diana memijat punyaku. Aku lihat tante diana merem melek sambil sambil berteriak ”uh&#8230;terus..farid&#8230;.ennn&#8230;ak”. Tiba-tiba tante Diana menepis tanganku yang sedang asyik memijat toketnya yang besar itu dan langsung medunduk dan menjilati tititku. ”Aduh tante&#8230;enak banget”. Sambil tersenyum, dia bertanya ”Enak mana dipijat sama tangan atau dipijat sama mulut rid”, ”sama mulut tante” jawabku spontan. ”farid mau dipijat mau mulut tante aja” kataku lagi. Tante Diana kemudian langsung menghisap tititku dengan semangat. Aku melihat kepalanya naik turun diatas tititku sambil matanya terpejam. Tante Diana memperlakukan tititku seperti sedang menjilat es krim. Sebentar menghisap dan menjilat, sebentar memijat tititku pakai tangannya yang halus itu. Cukup lama tante diana menghisap, menjilat, dan memijat tititku. Aku merasa saat ingin ingin pipis ”tante aku ingin pipis nih, sudah dong” Tante Diana bukannya melepaskan mulutnya dari tititku malah menghisap tititku kuat-kuat dan mempercepat gerakannya. Dia memegangi pinggulku sehingga aku cuma mampu berteriak ”aduuuh tante, sudah, aku mau pipis nih”. Tiba-tiba seluruh badanku rasanya tergetar dan dari tititku rasanya keluar sesuatu yang berbeda dari rasa pipis yang selama ini aku rasakan. Tante Diana pun menghisap habis seluruh cairan yang keluar dari tititku. Sesudah tak tersisa lagi cairan dari tititku, dia bertanya kepadaku yang sedang tergolek lemas. ”gimana farid, dah lemas kan sekarang, nggak tegang lagi?” ”iya tante” jawabku. ”nah, untuk sekarang cukup yaa, nanti kalau punyamu tegang lagi, Farid kesini aja, nanti tante pijat” katanya ”iya tante” jawabku ”nanti kalau ditanya mama, bilang kamu mau baca buku atau apa aja lah, yang penting mamamu nggak tahu, jangan ada siapapun yang tahu yaa” ujarnya lagi ”baik tante” jawabku. Saat itu aku langsung memakai pakaian dan bergegas pulang untuk segera bersiap-siap ke sekolah</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/surgadunia.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/surgadunia.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/surgadunia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/surgadunia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/surgadunia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/surgadunia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/surgadunia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/surgadunia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/surgadunia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/surgadunia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/surgadunia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/surgadunia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/surgadunia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/surgadunia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/surgadunia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/surgadunia.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=17&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://surgadunia.wordpress.com/2007/04/24/pengalamanku-dengan-istri-tetanggaku-bagian-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/201112ee97f0805487f43bf36143f1ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">surgadunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanteku Yang Seksi</title>
		<link>http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/tanteku-yang-seksi/</link>
		<comments>http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/tanteku-yang-seksi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Mar 2007 03:27:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>surgadunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/tanteku-yang-seksi/</guid>
		<description><![CDATA[Waktu pesta natal keluarga tahun 1997 di kampung halaman semua keluarga ngumpul. Pokoknya natal tahun itu semarak banget, semua keluarga gue yang di indonesia dan manca negara pada dateng. Ditengah-tengah pesta natal itu, gue ketemu sama salah satu tante sepupu gue, dia anaknya adek kakek gue dari bokap,namanya wiwi umurnya kira-kira 31 tahun. Dulu waktu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=16&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Waktu pesta natal keluarga tahun 1997 di kampung halaman semua keluarga ngumpul. Pokoknya natal tahun itu semarak banget, semua keluarga gue yang di indonesia dan manca negara pada dateng. Ditengah-tengah pesta natal itu, gue ketemu sama salah satu tante sepupu gue, dia anaknya adek kakek gue dari bokap,namanya wiwi umurnya kira-kira 31 tahun. Dulu waktu gue SD dia udah SMA kelas satu, dia pernah pacaran sama salah satu oom ade nyokap gue. Dulu dia emang terkenal karena kecantikannya. Tapi emang keluarga bokap gue terkenal CW-nya cakep-cakep, dan Tante Wiwi adalah salah satu dari yang terbaik, artinya cantik muka dan body-nya. Dan sekarang waduh, makin ciamik, dada melimpah gue kira-kira 36-C, pinggang ramping dan pinggulnya kalo kata orang kampung gue songgeng  alias montok dan nongol, lehernya jenjang, kulit kuning langsat, rambut ikal sebahu warna hitam legam, alis tebal, dan yang bikin gue lherrrrrrr adalah bulu di tangan dan kakinya, mmmmmhhhhhhh. &#8220;Eh, siapa ya namanya …..eeeeeeee…….o iya Dede ya ? waduh apa kabar, selamat natal ya&#8221;, sapanya. itulah sapaan pertama yang gue dapat dari Tante Wiwi. &#8220;Baik tante, selamat natal juga !&#8221;, jawab gue, dan kami saling ber salaman dan sun pipi, serrrrr wangi parfum dan halus kulitnya tercium jelas sama gue. &#8220;iya makasih ya, sekarang udah selesai belum kuliahnya ? tante sekarang pindah ke Indonesia lho !&#8221;.&#8221;mulai kapan dan kenapa tante, emang &#8216;gak kerasan tinggal di Belgi ?&#8221;tanya gue. &#8220;Januari ini, bukan gak kerasan tapi kamu tahu dong, tante sampe sekarang kan belum punya anak, kata dokter oom dan tante kecapean, jadi tante sama oom sepakat untuk sementara kami ke Indonesia dulu, ya ….itung-itung istirahat lah.&#8221;. &#8220;o gitu, iya lah tante, biar lebih semarak kalo ada si kecil.&#8221; jawab gue. Belagu ya gue, kaya orang tua ! &#8220;De, sepulang ke jakarta nanti bisa engga kamu bantu tante nyari rumah ? soalnya oom kan masih sibuk ngurus ke pulangan kami, jadi kemungkinan sehabis tahun baru oom kembali lagi ke Belgi, kamu ada mobil kan ?&#8221;.&#8221;Boleh tante, kalo soal kendaraan sih ada.&#8221;.&#8221;Ok, makasih ya sebelumnya.&#8221;, jawab Tante Wiwi. </span> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-16"></span><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Singkat cerita, gue balik ke jakarta &#8216;n gue janjian sama Tante Wiwi buat nyari rumah. Gue jemput dia di rumah salah satu tante gue, dan kami jalan. &#8220;Kemana nih kita tante ?&#8221;, tanya gue. &#8220;Enaknya kemana ya de, tante dan oom pengen yang suasananya &#8216;gak terlalu rame, yang tenang gitu, dan kalo bisa udaranya masih bersih dan aksesnya gampang.&#8221; &#8220;Wah kalo gitu dideket tempat Iwan aja tante, di cibubur kan banyak perumahan tante, apalagi di seberang toll.&#8221;. &#8220;Ya udah, kita kesana aja.&#8221; Gue arahin mobil gue kearah toll menuju lokasi. Cari-cari seharian akhirnya Tante Wiwi naksir di salah satu komplek-nya ciputra group. &#8220;Gimana de menurut kamu ?&#8217;. &#8220;ya terserah tante dong, bagusnya tante tanya oom dulu.&#8221;, &#8220;iya deh nanti malem tante tanyaain.&#8221;. Gue anterin Tante Wiwi pulang.&#8221;Entar tante hubungi kamu ya De, soalnya kalo jadi rumah yang ma oper kredit tadi, kita kayaknya kudu nyari furnitur dan kelengkapan rumah, gak ganggu kamu kan ?&#8221;. &#8220;Enggak lah tante, lagian kuliah juga masih kosong. &#8220;Makasih ya.&#8221;, jawab si tante sambil sun pipi gue, serrr. Pagi jam 7 telfon berdering dan Tante Wiwi kabarin kalo suaminya setuju dengan rumah pilihan kemarin, dan dia ngajakin nyari peralatan rumah tangga, karena akad jual beli baru dilaksanain Senin minggu depan. Kami jalan ke arah jl. Fatmawati, karena di sana emang banyak toko dan show room meubel. Siangnya kami makan siang sambil ngobrol-ngobrol. &#8220;Gimana tante menurut penilaian tante ?&#8221;, tanya gue.&#8221;gimana ya, bagus-bagus semua sih, tapi kan tante udah pegang referensinya, jadi kalo nanti tante mutusin pilih, tante tinggal telfon.&#8221;. &#8220;o..&#8221;,jawab gue singkat.&#8221;De, Jum&#8217;at besok kamu ikut week-end ya, soalnya Tante Een ngajakin, refreshing katanya, ajak Iwan juga.&#8221;.&#8221;Boleh juga tuh tan, tapi kalo Iwan diajak di rumah kelamaan kosong tan, khawatir !&#8221;. &#8220;Terserah deh kamu atur aja.&#8221; </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Besoknya kami berangkat ke puncak buat week-end. Iwan ditinggal. Di villa yang cukup gede dengan 4 kamar, halaman luas. Kolam renang, plus tempatnya yang masuk kedalam dan dibukit, itu membuat suasana asyik banget. Jam 10 malem selesai makan di Simpang Raya kami langsung kembali ke villa. Gue pake jacket, sambil ngerokok, gue duduk di teras belakang. Gak lama muncul Tante Wiwi pake kimono handuk, abis mandi keliatannya. &#8220;Dingin-dingin gini koq mandi sih tan ?&#8221;, tanya gue.&#8221;Iya abis lengket sih, lagian kan ada water heater.&#8221; katanya sambil ngeringin rambut dia angkat satu kakinya dan dinaikin ke kakinya yang lain. Ala mak, gue bisa ngeliat paha mulusnya. Setelah kering rambutnya Tante Wiwi masuk, gue ngikutin di belakangnya. Gue ke dapur buat bikin kopi. Abis bikin kopi gue bawa kopi ke ruang tengah. Pas lewat depan kamar Tante Wiwi gue ngeliat pemandangan yang sangat aduhai. Pintunya yang ngebuka dikit bikin gue bisa ngintip, bener-bener yang gue ceritain tadi diatas dia yang lagi siap-siap pake baju, baru pake CD sementara dadanya masih terbuka membuat toketnya yang gede bebas terpampang. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Buru-buru gue berlalu, dan bergabung sama Tante Een dan Oom Bambang serta anak-anaknya yang lagi nonoton tv. Ngobrol sebentar Tante Een minta izin buat ngelonin anak-anaknya, sementara Oom bambang minta izin buat istirahat. Wal hasil tinggal gue yang nonton tv, gue pindah duduk ke kursi panjang yang tadi didudukin sama Oom Bambang dan Tante Een biar gue nontonnya nggak miring. Kira-kira 5 menit gue nonton sendiri, Tante Wiwi keluar sambil bawa segelas jeruk panas dan duduk di samping gue. Mhhhh aroma wangi Tante Wiwi segera menyeruak memenuhi seisi ruangan. Tante Wiwi saat itu pake kimono sutra warna merah cerah, yang bikin gue horny adalah dadanya nampak &#8216;gak pake apa-apa di dalemnya. Kira-kira jam 12 malem gue pamit istirahat. &#8220;Ya udah, di matiin aja tv-nya tante juga mau istirahat.&#8221;. kami jalan beriringan menuju kamar masing-masing, kamar gue depan-depanan sama kamar Tante Wiwi dibagian belakang, kamar gue dibelakang kamar anak-anaknya Tante Een sementara Tante Wiwi dibelakang kamar Tante Een. Pas ngelewatin kamar Tante Een terdengar suara-suara aneh. Gue noleh kearah Tante Wiwi, dan Tante Wiwi naro telunjuknya di depan bibirnya. &#8220;Ssssttttt, jangan berisik, kamu ambil kursi organ kesini, kita intip.&#8221; Katanya sambil senyum. Gue anggukin kepala. Gue ambil kursi itu dan gue taruh perlahan-lahan di depan pintu kamar. Tante Wiwi diluar dugaan segera naik untuk menyaksikan adegan apa yang tengah berlangsung, dan gue yang di bawah dengan jelas dan gamblang menyaksikan kemulusan betis tante wiwi plus bulu-bulu halus-nya yang lebat. Titit gue gak kuat dan pelan tapi pasti mulai ngaceng. Tante Wiwi gak lama mulai meletakkan tangannya didepan permukaan selangkangannya dan mengusap-usapkan telapak tangannya disana. Ngeliat gelagat begitu gue gak buang-buang kesempatan, gue raba betis indahnya, dan diluar dugaan Tante Wiwi gak bereaksi, malahan dia ngerenggangin kakinya dan gue liat tangannya mulai dengan agak kasar ngusap permukaan selangkanggannya sambil mulutnya mengeluarkan suara desisan,&#8221;Sssssssssssssssshhhhhhhh&#8221;. Ngeliat Tante Wiwi mualai naik gak cuma tangan gue yang ngusap betis indahnya, tapi juga bibir dan lidah gue. Gue telusuri betisnya turun kebawah, sampe punggung kaki nya, gue pindahin ke kakinya yang lain dan gue jelajahi juga. Desisan Tante Wiwi mulai berubah jadi erangan, dan tangannya enggak cuma beraksi di permukaan selangkangannya, tapi juga tangannya yang lain mulia ngeremes toketnya sendiri. Sementara aksi gue gak cuma di betis kepala gue udah mulai menyusup kebalik kimononya, jadilah aksi gue sekarang menelusuri daerah pahanya. Setelah aksi bibir dan lidah gue mendekati daerah selangkanganya, tangan Tante Wiwi yang tadi dipake ngegosok selangkangannya sekarang pindah ke kepala gue. Dia teken kepala gue dan usap-usap rambut gue, sesekali dia jambak rambut gue sambil ngerapetin kakinya. Gue jilatin buah pantatnya yang ranum sambil kedua tangan gue beraksi ngeremas buah pantat doi yang lain sementara tangan gue satunya lagi gue pake buat ngebelai daerah selangkangannya. Gue pindahin aksi gue buat ngegarap buah pantatnya yang lain. Gue sibakin CD mini Tante Wiwi, gue renggangin kakinya, dan gue nikmati belahan pantatnya. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Setelah gue mulai sesak napas &#8216;n kegerahan gue keluarin kepala gue dari balik kimononya. Gue geserin kaki Tante Wiwi supaya dia bisa geser, dan gue naik. Sejurus kemudian terpampang didepan mata gue pemandangan yang bikin gue makin horny. Tante Een di bawah lagi megap-megap sambil narik-narik rambutnya sendiri, dia angkat kedua kakinya dipundak Oom Bambang,sementara Oom Bambang asyik mompa Tante Een dari atas sambil mulutnya menikmati toket Tante Een yang lumayan bagus, meskipun udah punya anak dua. Gua gak mau tinggal diem,gue lingkerin tangan gue kepundak Tante Wiwi, dan langsung gue usap-usap bagian dadanya. Gak lama tangan gue yang kiri myusul, gue susupin kebalik kimononya dan segera gue dapetin segunduk daging yang teramat kenyal rasanya di tangan gue, dan Tante Wiwi bales dengan gigit-gigit kuping gue. Lagi asyik ngetune putting toket kiri Tante Wiwi, dia beranjak turun. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Dan ternyata yang dilakukan Tante Wiwi adalah ngelepasin iket pinggang gue,ngelapas kancing celana jeans gue dan nurunin zipper-nya. Dia tarik jeans gue selutut, tapi cuma jeansnya doang. Gak lama terasa hangat permukaan CD gue, dan terasa juga lidah bermain di permukaan CD gue naik turun, terasa juga titit gue digigitin naik turun, kayak oppi andaresta main harmonika. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Udah itu terasa CD gue diturunun juga sementara di dalam kamar posisi sudah berganti, Tante Een memegang kendali naik turun sambil kedua tangannya megangin tangan Oom Bambang yang lagi asyik ngeremesin toket gede Tante Een. Hangat dan lembab terasa di palkon gue, pas pandangan gue turunin ternyata Tante Wiwi lagi asik jilatin palkon gue, terus turun kebatang kontol gue naik turun, dan akhirnya biji peler gue dikulumnya juga. Dikemotnya kedua biji peler gue. ada perasaan mules sewaktu kedua biji peler gue di emut sama Tante Wiwi, abis mulut Tante Wiwi itu mungil banget, jadi kalo disekaligusin jadi beradu satu sama lainnya. Bosen ngulumin biji peler gue Tante Wiwi masukin batang peler gue kemulutnya, di emutnya, disedotnya kenceng banget. Lalu Tante Wiwi maju mundurin mulutnya, sambil tangan kirinya maenin biji peler gue, sementara tangan kanannya meremas buah pinggul gue. Tante Wiwi lepasin isapannya, tapi palkon gue langsung jadi sasaran, kali ini palkon gue di garuk-garuk pake gigi atasnya. Waduh, rasanya sangat luar biasa ! geli, gatel, dan laen-laen rasa enak semuanya campur jadi satu. Dari dalam kamar Tante Een dan Oom Bambang mengerang sangat keras, dan rupanya mereka baru saja mencapai puncak gunung bersama-sama. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Gak kuat gue kelamaan berdiri, gue angkat kepala Tante Wiwi, gue turun dan gue benerin posisi celana gue, gue tarik tante wiwi gue dekap dia dipelukan gue dan langsung gue serbu bibir mungilnya yang udah merekah menantang buat di gasak. Tante Wiwi bales serbuan gue dengan gak kalah semangatnya. Lidah kami menjelajah rongga mulut masing-masing lawan. Waktu lidah Tante Wiwi menjelajah rongga mulut gue lidah itu gue gigit, gitu juga sebaliknya. Ternyata Tante Wiwi udah kecapean dari tadi, &#8221; De, kita pindah ke kamar yo ! &#8220;, ajaknya. Gue sih nurut aja. Gue serbu lagi bibirnya, gue angkat tubuhnya gue gotong kekamarnya. Gue taruh dia diatas kasur, dan tanpa buang waktu gue lucutin pakean gue sendiri. Selanjutnya setelah gue bugil gue naek ke ranjang dan bibir tante wiwi kembali gue nikmati. Tangan Tante Wiwi gak tinggal diam digenggamnya kontol gue sambil diusap dan di kocok perlahan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya peluk gue. Gitu juga gue gak mau kalah, sementara tangan kiri gue nyanggah beban tubuh gue, tangan yang kanan gue ajak buat jalan-jalan diatas dada Tante Wiwi. Didalam kamar baru tahu gue bahwa Tante Wiwi adalah jenis manusia yang senang melepaskan perasaan horny-nya dengan sebebas-bebasnya. Buktinya sewaktu toketnya gue remes dan putingnya gue pilin dari mulut yang masih gue kulum, gumamannya terdengar sangat keras. &#8221; mmmmmmmmmmhhhhhhh ……….mmmmhhhhhhhhhggggggg&#8221;. apalagi sewaktu lidah gue bermain di belakang telinganya, erangannya makin menjadi. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Tante Wiwi dengan tangannya ngebimbing gue untuk menikmati permukaan lehernya yang jenjang dan ada sedikit lipatan lemaknya. Gue jilat dan gue kecup bagian leher Tante Wiwi sampe gak ada jengkal yang tersisa. &#8220;uuuuhhhhhh…….. sssssssssshhhhhhh…….. mmmmmmhhhhhh&#8221;. Sekarang gantian. Tangan kanan gue dipake nyangga tubuh gue sementara tangan kiri gue gue pake buat membelai,meremas dan memilin bukit Tante Wiwi yang munjung dan udah keras dari tadi. Sekarang sasaran gue adalah pundak Tante Wiwi, dan kedua siku gue gue pake buat nahan berat badan gue, supaya kedua toket Tante Wiwi bisa gue remes bareng. Pada saat jelajah lidah gue udah nyampe di ujung selepetan bima-nya, gue sibakin kimono tante wiwi bagian dadanya, dan ……eng-ing-eng jelaslah sekarang didepan mata gue sepasang toket terindah yang pernah gue liat,karena sebelumnya toket CW-CW gue kalah bagus sama toket Tante Wiwi. Gue gak sabar gue langsung gigit putting-nya yang sebelah kanan dan Tante Wiwi berteriak &#8220;aaaaaaahhhhhhhhkk….. ssssshhhhh……… aadddduuuhhh… ennnnhhhaaaaakkkkhh.&#8221; . Gue sedot pentil itu dengan keras, semakin keras gue sedot semakin menjadi erangan dan teriakan Tante Wiwi. Habis sudah kedua permukaan toket Tante Wiwi gue garap, Tante Wiwi dekap kepala gue di belahan toketnya, sementara kedua lengannya nyanggah toketnya, hal ini membuat muka gue tenggelam disela-sela toket-nya yang indah. Yang paling mengesankan adalah sewaktu gue bikin cupang di bawah putting kirinya, Tante Wiwi berteriak sambil ngejewer kedua kuping gue &#8220;Hah………ooooohhhhhhhhh……… ggggggghhhhhhh……… uuuussssssss …..aaaaaaaahhhhhhh&#8221;. sehabis itu jelaslah bekas cupangan gue di toketnya. Setelah puas aku garap kedua buah toketnya, Tante Wiwi mwnurunkan kepala gue, gua jilati permukaan perutnya, pas nyampe puser gue kecup dan gue jilat pusernya sementara kedua tangan gue gue susupin dibelakang pinggul nya dan segera gue remes abis kedua bongkah pantatnya. &#8220;Adddduuuuhhhhhhh Dddeee….kkamu koq kayaknya uudaaaaaahhhh ppppeeengalamannnnn banget sssiiihhhhh&#8221;, begitu erangan Tante Wiwi kira kira sewaktu gue kecup dan gue jilatin pusernya. Jilatan gue terus turun kebawah, sebelim mulut gue nyampe di selangkangannya, CD mini Tante Wiwi gue turunin pake kedua tangan gue, gue tarik lepas CD itu. Ya tuhan rumput yang tumbuh disitu begitu lebatnya, sehingga gue nyaris gak bisa lihat belahan memeknya ! </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Yang pertama kali adalah gue merumput disitu, gue jilatin jembut itu sampe rapi, karena dari fakta yang gue liat kayaknya tante wiwi adalah salah satu jenis manusia yang senang membiarkan jembutnya tumbuh dengan sendirinya tanpa adanya campur tangna dari luar. Setelah jembut itu rapi, aku kuakkan jembut yang berada disekitar bibir memek Tante Wiwi, barulah sekarang gue liat belahan bibir memek Tante Wiwi.  Bibir memek itu ternyata masih bersih, belum menghitam. Ngeliat pemandangan kayak gitu, kontan tangan dan bibir gue kompakan buat ngerubutin Tante Wiwi punya memek. &#8220;Aaaaaaaahhhhhhh…….. aaaddddduuuuhhhhhhh…….. ssssshhhhhh……. aaaaaggggghhhhhhh……. yyeeeessssss….. ttteruuuuuuuuussssssshhhhhhgggggghhhhhhh&#8221;. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Tante Wiwi teriak-teriak sewaktu gue masukin jari tengah gue ke memeknya dan ibu jari gue menggesek itilnya dan lidah gue jilatin permukaan bibir memeknya .&#8221;uuuuhhhhhhh…….. uuuuhhhhhhh…….. yyyaaaaaaaaa…….. ssssshhhhhhhhhh…..&#8221;. Desahan dan erangan Tante Wiwi semakin menjadi ketika dengan ganas gue gigit-gigit itilnya. Dan dengan gak kalah ganas Tante Wiwi ngejambak rambut gue , dia desekin ke selangkangannya, sementara pinggulnya diangkat tinggi-tinggi sambil bikin gerakan memutar. &#8220;Mmmmmmhhhhhhhyyyyyyymmmmmmm ………sssssshhhhhhhhhhh …….. yyyyyaaaaaaaa ……&#8221;. Begitu terus dan terus Tante wiwi berputar dan berteriak.&#8221;De….hhhhhh…..sini titit kamu kasih tante …….&#8221;, pintanya, dan terjadilah pertempuran 69 yang sangat seru, karena Tante Wiwi dan aku sama-sama rakus. Setelah 8 menitan bertempur 69 Tante Wiwi mengejan dan berteriak dengan sangat keras, &#8220;Deeeeeeee……. aaaahhhhhh……… aaadddddduuuuuhhhhh………. Tanttttttttteeeeeeee ……. gak …….. kuattttthhhhh …….. &#8220;, jeritan Tante Wiwi disertai dengan merapatnya kedua paha, serta dicakar-cakarnya buah pantat gue. 1 ½ menit Tante Wiwi menjepit kepala gue, sampe akhirnya dia terkulai, sementara aku terus dengan aksiku menjilati setiap tetes air yang mengalir dari lubuk vagina Tante Wiwi.&#8221; De udah sayanggggghhhhh ……. Addddduuuhhhhhh …….geliiiiiiiiiii ……&#8221; </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Tante Wiwi manjatuhkan diri dan terlentang pasrah sambil narik napas panjang pandangan matanya menerawang ke langit-langit kamar. &#8220;De, kamu udah sering melakukan yang kayak begini ya ?&#8221;, tanyanya sambil ngelirik ke gue. &#8220;Ah, enggak juga tante, mungkin udah dari sononya kali.&#8221;, jawab gue sekenanya. &#8220;Gak mungkin, buktinya kontol kamu tante sedot kenceng banget koq kontol kamu tenang-tenang aja.&#8221;, sanggahnya. &#8220;Oh jadi tante pengen saya cepet nyampe klimax ?&#8217;. &#8220;Ya enggak juga sih, ……. Ih kamu nakal ya !&#8221;, katanya sambil memiringkan badan dan ngegelitikin gue. Lama kami bercanda sambil bergumul kayak anak kucing, capek, kita berdua masing-masing diem sambil tarik napas dalem-dalem. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Ngeliat Tante Wiwi terlentang dengan kedua lengan dan paha terbuka, Gue yang emang udah kesetanan gak tahan, gue kangkangin dia dan langsung gue arahin rudal gue ke lobang memeknya gue entot ! Kontol gue gue selipin disela-sela bibir memeknya, perlahan-lahan gue tusuk dan……. &#8220;Ooooohhhhhhhhhggg ……..ehhhhhhhh ………. &#8220;. Kontol gue perlahan tapi pasti mulai amblas. Setelah amblas seluruhnya gue tarik napas dalam-dalam dan kembali bibir Tante Wiwi gue lumat, sambil gue grepe kedua toketnya. Setelah tenang aku mulai angkat perlahan-lahan batang kontol gue, pas tinggal kepalanya doang yang nyisa gue teken lagi, &#8220;uuuuhhhhh …… &#8220;, kembali Tante Wiwi mendesah. Lama-lama kayuhan gue semakin lancar, maju mundur, kadang-kadang gue puterin kayak orang lagi ngebor, dan Tante Wiwi mengerang keras </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">&#8220;Hhhhhhhhhhmmmmmmm…….ooooouuuuuuuuughhhhhhhhhhh&#8221;. rupanya dia menyukainya. Gue terus goyang, pas gue capek, Tante Wiwi ambil inisiatip. Dia peluk gue erat dan berguling kesisi kanan. Sekarang dia naek turun diatas gue, &#8220;ooooohhhhhhh …. Aaddddddduuuuuhhhhh taaaannnntttthhhhh ….tteeeerrrrruuussss&#8221;, erang gue sambil tangan gue remes toket dia keras banget. &#8220;uhhh ….. uuuuuhhhh …. Uuuhhhh …. Yyyyyeeeeessss …. Yyyyyeeeessss &#8216;, jeritnya sambil kedua tangannya ngejambak-jambak rambutnya sendiri. Leleah naik turun tante wiwi peluk gue sambil kiss gue, gue lingkerin tangan gue ke belakang, gue jamah bongkahan pantatnya dan gue mulai tusuk dia dari bawah. &#8221; Mmmmmmhhhhh …. Mmmmhhhh&#8221;, gue tusuk terus. Gak lama Tante Wiwi bangkit dan kembali naik turun. Dia cengkeram lengan gue kenceng banget, ngeliat keadaan kayak gitu gue langsung pro-aktif, gue juga gak mau kalah, tusukan gue dari bawah gue tambah frekwensinya, dan hasilnya ……….. gak lama Tante Wiwi menggenjot pantatnya dengan gila sambil teriak-teriak, &#8220;aaaaaaahhhhh ….. oooohhhh ….. ooooohhhhh …. Tante mau sssssssssaaaaammmmppppp ……..&#8221;, belum selesai ngomong gitu Tante Wiwi teken keras-keras pantatnya kebawah, terasa otot-otot memeknya berkontraksi dengan sangat keras, dia jatuhkan diri diatas badan gue. Dengan napas masih memburu dia kecup dan lumat bibir gue,&#8221;Hhhhuuuhhhh, kamu hebat banget sih de, sama CW kamu atau sama perek kamu biasanya hah ? &#8220;.&#8221;Enggak koq tante, ya baru sama tante aja sekarang.&#8221;. &#8220;Alah, sama setiap CW yang kamu tidurin juga jawabanya pasti sama.&#8221;, katanya sambil ngeloyor ke kamar mandi, setelah selesai bersih-bersih Tante Wiwi masuk lagi kekamar. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Didepan pintu kamar mandi gue sergap dia, gue angkat satu pahanya dan gue tusuk sambil gerdiri.&#8221;Aduh kok ganas banget sih kamu !&#8221;, katanya setengah membentak. Gue gak mau tahu,gue dorong dia ke dinding gue hajar terus memeknya dengan rudal gue. Mulutnya gue sumbat,gue lumat dalem-dalem. Setelah Tante Wiwi mulai terdengar lenguhannya, gue gendong dia sambil pautan kontol gue tetep di pertahankan. Gue bawa dia ke meja rias yang berbentuk Consol, gue letakan tantatnya diatas meja itu. Sekarang gue bisa lebih bebas ngentot dia sambil menikmati toketnya. Sambil gue ayun, mulut gue dengan sistematis menjelajah bukit didadanya, dan seperti biasanya (dan ini juga yang biasanya dilakukan CW) dia teken belakang kepala gue ke dadanya, dan gue turutin, abis emang enak dan nikmat banget. &#8220;aaaaaahhhh ……….. ssssssshhhhh ……. Oooohhhhh …… uuuuuuuuggggghhhh  …… mmmmmhhhh.&#8221;, Tante Wiwi terus menceracau. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Bosen dengan posisi gitu gue cabut kontol gue dan gue suruh tante wiwi nungging. Sambil kedua tangannya megangin bibir meja. Dalam keadaan nungging gitu Tante Wiwi keliatan lebih aduhai ! bongkahan pantatnya yang kuning dan mulus itu yang bikin gue gak tahan. Gue pegang kontol gue dan langsung gue arahin memeknya. Gue gesekin ke itilnya, dan dia mulai mengerang nikmat. Gak sabar gue tusukin sekaligus. Langsung gue kayuh, dan dalam posisi ini Tante Wiwi bisa lebih aktif memberikan perlawanan, bahkan sangat sengit.&#8221;aaaahhhhhh Ddddeeeeee ttttaaaaannnnnteeeee mmmmoooo ….. kkkeeeee lllllluuuuarrrrr lagggiiii……. &#8220;, racaunya. Tante Wiwi goyangnya menggila dan gak lama tangan kananya menggapai kebelakang, dia tarik pantat gue supaya menusuk lebih keras lagi. Gue layani dia, sementara gue sendiri emang kerasa udah deket. Tante Wiwi mengerang dengan sangat keras sambil jepit tool gue dengan kedua pahanya. Gue tetep dengan aksi gue. Gue raih badannya yang keliatan udah mulai mengendur. Gue peluk dari belakang, gue taruh tangan gue dbawah toketnya, dengan agak kasar gue urut toketnya dari barwah ke atas dan gue remes dengan keras.&#8221;eennngghhhhh …..oooohhhhh ……ohhhhhhh …….aaaaaaahhhhhhhhh&#8221;, gak lama setelah itu bendungan gue jebol, gue tusuk keras banget, dan peju gue nyemprot lima kali didalem. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-style:normal;font-family:Arial;">Dengan gontai gue iring Tante Wiwi kembali keranjang, sambil gue kasih cumbuan-cumbuan kecil sambil kami tiduran. Dan ketika gue liat jam didinding menunjukan jam 02.07. wah lumayan masih ada waktu buat satu babak lagi, gue pikir. &#8220;Tante, memek dan permainan tante ok banget !&#8221;, puji gue. &#8220;Makasih juga  ya De, kamu juga hebat……..&#8221;. suatu pujian yang biasa gue terima !</span> </em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/surgadunia.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/surgadunia.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/surgadunia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/surgadunia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/surgadunia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/surgadunia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/surgadunia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/surgadunia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/surgadunia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/surgadunia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/surgadunia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/surgadunia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/surgadunia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/surgadunia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/surgadunia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/surgadunia.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=16&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/tanteku-yang-seksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/201112ee97f0805487f43bf36143f1ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">surgadunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Elvina</title>
		<link>http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/elvina/</link>
		<comments>http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/elvina/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Mar 2007 03:25:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>surgadunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/elvina/</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Chepy, 22 tahun, mahasiswa di sebuah universitas swasta ternama di Jakarta. Kisahku ini adalah kejadian nyata tanpa aku rekayasa sedikitpun!. Kisahku bermula setahun yang lalu ketika temanku (Dedy) mengajakku menemaninya transaski dengan temannya (Gunawan). Saya jelaskan saja perihal kedua orang itu sebelumnya. Dedy adalah teman kuliahku dan dia seorang yang rajin dan ulet termasuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=15&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Namaku </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Chepy</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">, 22 tahun, mahasiswa di sebuah universitas swasta ternama di Jakarta.</p>
<p>Kisahku ini adalah kejadian nyata tanpa aku rekayasa sedikitpun!. Kisahku bermula setahun yang lalu ketika temanku (Dedy) mengajakku menemaninya transaski dengan temannya (Gunawan). Saya jelaskan saja perihal kedua orang itu sebelumnya. Dedy adalah teman kuliahku dan dia seorang yang rajin dan ulet termasuk dalam hal berbisnis walaupun dia masih kuliah. Gunawan adalah teman kenalannya yang juga seorang anak mantan pejabat tinggi yang kaya raya (saya tidak tahu apakah kekayaan orang tuanya halal atau hasil korupsi!).</p>
<p></span><span id="more-15"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Setahun yang lalu Gunawan menawarkan beberapa koleksi lukisan dan patung (Gunawan sudah mengetahui perihal bisnis Dedy sebelumnya) milik orang tuanya kepada Dedy, koleksi lukisan dan patung tersebut berusia tua. Dedy tertarik tapi dia membutuhkan kendaraan saya karena kendaraannya sedang dipakai untuk mengangkut lemari ke Bintaro, oleh karena itu Dedy mengajak saya ikut dan saya pun setuju saja. Perlu saya jelaskan sebelumnya, Gunawan menjual koleksi lukisan dan patung tersebut, oleh Dedy diperkirakan karena Gunawan seorang pecandu putaw dan membutuhkan uang tambahan.</p>
<p>Keesokan harinya (hari Minggu), saya dan Dedy berangkat menuju rumah Gunawan di kawasan Depok. Setelah sampai di depan pintu gerbang 2 orang satpam berjalan ke arah kami dan menanyakan maksud kedatangan kami. Setelah kami jelaskan, mereka mengijinkan kami masuk dan mereka menghubungi Gunawan melalui telepon. Saya memarkir kendaraan saya dan saya mengagumi halaman dan rumah Gunawan yang amat luas dan indah, &#8221; Betapa kayanya orang tua Gunawan&#8221; bisik dalam hatiku. Kami harus menunggu sebentar karena Gunawan sedang makan.</p>
<p>Sambil menunggu, kami berbicara dengan satpam. Dalam pembicaraan itu, seorang satpam menceritakan kalau Gunawan itu seorang playboy dan suka membawa wanita malam-malam ke rumahnya ketika orang tuanya sedang pergi. Setelah menunggu selang 10 menit, akhirnya Gunawan datang (saya yang baru pertama kali melihatnya harus mengakui bahwa Gunawan memiliki wajah yang amat rupawan, walau saya pun seorang lelaki dan bukan seorang homo!). Dedy memperkenalkan saya dengan Gunawan. Setelah itu Gunawan mengajak Dedy masuk ke rumah untuk melihat patung dan lukisan yang akan dijualnya.</p>
<p>Saya bingung apakah saya harus mengikuti mereka atau tetap duduk di pos satpam. Setelah mereka berjalan sekitar 15 meter dari saya, seorang satpam mengatakan sebaiknya kamu (saya) ikut mereka saja daripada bosan menunggu di sini (pos satpam). Saya pun berjalan menuju rumahnya. Ketika saya masuk, saya tidak melihat mereka lagi. Saya hanya melihat sebuah ruangan yang luas sekali dengan sebuah tangga dan beberapa pintu ruangan. Saya bingung apakah saya sebaiknya naik ke tangga atau mengitari ruangan tersebut (sebenarnya bisa saja saya teriak memanggil nama Dedy atau Gunawan tapi tindakan itu sangat tidak sopan!).</p>
<p>Akhirnya saya memutuskan untuk mengitari ruangan tersebut dengan harapan dapat menemui mereka. Setelah saya mengitari, saya tetap tidak dapat menemukan mereka. Tapi saya melihat sebuah pintu kamar yang pintunya sedikit terbuka. Saya mengira mungkin saja mereka berada di dalam kamar tersebut. Lalu saya membuka sedikit demi sedikit pintu itu dan betapa terkejutnya saya ketika saya melihat seorang anak perempuan sedang tertidur dengan daster yang tipis dan hanya menutupi bagian atas dan bagian selangkangannya, saya bingung harus bagaimana!</p>
<p>Dasar otak saya yang sudah kotor melihat pemandangan paha yang indah, akhirnya saya masuk ke dalam kamar tersebut dan menutup pintu itu. Saya melihat sekeliling kamar itu, kamar yang luas dan indah, beberapa helai pakaian SLTP berserakan di tempat tidur, dan foto anak tersebut dengan Gunawan dan seorang lelaki tua dan wanita tua (mungkin foto orang tuanya). Anak perempuan yang sangat cantik, manis dan kuning langsat! lalu saya melangkah lebih dekat lagi, saya melihat beberapa buku pelajaran sekolah dan tulisan namanya : Elvina kelas 1 C. Masih kelas 1! berarti usianya baru antara 11-12 tahun. Lalu saya memfokuskan penglihatan saya ke arah pahanya yang kuning langsat dan indah itu!. Ingin rasanya menjamah paha tersebut tapi saya ragu dan takut. Saya menaikkan pandangan saya ke arah dadanya dan melihat cetakan pentil susu di helai dasternya itu. Dadanya masih kecil dan ranum dan saya tahu dia pasti tidak memakai pakaian dalam (BH atau kutang) di balik dasternya itu!.</p>
<p>Wajahnya sangat imut, cantik dan manis! Akhirnya saya memberanikan diri meraba pahanya dan mengelusnya, astaga..mulus sekali! Lalu saya menaikkan sedikit lagi dasternya dan terlihatlah sebuah celana dalam (CD) warna putih. Saya meraba CD anak itu dan menarik sedikit karet CDnya, lalu saya mengintip ke dalam,.. Astaga! tidak ada bulunya! Jantung saya berdetak kencang sekali dan keringat dingin mengalir deras dari tubuh saya. Lalu saya mencium Cdnya, tidak ada bau yang tercium. Lalu saya menarik sedikit lagi dasternya ke atas dan terlihatlah perut dan pinggul yang ramping padat dan mulus sekali tanpa ada kotoran di pusarnya! Luar biasa!</p>
<p>Otak porno saya pun sangat kreatif juga, saya memberanikan diri untuk menarik perlahan-lahan tali dasternya itu, sedikit-seditkit terlihatlah sebagian dadanya yang mulus dan putih! ingin rasanya langsung memenggangnya, tapi saya bersabar, lalu saya menarik lagi tali dasternya ke bawah dan akhirnya terlihatlah pentil Elvina yang bewarna kuning kecoklatan! Jantung saya kali ini terasa berhenti! Sayapun merasa tubuh saya menjadi kaku. Jari sayapun mencolek pentilnya dan memencet dengan lembut payudaranya. Saya melakukankan dengan lembut, perlahan dan sedikit lama juga, sementara Elvina sendiri masih tertidur pulas. Setelah puas, saya menjilat dan mengulum pentilnya, terasa tawar.</p>
<p>Dasar otakku yang sudah gila, saya pun nekat menarik seluruh dasternya perlahan kearah bawah sampai lepas, sehingga Elvina kini hanya mengenakan celana dalam (CD) saja! Saya memandangi tubuh Elvina dengan penuh rasa kagum. Tiba-tiba Elvina sedikit bergerak, saya kira ia terbangun, ternyata tidak, mungkin sedang mimpi saja. Saya mengelus tubuh Elvina dari atas hingga pusar/perut. Puas mengelus-elus, saya ingin menikmati lebih dari itu! Saya menarik perlahan-lahan CD Elvina ke arah bawah hingga lepas. Kini Elvina telah telanjang bulat! Betapa indahnya tubuh Elvina ini, gadis kelas 1 SLTP yang amat manis, imut dan cantik dengan buah dada yang kecil dan ranum serta vaginanya yang belum ada bulunya sehelaipun!</p>
<p>Lalu saya mengelus bibir vaginanya yang mulus dan lembek dan sayapun menciumnya. Terasa bau yang khas dari vaginanya itu! Dengan kedua jari telunjuk saya, saya membuka bibir vaginanya dengan perlahan-lahan, terlihat dalamnya bewarna kemerah –merahan dengan daging di atasnya. Saya menjulurkan lidah saya ke arah vaginanya dan menjilat-jilat vaginanya itu. Saya deg-degan juga melakukan adegan itu. Saya tahu tindakan saya bisa ketahuan olehnya tapi kejadian ini sulit sekali untuk dilewatkan begitu saja! Benar dugaan saya!</p>
<p>Pada saat saya sedang asyiknya menjilat vaginanya, Elvina terbangun! Saya pun terkejut setengah mati! Untung Elvina tidak teriak tapi hanya menutup buah-dadanya dan vaginanya dengan kedua tangannya. Mukanya kelihatan takut juga. Elvina lalu berkata &#8221; Siapa kamu, apa yang ingin kamu lakukan?&#8221;. Saya langsung berpikir keras untuk keluar dari kesulitan ini! Lalu saya mengatakan kepada Elvina: &#8221; Elvina, saya melakukan ini karena Gunawan yang mengijinkannya!&#8221;, kataku yang berbohong. Elvina kelihatan tidak percaya lalu berkata &#8221; Tidak mungkin, Gunawan kakakku!&#8221;. Pandai juga dia! Tapi saya tidak menyerah begitu saja. Saya mengatakan lagi &#8221; Elvina, saya tahu Gunawan kakakmu tapi dia punya hutang yang amat besar pada saya, apakah kamu tega melihat kakakmu terlibat hutang yang amat besar? Apakah kamu tidak kasihan pada Gunawan?, kalau dia tidak melunasi hutangnya, dia bisa dipenjara &#8221; kataku sambil berbohong. Elvina terdiam sejenak.</p>
<p>Saya berusaha menenangkan Elvina sambil mengelus rambutnya. Elvina tetap terdiam. Sayapun dengan lembut menarik tangannya yang menutupi kedua buah dadanya. Dia kelihatannya pasrah saja dan membiarkan tangannya ditarik oleh saya. Terlihat lagi kedua buah dadanya yang indah dan ranum itu! Saya mencium pipinya dan berkata &#8220;Saya akan selalu mencintaimu, percayalah!&#8221;. Saya merebahkan tubuhnya dan menarik tangannya yang lain yang menutupi vaginanya. Akhirnya dia menyerah dan pasrah saja terhadap saya. Saya tersenyum dalam hati. Saya langsung buru-buru membuka seluruh pakaian saya untuk segera menuntaskan &#8221; tugas &#8221; ini (maklum saja, kalau terlalu lama, transaksi Gunawan dengan Dedy selesai, sayapun bisa ketahuan, ujung-ujungnya saya bisa saja terbunuh!).</p>
<p>Saya langsung mencium mulut Elvina dengan rakus. Elvina kelihatannya belum pernah ciuman sebelumnya karena dia masih kaku. Lalu saya mencium lehernya dan turun ke arah buah dadanya. Saya menyedot kedua buah dadanya dengan kencang dan rakus dan meremas-remas kedua buah dadanya dengan sangat kuat, Elvina kelihatannya kesakitan juga dengan remasan saya itu, Sayapun menarik-narik kedua pentilnya dengan kuat! &#8220;Sakit kak &#8221; kata Elvina. Saya tidak lagi mendengar rintihan Elvina. Saya mengulum dan menggigit pentil Elvina lagi sambil tangan kanan saya meremas kuat pantat Elvina. Setelah puas, saya membalikkan badan Elvina sehingga Elvina tengkurap.</p>
<p>Saya jilat seluruh punggung Elvina sampai ke pantatnya. Saya remas pantat Elvina kuat-kuat dan saya buka pantatnya hingga terlihat anusnya yang bersih dan indah. Saya jilat anus Elvina, terasa asin sedikit! Dengan jari telunjuk saya, saya tusuk-tusuk anusnya, Elvina kelihatan merintih atas tindakan saya itu. Saya angkat pantat Elvina, saya remas bagian vagina Elvina sambil ia nungging (posisi saya di belakang Elvina). Elvina sudah seperti boneka mainan saya saja!. Setelah puas, saya balikkan lagi tubuh Elvina sehingga ia terlentang, saya naik ke atas kepala Elvina dan menyodorkan penis saya ke mulut Elvina. &#8221; Jilat dan kulum!&#8221; kataku. Elvina ragu juga pada awalnya, tapi saya terus membujuknya dan akhirnya ia menjilat juga.</p>
<p>Penis saya terasa enak dan geli juga dijilat olehnya, seperti anak kecil yang menjilat permen lolipopnya. &#8220;Kulum!&#8221; kataku, dia lalu mengulumnya. Saya dorong pantat saya sehingga penis saya masuk lebih dalam lagi, kelihatannya dia seperti mau muntah karena penis saya menyentuh kerongkongannya dan mulutnya yang kecil kelihatan sulit menelan sebagian penis saya sehingga ia sulit bernapas juga. Sambil ia mengulum penis saya, tangan kanan saya meremas kuat-kuat payudaranya yang kiri hingga terlihat bekas merah di payudaranya.</p>
<p>Saya langsung melepaskan kuluman itu dan menuju ke vaginanya. Saya jilat vaginanya sepuas mungkin, lidah saya menusuk vaginanya yang merah pink itu lebih dalam, Elvina menggerak-gerakkan pantatnya kiri-kanan, atas-bawah, entah karena kegelian atau mungking ia menikmatinya juga. Sambil menjilat vaginanya, kedua tangan saya meremas-remas pantatnya.</p>
<p>Akhirnya saya ingin menjebol vaginanya. Saya naik ke atas tubuh Elvina, saya sodorkan penis saya ke arah vaginanya. Elvina kelihatan ketakutan juga, &#8221; Jangan kak, saya masih perawan!&#8221;, Nah ini dia! saya membujuk Elvina dengan rayuan-rayuan manis. Elvina terdiam pasrah. Saya tusuk penis saya yang besar itu yang panjangnya 18 cm dan diameter 6 cm ke vaginanya yang kecil sempit tanpa bulu itu! Sulit sekali awalnya tapi saya tidak menyerah. Saya lebarkan kedua kakinya hingga ia sangat mengangkang dan vaginanya sedikit terbuka lagi, saya hentakkan dengan kuat pantat saya dan akhirnya kepala penis saya yang besar itu berhasil menerobos vaginanya!</p>
<p>Elvina mencakar tangan saya sambil berkata &#8221; sakitt!!&#8221; saya tidak peduli lagi dengan rintihan dan tangisan Elvina! Sudah sepertiga penis saya yang masuk. Saya dorong-dorong lagi penis saya ke dalam lobang vaginanya dan akhirnya amblas semua! Dan seperti permainan sex pada umumnya, saya tarik-dorong, tarik-dorong, tarik-dorong, terus-menerus! Elvina memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya. Tangan saya tidak tinggal diam, saya remas kedua buah dadanya dengan sangat kuat hingga ia kesakitan dan saya tarik-tarik pentilnya yang kuning kecoklatan itu kuat-kuat! Saya memainkan irama cepat ketika penis saya menghujam vaginanya.</p>
<p>Baru 5 menit saya merasakan cairan hangat membasahi penis saya, pasti ia mencapai puncak kenikatannya. Setelah bermain 15 menit lamanya, saya merasakan telah mencapai puncak kenikmatan, saya tumpahkan air mani saya kedalam vaginanya hingga tumpah ruah. Saya puas sekali! Saya peluk Elvina dan mencium bibir, kening dan lehernya. Saya tarik penis saya dan saya melihat ada cairan darah di sprei kasurnya. Habislah keperawanannya!.</p>
<p>Setelah itu saya lekas berpakaian karena takut ketahuan. Saya ambil uang 300.000 rupiah dari saku saya dan saya berikan ke Elvina, &#8221; Elvina, ini untuk uang jajanmu, jangan bilang ke siapa-siapa yah &#8220;, Elvina hanya terdiam saja sambil menundukkan kepala dan menutupi kedua buah dadanya dengan bantal. Saya langsung keluar kamar dan menunggu saja di depan pintu masuk. Sekitar 10 menit kemudian Gunawan dan Dedy turun sambil menggotong lukisan dan patung. Ternyata mereka transaksinya bukan hanya lukisan dan patung saja tapi termasuk beberapa barang antik lainnya. Pantasan saja mereka lama!</p>
<p>Akhirnya saya dan Dedy permisi ke Gunawan dan ke kedua satpam itu. Kami pergi meninggalkan rumah itu. Dedy puas dengan transaksinya dan saya puas telah merenggut keperawanan adik Gunawan. Ha ha ha ha ha, hari yang indah dan takkan terlupakan!</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/surgadunia.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/surgadunia.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/surgadunia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/surgadunia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/surgadunia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/surgadunia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/surgadunia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/surgadunia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/surgadunia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/surgadunia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/surgadunia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/surgadunia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/surgadunia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/surgadunia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/surgadunia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/surgadunia.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=15&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/elvina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/201112ee97f0805487f43bf36143f1ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">surgadunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Rumah Tanteku</title>
		<link>http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/di-rumah-tanteku/</link>
		<comments>http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/di-rumah-tanteku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Mar 2007 03:23:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>surgadunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/di-rumah-tanteku/</guid>
		<description><![CDATA[Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=14&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun. Akan tetapi tante Ida yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan tante Ida datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan tante Ida di Bandung. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span id="more-14"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari tante Ida mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka. Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, tante Ida curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya. Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, tante Ida marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik tante Ida sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan tante Ida katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, tante Ida menyuruh saya menjaga rumah. <!-- D(["mb","\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar,&quot; pikirku.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nTV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan. Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba...\n\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Anton.. apa yang kamu lakukan!!&quot; teriak sebuah suara yang aku kenal.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Ooooohh... Tante...?!&quot; aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan penisku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga tante Ida hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi.\n",1] );  //--></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar,&#8221; pikirku.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan. Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba&#8230; </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Anton.. apa yang kamu lakukan!!&#8221; teriak sebuah suara yang aku kenal.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">&#8220;Ooooohh&#8230; Tante&#8230;?!&#8221; aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan penisku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga tante Ida hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi. <!-- D(["mb","\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Eeeehhhh... ppppffffff...!!! badan tante Ida seketika\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nmengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nsangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nmemberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas....\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu...!!! Cepat lepas... nanti kulaporkan kau ke om mu...&quot; teriak tante Ida dengan suara garang mencoba mengancamku.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;Aku tak lagi peduli, salah tante Ida sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai tante Ida menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku.\n\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nDia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara tante Ida terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meramas-ramas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh tante Ida yang 155 cm dan mungil itu.\n",1] );  //--></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Eeeehhhh&#8230; ppppffffff&#8230;!!! badan tante Ida seketika</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> sangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas&#8230;.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">&#8220;Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu&#8230;!!! Cepat lepas&#8230; nanti kulaporkan kau ke om mu&#8230;&#8221; teriak tante Ida dengan suara garang mencoba mengancamku.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Aku tak lagi peduli, salah tante Ida sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai tante Ida menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara tante Ida terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meramas-ramas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh tante Ida yang 155 cm dan mungil itu. <!-- D(["mb","\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nAkibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari tante Ida, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari tante Ida, penisku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke penisku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok penisku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya.\n\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nKemudian ketika dengan perlahan kubuka baju tante Ida, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara tante Ida yang padat berisi...\n\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Tooonnnn... aaammmpuunn... Toonnnnn... iiii.. iiingaaattttt.. Tooonnn..!!!&quot;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nKucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;&quot;Iiiiiiiiii…..ooohhhhhhh…..aaaagggghh\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;",1] );  //--></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari tante Ida, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari tante Ida, penisku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke penisku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok penisku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju tante Ida, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara tante Ida yang padat berisi&#8230; </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Tooonnnn&#8230; aaammmpuunn&#8230; Toonnnnn&#8230; iiii.. iiingaaattttt.. Tooonnn..!!!&#8221;</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">&#8220;Iiiiiiiiii…..ooohhhhhhh…..aaaagggghh</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><!-- D(["mb","\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;hhhhh……..ssssshhhhhhh…….\u003cWBR\&gt;.Toooonnnnn……! !!!!&quot; akibat perlakuanku itu,\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;kayaknya tante Ida mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh tante Ida bergetar dengan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;kuat dan……..\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;&quot;Aaaahhhhhh..Toooonnnn…jaaa..jaaa\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;angaaannn….Tooonnnn……iiii\u003cWBR\&gt;…ngaaaatttt..Tooo nnn…\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;oooohhhhhhh…………aaaaaggggghhh…aaaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh…!!!!!&quot;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat,\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;serta kedua tangannya mendekap punggung ku….Seerrr.. cairan kewanitaan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;",1] );  //--><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">hhhhh……..ssssshhhhhhh……..Toooonnnnn……! !!!!&#8221; akibat perlakuanku itu,</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">kayaknya tante Ida mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh tante Ida bergetar dengan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">kuat dan……..</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">&#8220;Aaaahhhhhh..Toooonnnn…jaaa..jaaa</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">angaaannn….Tooonnnn……iiii…ngaaaatttt..Tooo nnn…</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">oooohhhhhhh…………aaaaaggggghhh…aaaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh…!!!!!&#8221;</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat,</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">serta kedua tangannya mendekap punggung ku….Seerrr.. cairan kewanitaan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><!-- D(["mb","tante Ida membasahi CD nya sekalian jemariku.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan tante Ida melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah.\n\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nKami terdiam sejenak, sementara tubuh tante Ida bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik tante Ida masih menggenggam penisku yang masih tegak mengacung.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;Akhirnya secara perlahan-lahan kepala tante Ida menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya…\n\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Oooohhhh….Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini…….?????&quot;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Eeeehhmmm…maafkan Anton tante….Anton lupa diri….abis tante tadi masuk\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ntiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks….salah tante sendiri\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nsihhh…….lagi pula…tante amat cantik sihhh…..!!!!!!&quot; sahutku mencari-cari\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;",1] );  //-->tante Ida membasahi CD nya sekalian jemariku.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan tante Ida melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Kami terdiam sejenak, sementara tubuh tante Ida bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik tante Ida masih menggenggam penisku yang masih tegak mengacung.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Akhirnya secara perlahan-lahan kepala tante Ida menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya… </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Oooohhhh….Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini…….?????&#8221;</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Eeeehhmmm…maafkan Anton tante….Anton lupa diri….abis tante tadi masuk</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> tiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks….salah tante sendiri</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> sihhh…….lagi pula…tante amat cantik sihhh…..!!!!!!&#8221; sahutku mencari-cari</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nalasan sekenanya.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nSekarang kayaknya tante Ida sudah pasrah dan sambil tanganya masih\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nmenggenggam penisku katanya lagi..\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Tooonnnn…..punya kamu gede amat yaaaa…????. Punya Om mu nggak sampai\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nsegede ini..!!&quot;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Aaahhhhh, tante…apa betull…?????!&quot; memang penis ku panjangnya 20\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ncm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nsangat bernafsu begini.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nJemari lentik tante Ida yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nmemainkan penisku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ntante Ida tak mau lepas dari situ.",1] );  //--><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> alasan sekenanya.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Sekarang kayaknya tante Ida sudah pasrah dan sambil tanganya masih</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> menggenggam penisku katanya lagi..</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Tooonnnn…..punya kamu gede amat yaaaa…????. Punya Om mu nggak sampai</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> segede ini..!!&#8221;</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Aaahhhhh, tante…apa betull…?????!&#8221; memang penis ku panjangnya 20</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> sangat bernafsu begini.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Jemari lentik tante Ida yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> memainkan penisku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> tante Ida tak mau lepas dari situ.<!-- D(["mb","\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Taaannnnn…., kok diiiii…..dii…diamin aja, dikocok dong, Taannn…. biar\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nenaaakkk….!!!!&quot;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja….aaaaggghhh….!!!&quot;, perlahan-lahan kedua\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ntanganku menekan bahu tante Ida, sehingga tubuh tante Ida berjongkok dan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nsesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ntangannya segera menggenggam penisku dan kemudian tante Ida mulai\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nmenjilati kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nmenerima rangsang dari mulut tante Ida. Dijilatnya seluruh batang\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nkemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nterlewat dari sapuan lidahnya.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;",1] );  //--></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Taaannnnn…., kok diiiii…..dii…diamin aja, dikocok dong, Taannn…. biar</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> enaaakkk….!!!!&#8221;</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja….aaaaggghhh….!!!&#8221;, perlahan-lahan kedua</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> tanganku menekan bahu tante Ida, sehingga tubuh tante Ida berjongkok dan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> tangannya segera menggenggam penisku dan kemudian tante Ida mulai</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> menjilati kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> menerima rangsang dari mulut tante Ida. Dijilatnya seluruh batang</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> terlewat dari sapuan lidahnya.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nDikocoknya penisku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nMungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut tante Ida. Kurasakan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ndinding tenggorokan tante Ida menyentuh kepala penisku. Sungguh sensasi\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nsangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga tante Ida\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nmengulum penisku. Kurasakan batang penisku mulai membesar dan makin\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nmengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nMerasa aku akan keluar, tante Ida semakin cepat mengocok batang kemaluanku.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nkeluar,…….aaauuugghhhh…..taaannnn..!!!!!!!&quot;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nAkhirnya..Croott..croott..croottt.. Hampir sepuluh kali cairan itu\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;",1] );  //--></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Dikocoknya penisku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Mungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut tante Ida. Kurasakan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> dinding tenggorokan tante Ida menyentuh kepala penisku. Sungguh sensasi</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga tante Ida</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> mengulum penisku. Kurasakan batang penisku mulai membesar dan makin</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Merasa aku akan keluar, tante Ida semakin cepat mengocok batang kemaluanku.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> keluar,…….aaauuugghhhh…..taaannnn..!!!!!!!&#8221;</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Akhirnya..Croott..croott..croottt.. Hampir sepuluh kali cairan itu</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nmenyembur dari ujung penisku. Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nsemua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ntetapi penisku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nMelihat itu, tante Ida mencium-cium kepala penisku dan menjilat-jilatnya\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nhingga bersih.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nKemudian kutarik berdiri tubuh tante Ida dan kudorong ke tempat tidur,\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nsehingga tante Ida terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nrok sekalian CD nya, sehingga sekarang tante Ida terlentang diatas\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ntempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nkeadaan telanjang bulat. Tante Ida hanya menatap ku dengan pandangan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;",1] );  //--><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> menyembur dari ujung penisku. Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> tetapi penisku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Melihat itu, tante Ida mencium-cium kepala penisku dan menjilat-jilatnya</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> hingga bersih.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Kemudian kutarik berdiri tubuh tante Ida dan kudorong ke tempat tidur,</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> sehingga tante Ida terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> rok sekalian CD nya, sehingga sekarang tante Ida terlentang diatas</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> keadaan telanjang bulat. Tante Ida hanya menatap ku dengan pandangan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nyang sayu dan terlihat pasrah.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nAku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\naku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nkemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nKupegang batang penisku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kemaluannya,\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nsambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ntante Ida, penisku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan tante Ida dan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nku tempatkan pada batang penisku, segera digengamnya penisku dan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ndiarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\npenisku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan tante Ida.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;",1] );  //--><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> yang sayu dan terlihat pasrah.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Kupegang batang penisku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kemaluannya,</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> sambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> tante Ida, penisku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan tante Ida dan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> ku tempatkan pada batang penisku, segera digengamnya penisku dan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> penisku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan tante Ida.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nTerasa lobang kemaluan tante Ida sangat sempit mencengkeram batang\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nkemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku,\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nkutekan lagi dan tubuh tante Ida menggeliat…\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Oooooohhhhhh... Toooonnnn... bee.. beeeesaaarrrr\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\naaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan... pee laaan... Tooooonnnnn... ooooohhhhh..!!!!!&quot; tante Ida merintih perlahan.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam... terus... terus.... ooohhhhhh... eeeenna aaak... benaaarrrr... terasa jepitan kuat dinding kemaluan tante Ida yang menjepit rapat batang kemaluanku.\n\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nPerasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini…..\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Taaaaannnnn……ooohhhhhh…..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk…taannnnn….!!!!&quot;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nDengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, tante Ida memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku.\n",1] );  //--></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Terasa lobang kemaluan tante Ida sangat sempit mencengkeram batang</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> kemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku,</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> kutekan lagi dan tubuh tante Ida menggeliat…</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Oooooohhhhhh&#8230; Toooonnnn&#8230; bee.. beeeesaaarrrr</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> aaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan&#8230; pee laaan&#8230; Tooooonnnnn&#8230; ooooohhhhh..!!!!!&#8221; tante Ida merintih perlahan.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam&#8230; terus&#8230; terus&#8230;. ooohhhhhh&#8230; eeeenna aaak&#8230; benaaarrrr&#8230; terasa jepitan kuat dinding kemaluan tante Ida yang menjepit rapat batang kemaluanku. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini…..</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Taaaaannnnn……ooohhhhhh…..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk…taannnnn….!!!!&#8221;</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, tante Ida memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku. <!-- D(["mb","\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nKugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga penisku\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nterbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam….. dalam….. terus……\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nterus….. daannnn….. ….kemudian……ujung kepala penisku terasa mentok,\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nkarena beberapa kali tubuh tante Ida mengejang ketika aku mencoba\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nmenekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nmemompa keluar masuk.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nDengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nyang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nsensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha tante Ida\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nterkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam",1] );  //--></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga penisku</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> terbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam….. dalam….. terus……</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> terus….. daannnn….. ….kemudian……ujung kepala penisku terasa mentok,</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> karena beberapa kali tubuh tante Ida mengejang ketika aku mencoba</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> memompa keluar masuk.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha tante Ida</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam<!-- D(["mb","\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ndasar lobang kemaluannya. Aku dapat melihat payudara tante Ida\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nbergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk penisku\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ndalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nKemudian kurasakan otot-otot kemaluan tante Ida dengan kuat menyedot\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\npenisku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan tante Ida menjepit penisku. Kulihat wajah tante Ida nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;&quot;Aaaaaaddduuuuuhhhhh….Toooonnn.. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg..\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;hhaa..hhaa…Toooonn …taaannnn…teeeee…maaa…. Maaauuuu…keee…\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn…!!!!!!!.&quot;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;Dan….. Seeeeerrrr…..kurasakan cairan hangat membasahi penisku.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;",1] );  //--></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> dasar lobang kemaluannya. Aku dapat melihat payudara tante Ida</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> bergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk penisku</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan tante Ida dengan kuat menyedot</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">penisku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan tante Ida menjepit penisku. Kulihat wajah tante Ida nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">&#8220;Aaaaaaddduuuuuhhhhh….Toooonnn.. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg..</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">hhaa..hhaa…Toooonn …taaannnn…teeeee…maaa…. Maaauuuu…keee…</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn…!!!!!!!.&#8221;</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Dan….. Seeeeerrrr…..kurasakan cairan hangat membasahi penisku.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><!-- D(["mb","Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu tante Ida menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan tante Ida telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran penisku yang besar.\n\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nTak kuhiraukan lagi suara tante Ida yang menjerit-jerit kesakitan, yang\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\npenisku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nberusaha untuk keluar dari batang penisku. Kucoba untuk menahannya\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\nselama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\ntante Ida akhirnya meruntuhkan pertahananku.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Aaaaaauuddddduuhhhh... taaannnnnn... teeeee... oooooohhhhh….",1] );  //-->Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu tante Ida menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan tante Ida telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran penisku yang besar. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> Tak kuhiraukan lagi suara tante Ida yang menjerit-jerit kesakitan, yang</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> penisku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> berusaha untuk keluar dari batang penisku. Kucoba untuk menahannya</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> tante Ida akhirnya meruntuhkan pertahananku.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Aaaaaauuddddduuhhhh&#8230; taaannnnnn&#8230; teeeee&#8230; oooooohhhhh….<!-- D(["mb",".!!!!&quot; keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;…croott.. croott….croooootttt….semburan..maniku menyemprot dengan kuat,\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan tante Ida, kemudian\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi tante Ida, sementara\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;kuubiarkan penisku tetap didalam kemaluan tante Ida untuk merasakan\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan kemaluan tante Ida tetap saja\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;&quot;Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!!&quot; kataku dengan manja.\n\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n&quot;Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak tantemu sendiri kamu perkosa juga…..!!!!&quot;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\n\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;&quot;Iiihhhhh…tante…..tapi tante senang juga….kaannnn …..????&quot;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;",1] );  //-->.!!!!&#8221; keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">…croott.. croott….croooootttt….semburan..maniku menyemprot dengan kuat,</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan tante Ida, kemudian</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi tante Ida, sementara</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">kuubiarkan penisku tetap didalam kemaluan tante Ida untuk merasakan</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan kemaluan tante Ida tetap saja</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">&#8220;Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!!&#8221; kataku dengan manja. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"> &#8220;Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak tantemu sendiri kamu perkosa juga…..!!!!&#8221;</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">&#8220;Iiihhhhh…tante…..tapi tante senang juga….kaannnn …..????&#8221;</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><!-- D(["mb","\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;&quot;Iya.. siiihhh….!!!!!&quot; kata tante Ida malu-malu.\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003c/span\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;Sejak saat itu sikap tante Ida terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik tante Ida. Aku dan tante Ida sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap tante Ida, apalagi tante Ida melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati.\n\u003c/span\&gt;\u003c/div\&gt;\n\u003cdiv\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003c/span\&gt; \u003c/div\&gt;\n\u003cdiv\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana\"\&gt;\u003c/span\&gt; \u003c/div\&gt;\n\u003c/p\&gt;\n    \u003c/div\&gt;  \n\n    \n    \u003cspan width\u003d\"1\" style\u003d\"color:white\"\&gt;__._,_.___\u003c/span\&gt;\n    \n    \u003cdiv\&gt;\n              \u003cspan\&gt;\n          \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/cerita_seks_erotis/message/5058;_ylc\u003dX3oDMTM0ajc2a2tkBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzcyMzAyMDAEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDgzNzY0BG1zZ0lkAzUxMDMEc2VjA2Z0cgRzbGsDdnRwYwRzdGltZQMxMTczOTAxMDU0BHRwY0lkAzUwNTg-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n            Messages in this topic          \u003c/a\&gt; (\u003cspan\&gt;9\u003c/span\&gt;)\n        \u003c/span\&gt;\n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/cerita_seks_erotis/post;_ylc\u003dX3oDMTJwZml1dDVvBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzcyMzAyMDAEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDgzNzY0BG1zZ0lkAzUxMDMEc2VjA2Z0cgRzbGsDcnBseQRzdGltZQMxMTczOTAxMDU0?act\u003dreply&amp;messageNum\u003d5103\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n          \u003cspan\&gt;\n            Reply          \u003c/span\&gt; (via web post)\n        \u003c/a\&gt;  | \n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/cerita_seks_erotis/post;_ylc\u003dX3oDMTJlb3Zldm4wBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzcyMzAyMDAEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDgzNzY0BHNlYwNmdHIEc2xrA250cGMEc3RpbWUDMTE3MzkwMTA1NA--\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n          Start a new topic        \u003c/a\&gt;\n          \u003c/div\&gt; \n    \n    \n    \u003cdiv\&gt;",1] );  //--></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">&#8220;Iya.. siiihhh….!!!!!&#8221; kata tante Ida malu-malu.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Sejak saat itu sikap tante Ida terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik tante Ida. Aku dan tante Ida sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap tante Ida, apalagi tante Ida melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/surgadunia.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/surgadunia.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/surgadunia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/surgadunia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/surgadunia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/surgadunia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/surgadunia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/surgadunia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/surgadunia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/surgadunia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/surgadunia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/surgadunia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/surgadunia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/surgadunia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/surgadunia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/surgadunia.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=14&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://surgadunia.wordpress.com/2007/03/16/di-rumah-tanteku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/201112ee97f0805487f43bf36143f1ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">surgadunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Dengan Mbak Yati</title>
		<link>http://surgadunia.wordpress.com/2007/02/19/pengalaman-dengan-mbak-yati/</link>
		<comments>http://surgadunia.wordpress.com/2007/02/19/pengalaman-dengan-mbak-yati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Feb 2007 03:32:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>surgadunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surgadunia.wordpress.com/2007/02/19/pengalaman-dengan-mbak-yati/</guid>
		<description><![CDATA[Aku pernah punya pengalaman menarik dengan Mbak Yati. Mulanya aku kenal Mbak Yati sewaktu ia bekerja menjadi juru masak di rumah seorang asing, Mr. Bernard; sedangkan aku memiliki hubungan kerja dengan Mr. Bernard. Pertemuan kami pertama kali adalah sewaktu ada jamuan makan malam di rumah Mr. Bernard. Secara tak sengaja kami berkenalan.   Suatu ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=13&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku pernah punya pengalaman menarik dengan Mbak Yati. Mulanya aku kenal Mbak Yati sewaktu ia bekerja menjadi juru masak di rumah seorang asing, Mr. Bernard; sedangkan aku memiliki hubungan kerja dengan Mr. Bernard. Pertemuan kami pertama kali adalah sewaktu ada jamuan makan malam di rumah Mr. Bernard. Secara tak sengaja kami berkenalan.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-13"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Suatu ketika Mr. Bernard pulang ke negerinya untuk memperpanjang visa sekaligus cuti selama satu bulan. Aku diminta untuk sesekali datang menengok rumahnya, sedangkan Mbak Yati datang sesekali untuk memasak bagi tukang kebon yang datang dua kali seminggu mengurus halaman rumah dan memperbaiki bagian tertentu rumah Mr. Bernard yang mengalami sedikit kerusakan.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Suatu hari aku mampir ke rumah Mr. Bernard dan memperhatikan tukang kebon yang sudah bersiap-siap pulang ke rumahnya sebab sudah sore. Aku menunggu Mbak Yati membereskan dapur sambil menikmati masakannya. Sewaktu makan, aku tidak sadar, Mbak Yati sudah ada di belakangku dan kurasakan tangannya menyentuh pundakku sambil bertanya, “Enak masakanku, Mas?” “Hmm, lezat betul, Mbak,” jawabku sambil merasakan betapa bagian belakang kepalaku pelan-pelan secara tak sengaja sudah bersentuhan dengan dadanya. Entah ia sadar atau tidak atas keadaan tersebut, tangannya menepuk bahuku sambil berkata, “Tambah lagi Mas. Habiskan saja, aku sudah makan koq.” “Ya Mbak, so pasti. Aku suka masakan Mbak, apalagi yang masak orangnya cantik.” “Ah, bisa aja Mas menggodaku, awas ntar kucubit lho!” “Awww!” jeritku karena ternyata ia benar-benar sudah mencubit daguku. Aku yang tidak menduga demikian, kaget, apalagi saat itu sedang minum, sehingga gelas yang kupegang terguncang dan sebagian isinya tumpah ke celanaku. “Aduh, gimana sih Mbak?” kataku pura-pura marah. “Aduh, maaf ya Mas,” sesalnya sambil mengambil lap membersihkan celanaku. Aku agak bergetar waktu lap itu ia sapukan di pangkuanku dan penisku merasakan sentuhan tangannya. “Nggak apa-apa Mbak,” kataku sambil mengendus harum rambutnya yang ada di bawah daguku sewaktu ia mengelap celanaku. Entah disengaja atau tidak, tiba-tiba ia terjatuh sehingga tubuhnya terjatuh ke pangkuanku dan kurasakan payudaranya di atas pangkuanku. “Wah, koq malah terpeleset. Maaf ya Mas, aku tidak sengaja,” katanya hendak bangkit berdiri. Tapi aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan cepat kubalikkan tubuhnya yang masih di atas pangkuanku dan melabuhkan ciuman pada bibirnya. “Ehmphhh,” erangnya mencoba menolak, tapi tak kuasa melawan apalagi aku langsung memeluk tubuhnya dengan erat. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Mula-mula ia melawan, tapi lama kelamaan ciumanku mendapatkan balasan.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku kemudian tersadar dan memegang kedua lengannya agar berdiri. “Aku …. aku minta maaf Mbak, sudah begitu lancang,” kataku menyesali diri. Ia kelihatan gugup dan wajahnya memerah, tapi kemudian ia berkata, “Nggak Mas, jangan minta maaf. Aku yang salah koq,” sambil membereskan peralatan makan di meja dan membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Kudengar suara kran air tanda ia mencuci perabot di dapur. Lalu aku mencoba mencari kesibukan sambil menenangkan gejolak di dada, dengan mencari-cari majalah di ruang keluarga. Aku membaca-baca majalah sambil menonton TV. Tak lama kemudian Mbak Yati datang dan duduk di seberangku sambil bertanya, “Belum ada rencana pulang Mas?” “Ntar lagi deh Mbak. Baru selesai makan, makanannya masih di leher nih,” candaku untuk mengenyahkan kekakuan akibat kejadian tadi. “Tapi kalau Mbak sudah mau pulang, nggak apa-apa duluan aja, nanti aku yang bereskan rumah dan titipkan kunci ke rumah Mbak,” lanjutku. “Nggak apa-apa Mas, aku pulang juga tidak ada siapa-siapa di rumah, anak-anak sedang libur ke rumah neneknya; tadi siang suamiku mengantar mereka ke Surabaya dan malam ini aku sendirian di rumah,” jawabnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku membaca-baca sambil setengah rebahan. Kurasakan Mbak Yati memperhatikan aku agak lama, lalu kudengar suaranya, “Mas kelihatan lelah ya? </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dari tadi kuperhatikan kayak kurang tidur?” “Cuma capek dikit, Mbak. Semalam ada tugas kuliah, jam tiga baru tidur, padahal pukul tujuh tadi sudah ke kampus karena ada ujian. Tapi emang dari tadi rasanya pegal-pegal, kayak masuk angin,” kataku. “Bagaimana kalau Mas Agus kupijat?” ia menawarkan. “Wah, mimpi apa semalam dapat tawaran untuk dipijat orang secantik Mbak Yati?” batinku. Mendengarku tidak segera menjawab, ia kemudian menambahkan, “Ya udah deh Mas, kalau tidak mau juga nggak apa-apa sih. Mbak emang tidak pintar ngurut, tapi kalau cuma menghilangkan pegal-pegal, Mbak sudah biasa ngurut suami dan kata suami Mbak, yah lumayan sih.” “Nggak usah deh Mbak. Aku sungkan,” jawabku setelah mendengar kata-katanya. “Lho, kenapa gitu Mas? Mas Agus malu ya karena kejadian di kamar makan tadi?” desaknya. “Bukan itu Mbak, walaupun memang ada sedikit sih. Aku nggak kuat bayarnya ntar, abis mana punya duit buat bayar tenaga Mbak ngurut badanku,” godaku sambil berharap ia meneruskan niatnya untuk memijat tubuhku. “Ihhh, Mas ini kayak orang lain aja. Kan Mbak sudah kayak keluarga sendiri, masak harus bayar sih? Malah Mbak bangga kalau bisa menyenangkan hati Mas Agus, seorang mahasiswa yang sebentar lagi jadi sarjana,” pujinya. “Oke deh Mbak. Tapi kalau capek nggak usah lho, ntar malah aku dimarahin suami Mbak kalau dia tahu,” kataku sambil menyelidiki hatinya. “Kan Mbak tidak usah cerita-cerita sama dia. Tapi Mas Agus juga tidak usah bilang siapa-siapa. Itu aja syaratnya. Bagaimana Mas? Jadi? Biar kuambil minyak gosok?” jawabnya. Aku menjawab dengan anggukan kepala. Kulihat dia berjalan ke arah kamarnya yang terletak di bagian belakang, dekat dapur rumah Mr. Bernard. Tidak lama kemudian ia kembali sambil membawa sebotol minyak, bantal dan tikar kecil. “Ayo Mas, baring di sini,” katanya sambil menggelar tikar dan meletakkan bantal di salah satu ujung tikar tersebut. Aku membaringkan tubuhku. “Bajunya dibuka dong Mas!” pintanya. Agak kikuk rasanya membuka baju, tapi sudah kepalang basah. Kubuka baju dan kaos singletku. “Kalau Mas tidak segan, pakai kain sarung aja,” katanya lagi. “Waduh, benar-benar pucuk di cinta ulam tiba, kayak dapat durian runtuh nih,” pikirku, “Berarti ia akan pijat tubuhku mulai dari kaki, bukan cuma punggung?” “Aku ambilin kain sarung suamiku ya? Ada di kamarku,” katanya tanpa meminta persetujuanku lagi, ia kembali ke kamarnya dan kemudian keluar sambil membawa kain sarung. “Maaf ya Mbak, aku buka celana panjang di sini aja,” kataku meminta sambil mengambil kain sarung dari tangannya dan memasukkan dari kepalaku menutupi celana panjangku kemudian kulepaskan ikat pinggang dan celanaku. “Ya Mas, nggak apa-apa,” jawabnya. Maka lengkaplah sudah. Aku berbaring telungkup di tikar dengan bertelanjang dada dan mengenakan celana dalam serta kain sarung milik suaminya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Mbak Yati mulai memijat ujung kakiku. Kurasakan jari-jarinya mengurut dengan lihay, sehingga kurasakan betapa nikmat pada betis dan kakiku. Saking enaknya pijatannya, tanpa terasa mataku terpejam dan rasa kantuk menyerangku. Aku benar-benar menikmati remasan dan pijatan jari-jarinya, hingga lagi-lagi tanpa terasa mataku benar-benar terpejam sejak ia memijat bagian belakang kepala, leher, punggung sampai ke bagian pinggulku. Entah sudah berapa lama aku tertidur, dan kudengar lapat-lapat suaranya, “Ayo Mas, sekarang terlentang …..” Dengan setengah sadar kubalikkan tubuhku mengikuti perintahnya. Kembali ia mengurut dari jari-jari kakiku, naik ke tumit, betis dan lututku. Nikmat benar kurasakan sehingga kembali mataku terpejam serasa ingin tidur lagi. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Sempat aku curiga jangan-jangan ada obat tidur dalam masakannya tadi. Tapi aku tidak mau memusingkan otak dengan prasangka macam-macam, sebab memang semalam aku kurang tidur.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku hampir pulas sewaktu kurasakan jari-jarinya semakin naik mengurut dari bagian lutut dan naik kembali ke bagian pahaku dan perlahan-lahan tangannya menyingkap kain sarung yang kupakai. Rasa nikmat semakin menjalari diriku sewaktu kusadari jari-jarinya yang sesekali mulai menyentuh pangkal pahaku, bahkan entah disengaja atau tidak, testisku tersentuh jarinya, hingga perlahan-lahan kesadaranku mulai pulih. Tapi aku pura-pura tertidur sewaktu kudengar suaranya memanggil, “Mas Agus, Mas … udah tidur ya? Wah, Mas malah tidur, capek banget rupanya?” Kurasakan tangannya menggoyang-goyang pahaku, tapi mataku pura-pura kupejamkan, ingin tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Namun tanpa dapat kucegah, penisku kurasakan semakin tegang. Kurasakan jari-jarinya mengurut pahaku dan pelan-pelan menyusup dari celah-celah celana dalamku serta membelai-belai testisku, sehingga ketegangan penisku semakin bertambah. Sambil menahan nikmat, dengan mata agak memicing, kuintip kelakuan Mbak Yati. Dari celah-celah kelopak mataku yang sedikit terbuka, kulihat bagaimana ia memandangi pangkal pahaku dengan tatapan sayu dan kurasakan sesekali jari jemarinya menyentuh pangkal penisku dan membelai rambut-rambut di sekitarnya. Jari-jari tangan kirinya masih terus memijat paha kananku, tetapi tangan kanannya semakin cekatan membelai testis dan pangkal penisku yang terus bertambah tegang. Aku rasanya ingin merintih, tapi kutahan agar ia tidak tahu bahwa aku berpura-pura tidur. Belaiannya pada rambut lebat di pangkal pahaku begitu nikmat apalagi ketika kurasakan jari-jarinya menekan-nekan lembut wilayah pangkal penis hingga ke anusku. Kupejamkan mataku menahan nikmat tak terperikan. Aku masih terus pura-pura tertidur, sebab penasaran ingin tahu aksi berikut yang akan dilakukannya. Bahkan kurasakan kain sarung yang kukenakan telah turun hingga ke lututku dan di hadapannya aku terbaring terlentang hanya dengan mengenakan celana dalam. Sebenarnya aku risih dan malu menyadari hal itu, tetapi perasaan itu semakin lenyap karena rasa penasaran atas ulah Mbak Yati dan memang di hati kecilku terbersit keinginan ingin bersetubuh dengannya, tapi khawatir tak terwujud sebab ia sudah bersuami. Sambil memejamkan mata, tanpa dapat kucegah lagi, rintihan keluar dari bibirku, “Ougghhhh … ahhhh ….”  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Sekonyong-konyong kurasakan tubuh Mbak Yati menindih tubuhku dan bibirnya dengan liar mencari-cari dan mengulum bibirku diiringi erangannya, “Ohhhh … Massss … aku tidak kuat mau ciumanmu seperti tadi lagi … akhhhh ….. ” Bahkan dengan garangnya, Mbak Yati memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Tanganku tidak lagi merangkulnya tapi mulai bermain di bagian dadanya dan pelan-pelan kususupkan tanganku merasa payudaranya dari celah-celah bajunya. Ia makin mengerang, “Oughhh …. ahhhh, jangan Mas … ohhhhh,” erangnya tapi tetap membiarkan tanganku terus meremas-remas payudaranya dan memilin putingnya. Tangannya tak mau ketinggalan, mulai membelai-belai dadaku dan membukai kancing bajuku. Jari-jarinya bermain dengan lincahnya pada puting dadaku, sehingga rasa nikmat semakin menjalari diriku.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku merebahkan dirinya ke atas tikar, pakaiannya acak-acakan, karena tadi sudah kubuka beberapa kancingnya. Aku kembali menciumi bibirnya sambil meremas payudaranya. Baju atasnya sudah terbuka dan tali pengait BH-nya sudah kulepaskan, sehingga jari-jariku dengan bebasnya membelai puting payudaranya. Matanya semakin membeliak waktu puting payudaranya kuciumi dengan perlahan. Putingnya semakin tegang dalam kuluman mulutku. “Uhhh, luar biasa payudara Mbak Yati ini,” pikirku, “Anaknya sudah tiga dan yang tertua sudah kelas 2 SMA, tapi payudaranya masih kenyal? Apa resepnya hingga ia bisa begini?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ahhhh ….. enaknya Mas, Ougghhhh ….,” rintihnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Enak mana sama ciuman suami Mbak?” tanyaku di sela-sela jilatan dan kuluman bibirku pada payudaranya.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ehmm … ahhh … enakan jilatan Mas …. Suamiku maunya langsung tancap kontolnya di kemaluanku. Ougghh … ia … ia … tidak biasa lama-lama seperti Mas yang begitu pandai memainkan buah dadaku. Ohhhh … nikmattt … Massss” rintihnya. Rintihannya makin menjadi-jadi sewaktu jilatanku turun ke perutnya dan pangkal pahanya. Perlahan-lahan pahanya membuka dan kusingkapkan rambut-rambut di vaginanya yang kuraba mulai basah. “Ahhhh … jijik Mass … jangan cium itu …. bau akhhhh,” jeritnya saat lidahku mulai membelai-belai klitorisnya yang makin tegang.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nggak koq Mbak, siapa bilang jijik? Ini justru bisa membuat Mbak menikmati surga dunia. Emangnya suami Mbak tidak suka menciumi vagina Mbak?” tanyaku di sela-sela jilatan lidah dan bibirku pada vaginanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ehsstt … akhhh … suamiku tidak pernah menciumi seluruh tubuhku seperti Mas. Begitu ia mau bersebadan denganku, langsung saja cium bibirku, remas-remas dadaku dan menancapkan kontolnya dengan ganas dan baru juga sepuluh menit, ia sudah keluar,” pengakuannya padaku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Gila betul, masih ada suami begitu kunonya bermain seks dengan istri secantik ini?” batinku sambil terus menciumi klitoris dan mulai memasukkan lidahku menggelitik liang vaginanya.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ohhhhhh … diapain kemaluanku Mas?” erangnya. “Disayang, Mbak. Pokoknya Mbak Yati tenang aja, nikmati saja bagaimana aku membawa Mbak ke langit ketujuh,” kataku berseloroh sambil terus menjilati vagina dan klitorisnya bahkan sesekali mengisap klitorisnya hingga pinggulnya terangkat menahan kenikmatan yang ia rasakan semakin meninggi. “Mbak, kita main 69 ya?” tanyaku sambil memandang matanya yang terpejam. “Ah … nggak ngerti Mas, gimana caranya?” katanya sambil memandangiku dengan sorot mata keheranan. “Wah, ada lagi perempuan yang sudah bertahun-tahun kawin tidak ngerti posisi gini,” rutukku sambil menatap wajahnya yang sayu. “Yah, sudah deh. Mbak ikuti saja. Ntar aku yang ngajarin ya!” kataku sambil membaringkan tubuh berlawanan dengan arah tubuhnya dan memintanya naik di atas tubuhku dengan posisi kemaluannya tepat di atas wajahku dan kepalanya menghadap penisku. “Nah, udah Mbak? Gini maksudku. Sudah sering begini dengan suami Mbak kan?” tanyaku lagi menegaskan. Kurasakan napasnya di sela-sela pahaku sewaktu menjawab, “Belum pernah Mas. Kan sudah Mbak bilang tadi kalau suamiku maunya langsung masukkan kontolnya di kemaluanku?” akunya terus terang. Aku tidak tahan lagi, kuremas susunya yang kenyal sambil menarik kakinya dan kami membentuk “posisi 69” dan sepertinya Mbak Yati pasrah dengan perlakuanku. “Nah, sekarang Mbak jilati dan isap kemaluanku sambil kumainkan kemaluan Mbak ya?” pintaku sambil kembali merabai pahanya dan kembali menciumi vagina dan klitorisnya. “Yah …. oughhh … yaaaa Mas,” erangnya mulai mencium penisku dan perlahan-lahan kurasakan lidahnya menjilati kepala penisku.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Sementara batang kejantananku berada di dalam mulutnya, terasa lidahnya yang sebentar-sebentar dipermainkan (maklum dia tidak punya pengalaman <em>blowjob</em>). Aku merasa semakin tegang dan nafsu ditambah dengan posisi 69 terlihat liang senggama Mbak Yati yang kemerah-merahan dikelilingi bulu-bulu yang lebat. Kujilati bibir serta klitorisnya yang terasa agak mengeras dan beberapa saat kemudian terasa cairan membasahi lidah dan mulutku disertai kedua pahanya menjepit kepalaku, terdengar erangan Mbak Yati. Kedua tanganku merabai paha hingga lututnya terus ke arah tumitnya dan berhenti pada kedua belah pantatnya. Di situ tanganku bermain lembut meremas pantatnya dan jari-jariku kumainkan di anusnya. Saat lidahku menjilati dan bibirku mengisap klitorisnya dengan lembuat dan sesekali lidahku mengait-ngait ke liang vaginanya sambil jari telunjuk tangan kananku mulai menerobos masuk anusnya, rintihannya makin meninggi dan kurasakan betapa vaginanya semakin ditekan ke wajahku, sehingga lidahku semakin dalam memasuki liang kemaluannya yang sudah begitu basah. “Maaassss …. Akkkhhhh nikmat Massss ……..!” jeritnya sambil menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatnya secara tak beraturan. Goyangannya semakin menghebat kurasakan dan tekanan vaginanya di wajahku semakin dahsyat, sehingga bibir vaginanya benar-benar menempel pada mulutku dan kurasakan cairannya semakin deras mengalir. Aku benar-benar terangsang dengan keadaan itu, sehingga lidah dan bibirku semakin giat menjilati dan mengisap cairannya. Hentakan pantatnya begitu kuat dan ia membenamkan vaginanya ke wajahku hingga membuatku sulit bernapas. “Ahhhhhh …. akuuuuu …. nggak kuat lagi Maassssss….. ooooohhhhhhh ……….” rintihnya, tubuhnya bergetar dan kulumannya pada penisku makin menjadi-jadi, bahkan penisku ia masukkan ke mulutnya hingga hampir pangkalnya. Telunjuk tangan kananku yang sudah kuolesi dengan ludah masuk hingga pangkal ke dalam anusnya dan ujung lidahku masuk begitu dalam ke liang vaginanya dan kurasakan cairan kenikmatannya yang begitu gurih masuk ke dalam mulutku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dia sudah mengalami orgasme. Kutelan habis-habisan cairan liang senggamanya.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Pada saat hampir bersamaan aku juga merasa kenikmatan yang luar biasa, dan tanpa bisa dibendung lagi kurasakan batang kejantananku berdenyut-denyut, spermaku mendesak dan menyemprot keluar di dalam mulut Mbak Yati. Kurasakan dia tidak melepaskan batang kejantananku dari mulutnya pada saat spermaku keluar. “Mungkin ia mau membalas mengisap spermaku, karena cairan vaginanya kutelan habis,” pikirku. Ah.. luar biasa Mbak Yati ini. Kugeser badannya dan kami berdua tergeletak lemas di sofa sambil berpelukan. Kuelus-elus rambutnya yang sebahu sambil mengecup pundaknya. Ia menggelinjang kegelian sambil meraba pusar dan penisku. Nafsuku kembali bangkit dan dengan gerakan yang tak terduga olehnya, kutempatkan tubuhnya tepat di bawah tubuhku sambil menciumi bibirnya dan meremas-remas payudaranya, penisku menusuk-nusuk lembut vaginanya. Kembali ia mengerang dan membalas gerakanku dengan jalan memegang penisku dan mengarahkannya tepat pada vaginanya. Perlahan-lahan penisku mencari jalan masuk dan mulai kugerakkan masuk keluar liang vaginanya yang masih lembab. “Ahhhh … Mas Agus, terusss …. Oukhhh … nikmatnyaaaa …..” erangnya sambil menggerakkan pinggulnya ke kanan kiri. Aku semakin mempercepat gerakan naik turun di atas tubuhnya, hingga tak lama kemudian ia mengejang sambil mencakar punggungku dengan liarnya. Kurasakan perih bercampur nikmat di punggung. Kubuat gerakan memutar memasuki liang vaginanya sambil mengisap puting payudaranya. Tak lama kemudian, ia merintih dengan panjang dan kurasakan vaginanya mengisap penisku dengan ketatnya hingga kurasakan gerakanku terhenti sebab jepitannya begitu kuat. “Uhhhh …. oghhh …. nikmatnya sayangkuuuu ….” jeritnya. Kuhentakkan pantatku kuat-kuat menghunjam vaginanya sambil mengulum puting dan mengisap payudaranya dengan kuat. Kurasakan bagaimana vaginanya mengeluarkan cairan dengan begitu banyak dan mpot-mpotan liang vaginanya menjepit habis penisku. Segera kucabut penisku dan kugantikan dengan jari-jariku kutusukkan masuk ke liang vaginanya, sedangkan jari tengah tangan yang lain kugunakan untuk mencoblos anusnya yang kuperhatikan bergerak-gerak penuh rangsangan. Kurasakan jepitan liang vaginanya pada jari-jari tangan kananku, sedangkan jari tengah tangan kiriku begitu kencang dijepit oleh anusnya. Ia mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya sambil berteriak, “Massss …. aaaakku … dapat … ahhhhhh …..” Jari-jariku masih terus merangsak masuk keluar dalam liang kenikmatannya, tetapi kukombinasikan gerakanku dengan mencium labia vaginanya serta menjilati dan mengisap kuat-kuat klitorisnya serta mengisap cairan kenikmatan yang putih kental mengalir dengan derasnya dari dalam vaginanya. Ia begitu liar menggerakkan pantat dan pinggulnya akibat terjanganku pada liang vagina, klitoris dan anusnya sekaligus. Kurasakan pahanya menjepit kuat-kuat kepalaku dan getaran pahanya begitu kuat menghimpit kedua telingaku. Lalu ia tergolek lemas sambil memandangiku dengan tatapan sayu dan napas terengah-engah. “Mas, ngaso dulu ya? </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Mas belum dapet kan?” tanyanya sambil mengelus-elus lembut penisku. “Aku puas banget lho Mas, belum pernah begitu nikmat kurasakan dengan suamiku,” tambahnya. “Tenang aja, Mbak. Bila perlu kita nginap di sini malam ini untuk mereguk kenikmatan,” kataku sambil menyudahi aktivitasku menjilat dan mengisap cairannya serta merebahkan diri di sampingnya sambil memeluk dan menciumi bibirnya. Mulanya ia agak menolak waktu kucium bibirnya, mungkin merasa jijik sebab mulutku baru saja menyedot cairan vaginanya, tapi setelah kupaksakan bibirku mengulum bibirnya, ia malah terangsang lagi untuk menyambut ciumanku dan malah lidahnya masuk dengan ganas ke dalam mulutku menjilati cairan kenikmatan yang masih tersisa dalam mulutku. Kami berbaring telanjang sambil saling mengusap dan sesekali berciuman.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku berbaring sambil menatap langit-langit, sementara ruangan semakin gelap. Barulah aku sadar bahwa hari telah menjelang senja. Kutoleh jam dinding yang menunjukkan pukul 15.45. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Lama juga kami bercumbu, tadi aku makan masih pukul 14,” pikirku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Setelah permainan kami tadi yang begitu panas usai dan kami berdua masih berbaring dalam keadaan telanjang di tikar, Mbak Yati berbisik di telingaku, “Mas, antarin aku ke rumah sebentar ya, aku mau nyalain lampu, agar tetangga tidak curiga kalau rumahku kosong dan kita bisa bebas main di rumah ini.” Aku tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala sambil mencium bibirnya yang tipis sambil meremas payudara kanannya. “Aihhh, Mas Agus genit,” pekiknya sambil mencubit lenganku. Kami berdua pun berpakaian dan dengan sepeda motor kuantar ia ke rumahnya yang letaknya hanya sekitar 1 km dari rumah Mr. Bernard. Aku sengaja tidak mengantarnya persis di depan rumahnya, tapi sekitar 100 meter sebelumnya agar tetangganya tidak curiga melihatnya diantar seorang lelaki, padahal suami dan anak-anaknya sedang tidak di rumah. Tak lama kemudian, kutoleh dari kaca spion sepeda motor, Mbak Yati berjalan mendekatiku sambil membawa bungkusan plastik berisi pakaiannya. “Rupanya ia benar-benar jadi nginap denganku di rumah Mr. Bernard?” batinku senang. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Yuk Mas, kita jalan,” katanya sambil duduk di belakangku dan memeluk pinggangku erat-erat. Aku menghidupkan sepeda motor kembali ke rumah Mr. Bernard. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Sesampainya di sana, Mbak Yati segera memintaku memasukkan sepeda motorku ke dalam garasi mobil Mr. Bernard dan mengunci gerbang, kemudian menyusulku masuk ke dalam rumah. Aku baru duduk di sofa ruang keluarga, ketika kemudian ia masuk dengan langkah ringan dan mendekatiku sambil mencium bibirku dari arah belakang. “Ternyata romantis juga wanita ini,” kataku dalam hati sambil menerima kulumannya yang memabukkan. “Mas, masih mau lanjutin yang tadi, kan? Tapi kita mandi bareng ya biar segar!” ajaknya. Aku tak menolak ajakannya dan dengan berpelukan kami berdua masuk ke dalam kamar mandi Mr. Bernard. Setelah masuk kamar mandi, Mbak Yati mengaliri <em>bathub</em> dengan air dari kran dan meneteskan <em>bath foam </em>ke dalam air yang semakin banyak menggenang. Kucium bibirnya sambil memeluk pinggangnya. Ia membalas, tetapi kemudian menolak tubuhku sambil berkata, “Ntar Mas, aku ambil handuk dulu di kamarku.” Kulepaskan tubuhnya dan membuka baju dan celanaku serta menempatkan pada sampiran. Tak lama kemudian Mbak Yati masuk kembali ke kamar mandi. Tapi ia tidak segera membuka berpakaiannya. “Koq belum buka pakaian, Mbak?” tanyaku lugu. “Aku minta dibukain, ada Mas Agus ini …” rajuknya manja. Kudekati dia dan kupeluk pinggangnya sambil mencium bibirnya. Tangannya melingkari leherku dan ia membalas ciumanku dengan hangat, bahkan dengan liar lidahnya memasuki rongga mulutku dan membelit lidahku. Kubalas permainan lidahnya dengan gelitik lidahku pada lidah dan langit-langit mulutnya. Ia mendesah dan meliuk-liukkan pinggul dan pinggannya hingga penisku tertekan ke pangkal pahanya. Ciumanku kuarahkan ke dagunya, turun ke lehernya yang jenjang dan pundaknya, sesekali kuisap kulitnya dan lidahku kugerakkan menggelitik hingga ia menggeliat geli bercampur nikmat. “Ohhh, geli Mas ….” desahnya. Tanganku mengelus punggungnya sambil mencari-cari resleting bajunya, dengan sekali sentak, terbukalah bagian baju di belakangnya dan kucari pengait BH-nya serta membukanya. Maka pundaknya semakin terbuka akibat turunnya bajunya dan perlahan-lahan kulepaskan baju dan BH-nya sambil terus menciumi leher dan pundaknya bahkan bibirku mulai kuarahkan ke bagian dadanya. Kulihat matanya terpejam dan bibirnya setengah terbuka sambil terus mendesah menahan nikmat yang semakin memuncak. Setelah kubuka pakaian dan BH-nya, kucantelkan ke sampiran, maka kini ia hanya mengenakan celana dalam. Sengaja masih kubiarkan untuk serangan akhir. Bibirku mulai terpusat pada payudaranya. “Mbak, koq masih kenyal payudaramu? Diapain sih masih begini bagus?” tanyaku ingin tahu. “Ihhhh, udah tua gini koq masih dibilang bagus, kan udah agak kendor juga,” jawabnya dan lanjutnya, “Aku tetap rajin minum jamu agar tetap nampak segar. Makanya payudaraku masih bagus walaupun sudah meneteki anak dan suami. Jamu sari rapet pun kuminum agar suamiku puas, walaupun ia sangat egois, abis bersetubuh dan puas, ia tidak peduli apakah aku sudah dapet atau belum” protesnya. “Kasihan Mbak Yati, secantik ini dan sebagus ini tubuhmu, tapi punya suami yang kurang memuaskan Mbak,” komentarku sambil mengisap puting payudaranya yang semakin tegang dan memerah akibat kuluman bibir dan isapan mulutku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Selain menyedot putingnya, mulutku mengisap payudaranya yang tidak seberapa besar, tetapi kenyal hingga mulutku begitu penuh. Ia mendesah sambil menekan kepalaku makin rapat ke arah dadanya dan mengusap-usap rambutku. Jari-jari tanganku tidak lagi hanya bermain di punggungnya, tetapi mulai turun ke pinggang dan pinggulnya. Satu tanganku bermain di belahan pantatnya sedangkan yang lain mulai mengusap-usap paha bagian depannya. Ia semakin meliuk-liukkan tubuhnya menahan nikmat, “Aaaakhhhh … Mas, jangan kau siksa aku begini rupa ….” Aku tidak menjawab, tapi malah memperkeras sedotan mulut pada payudara kanannya sambil meremas payudara kiri. Tanganku yang bermain di pahanya mulai membelai rambut-rambut halusnya dan mencari klitorisnya. Begitu kutemukan tonjolan sebesar kacang tanah itu karena sudah menegang, kuusap dengan gerakan melingkar, kugesek ke kanan dan kiri, muka dan belakang, sehingga ia semakin merintih, “Ooougghhhh … aduh nikmatnya sayanggg …..  aaaakkkkhhhhh ….” Aku terus mengisap putingnya dan kedua belah payudaranya secara bergantian. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dengan gerakan cepat, kuturunkan tubuhku berlutut di depannya dan mulai menjilati klitoris dan vaginanya. Kuangkat sebelah kakinya dan menempatkannya agar menapak di pinggiran <em>bathtub</em>, sehingga belahan vaginanya terkuak lebar. Kedua labia vaginanya kusentuh lembut dan sambil mengusap-usap labia dan klitorisnya, kubuka makin lebar dan mengarahkan lidahku ke sana. “Aaaauuukkkhhhhh …. ooooohhhhh … nikmat amat Massss ….” pekiknya sambil meremas-remas rambutku. Kujilati klitorisnya yang makin tegang dan sesekali kugunakan bibirku untuk mengisap klitorisnya dengan lembut. “Ya, terusin Mas, yaaa …. gitu Massss, aduhhhhh nikmatnyaaa ….” desahnya. Jari-jariku mulai menerobos masuk ke dalam liang kenikmatannya. Kurasakan vaginanya makin basah dan terasa dindingnya berdenyut-denyut hingga mendatangkan sensasi tersendiri bagi diriku. Setelah mencoba dengan satu jari, sekarang kumasukkan telunjuk dan jari tengah tangan kananku ke dalam liang vaginanya. Mula-mula hanya sejauh satu ruas jari, namun kemudian kumasukkan semakin dalam sambil terus mencium dan menjilat klitorisnya yang sudah mengeras. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Tangan kiriku meremas pantatnya dan mengelus-elus pahanya, sehingga ia menggeliat-geliat semakin liar. Apalagi ketika telunjuk tangan kiri kuberi air ludah dan kuarahkan memasuki anusnya, geliatnya makin tak beraturan dan rintihannya semakin tinggi. Tapi aku tak kuatir suara Mbak Yati terdengar oleh tetangga, sebab rumah ini besar dan tetangga terdekat adalah orang asing yang tak pernah mau ambil pusing urusan orang lain. Kami tak peduli lagi air di <em>bathub </em>sudah memenuhi dan meluap keluar. Kini kedua kakinya bertumpu di lantai kamar mandi, tetapi agak mengangkang sehingga terlihat betapa merah warna vaginanya. Kedua tanganku menerobos liang vagina dan anusnya semakin cepat dan lidahku terus bermain di klitorisnya, Mbak Yati kulihat semakin jauh dan semakin cepat mendaki puncak kenikmatan. “Terus … terussss …. Massss ….. Oooohhh, nikmatnya …. Aihhhh kau pintar sekali Mas memuaskan aaaakkuuuu …. Ooookkkkhhh.”   Dua jari tangan kananku yang ada dalam liang vaginanya kurasakan mendapatkan perlawanan sengit, sebab denyutannya semakin kencang menjepit kedua jariku. Aku mempercepat gerakan tangan kananku masuk keluar vaginanya, sementara jari telunjuk tangan kiriku mengimbangi gerakan di bagian depan tubuhnya dengan semakin dalam memasuki anusnya, bahkan hingga ke pangkal jari. Tak kuasa lagi menahan nikmat, ia melenguh panjang dan berteriak, “Oooooohhhhh ….. akuuuuuu dapat Massss …..” Dengan satu sentakan panjang, kumasukkan jari-jariku yang ada di vaginanya sedalam-dalamnya dan lengkaplah sudah kenikmatan yang diperoleh Mbak Yati sewaktu liang vaginanya menjepit kedua jariku sementara cairan putih kental menyemprot dari dalamnya dengan deras bercampur air seninya. Sedangkan jariku yang ada di dalam anusnya mendapat cengkeraman yang kuat disertai denyutan yang luar biasa. Aku terpesona oleh begitu banyaknya cairan yang keluar dari liang vaginanya. Rupanya vagina Mbak Yati punya kelebihan dahsyat, sebab saat orgasme bisa sekaligus menyemprotkan air seni dari lubang lain yang bersebelahan dengan saluran yang menuju rahimnya. Kuarahkan mulutku tepat menempel pada kedua labia vaginanya dan menghirup cairan yang keluar, tetapi tak urung ada juga yang tak sempat kutampung, sehingga dengan kencangnya menyemprot wajahku hingga wajahku basah kuyup. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Tubuh Mbak Yati masih bergetar, apalagi bagian pinggul, pinggang dan pahanya kulihat begitu kuat bergetar, giginya gemeletuk menahan rasa nikmat yang tak terhingga. Lalu, dengan suatu gerakan ia menjatuhkan tubuhnya memelukku, hingga kami berdua jatuh bertindihan di lantai kamar mandi. Ia menciumi bibirku yang berbau cairan vagina dan air seninya, sekarang ia tidak jijik lagi, bahkan begitu menikmati cairannya sendiri. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas, ntar giliranmu ya… Aku capek nich … Abis Mas begitu nakal mempermainkan aku!” tukasnya sambil memeluk leherku. “Ya, sayang … aku sabar koq menantikan pelayanan dirimu,” ujarku sambil memeluk pinggangnya sambil duduk dengan memangku tubuhnya. Kurasakan betapa penisku yang tegang mendapatkan tekanan akibat pantatnya yang ada di atas pangkuanku. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku sambil mencoba memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Tapi aku menolak sambil berkata, “Ntar aja Mbak, di tempat tidurmu saja, biar lebih nikmat.” “Ihhhh, Mas Agus curang, aku sudah dapet, tapi kau tidak mau kupuasi,” rengeknya. “Bukan gitu Mbak, aku mau memuaskanmu beberapa kali biar lebih berkesan awal permainan kita ini. Ntar giliranku bisa menyusul, waktu kita masih banyak koq,” kataku.  </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Tak berapa lama kemudian, ia bangkit dan masuk ke dalam <em>bathtub</em>. Kuikuti dia masuk ke dalam air hangat dan berendam berdua. Ia kemudian mengusap-usap leherku, turun ke dada dan perutku lalu berhenti pada penisku yang tegang. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Di sana ia melakukan elusan lembut pada glans penis, hingga kenikmatan mulai menjalari kepalaku. Mungkin ia masih berusaha untuk membujukku untuk main di situ. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Udah say, ntar kita main di kasur aja. Aku belum pernah main di <em>bathtub</em>,” kataku, walaupun sebenarnya penasaran bagaimana rasanya main di situ. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aku juga belum pernah dengan suamiku main di <em>bathub</em>, Mas. Tapi aku penasaran sebab pernah lihat Mr. Bernard main di sini dengan istrinya padahal pintu kamar mandi ini tidak tertutup rapat, sehingga aku bisa mengintip mereka main dengan segala gaya. Wuih, hebat bener lho Mas, apalagi kuperhatikan barangnya Mr. Bernard begitu panjang dan besar, bikin istrinya merem melek waktu dicoblos,” paparnya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Panjang mana punyaku dengan punya Mr. Bernard?” godaku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Jelas punyanya dia dong, Mas. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kan orangnya lebih tinggi, karena orang asing, pasti barangnya pun beda,” jawabnya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Koq Mbak nolak waktu digoda Mr. Bernard? Tidak pengen cobain barangnya?” godaku lagi.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ihhh, apa-apaan sih Mas nanya itu? Walaupun penasaran, tapi kalau main sama dia lalu aku hamil dan punya anak dari dia, pasti orang-orang pada heboh, karena tahu itu bukan anak suamiku. Bisa-bisa aku dicerai dengan rasa malu sebab orang tahu bahwa aku selingkuh. Mana mungkin orang percaya kalau aku diperkosa, iya nggak?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ya, ya, ya,” kataku menirukan iklan di TV. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Repot juga punya anak bule, padahal jelas-jelas suami Mbak bukan bule ya? Kalau gitu gimana dong jika Mbak hamil oleh perbuatanku?” tanyaku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kalau sekarang aku tidak mungkin hamil lagi, Mas, sebab dua bulan yang lalu aku sudah bicara dengan suamiku dan kami setuju aku operasi, sehingga sehebat apapun permainan kita, aku takkan bisa hamil lagi. Tapi aku hanya bilang ini pada suami dan Mas aja orang lain selain kami yang tahu. Ntar takutnya kalau Mr. Bernard tahu, bisa-bisa ia menggodaku lagi saat ada kesempatan dan merasa tak ada penghalang yang bisa kujadikan dalih untuk menolak ajakannya. Sebab dulu aku bilang seperti tadi: jika aku hamil olehnya, lalu lahir anak bule, aku bakal malu seumur hidup.”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kemudian kualihkan percakapan. “Mbak, kalau mau main, ntar aja dech. Aku mau permainan pertama denganmu di atas ranjang, biar nikmatnya sampai ke ubun-ubun,” kataku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ahhh, alasan aja, Mas. Kan tadi di atas tikar kita udah main beneran, waktu kontolmu masuk ke dalam memekku,” katanya lagi sambil memencet hidungku dan berusaha mengusap-usap penisku lagi. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Itu kan lain, Mbak. Aku belum sampai orgasme. Apalagi aku sendiri baru kali itu melakukan hubungan badan,” keluar pengakuan jujurku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Masak sih Mas? Koq Mas Agus begitu pandai memuaskan aku sejak tadi sore. Bahkan bisa-bisanya belum keluar sama sekali,” katanya tidak percaya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Yahh, gimana sich Mbak. Aku jujur nich, buat apa bohong? Kalau nggak percaya, silakan. Tapi aku baru kali ini benar-benar main yang sebenarnya.” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Percaya, percaya, tapi tetap tidak bisa yakin. Mana ada sich laki-laki seganteng Mas Agus, sudah hampir sarjana, bahkan pernah kulihat bawa pacar ke sini, tapi koq belum pernah main sama sekali?” katanya lagi berusaha mengorek informasi tentang diriku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kalau sama pacarku itu aku sering ciuman bibir dan beberapa kali kami bercumbu dan melakukan <em>petting</em>. Mbak tahu <em>petting</em> kan?” tanyaku. Ia menganggukkan kepala. Lalu kutambahkan, “Tapi kami cuma sebatas itu aja, aku tidak mau merusak keperawanan pacarku. Takut kalau-kalau kami tidak jadi kawin padahal ia tidak perawan lagi. Ntar kasihan kalau suaminya nanti mempersoalkan hal itu.” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ihhh, masih ada ya laki-laki sekolot Mas di jaman globalisasi ini. Biasanya laki-laki sekarang begitu buas. Malah sangat bangga kalau bisa memperawani banyak gadis sebelum menikah dengan salah satunya,” godanya sambil mengusap-usap wajahku dan sesekali mencium bibirku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aku nggak tahu apa terlalu kuno, tapi yah begitulah Mbak. Aku pernah dipesan Omku, untuk tidak merusak keperawanan perempuan sebelum ia menjadi isteriku. Makanya aku berhati-hati banget. Bahkan pernah suatu ketika pacarku sampai nangis-nangis waktu suatu ketika kami bercumbu sampai ia begitu bernafsunya ingin berhubungan badan, tetapi kutolak dan kutinggalkan dia setelah menerangkan alasanku. Ia pikir aku sudah tidak cinta lagi kepadanya. Untungnya ia makin ngerti sekarang dan tidak lagi sakit hati kalau kami bercumbu tanpa melakukan hubungan badan yang sebenarnya.”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Wah, beruntung banget perempuan yang bisa mendapatkan keperjakaan Mas Agus,” puji Mbak Yati. “Siapakah perempuan itu?” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku tidak menjawab pertanyaannya. Memang aku belum pernah berhubungan badan dengan perempuan manapun sebelumnya, tetapi memang akibat bacaan porno dan <em>blue film </em>yang sering kulihat, aku banyak pelajari trik dan kiat untuk melakukan hubungan badan. Kupikir biarlah Mbak Yati menjadi guruku yang pertama untuk itu, sebab selain cantik dan masih muda, ia tentu sudah berpengalaman dan tidak ada risiko dibanding jika aku main dengan pacarku yang bisa hamil dan aku akan diminta mengawininya, padahal belum tentu ia cocok menjadi istriku kelak. Melepas keperjakaan merupakan salah satu hal yang menurutku harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Makanya setelah berciuman pertama kali dengan Mbak Yati di ruang makan tadi siang, aku memutuskan akan melepas keperjakaanku hari ini. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Hei, koq malah ngelamun. Udah deh, nggak usah dipikirin. Aku tahu Mas juga tadi sore tidak sungguhan main denganku, makanya tidak sampai puas waktu menindih tubuhku di tikar, kan?” desaknya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kucium bibirnya dengan lembut sambil mengusap payudaranya, lalu kujawab, “Sudah lama aku mengagumi kecantikan dan keindahan tubuh Mbak. Mungkin Mbak tidak pernah perhatikan, tetapi aku suka banget ama Mbak. Kalau Mbak belum nikah, malah mau kujadikan isteriku. Sayangnya Mbak sudah bersuami dan malah punya anak-anak yang sudah remaja. Aku sudah pikirkan beberapa hari ini, Mbak. Keputusanku, kalau Mbak tidak keberatan, maukah Mbak menerima keperjakaanku malam ini?” Kutatap lekat-lekat matanya sambil menantikan jawabannya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kulihat matanya berkaca-kaca sewaktu menjawab, “Terima kasih kalau Mas Agus mau memilihku sebagai perempuan yang akan menerima keperjakaanmu. Aku masih perawan waktu dinikahi suami pada umur 16 tahun, tetapi suamiku yang waktu itu berusia 27 tahun setahuku sudah melakukan hubungan badan dengan beberapa gadis dan bahkan pernah kuselidiki dan kutanyakan, dia akui hal itu, termasuk hubungannya dengan janda dan isteri orang lain.” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kasihan nasibmu Mbak, padahal kau begitu cantik. Moga hatimu terhibur mendengar pengakuan jujur dan menerima keperjakaanku nanti,” kataku menghiburnya sambil menciumi matanya dan mengisap air matanya yang terasa agak asin. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aku pernah mikir mau nyeleweng dengan laki-laki lain yang sudah beristeri. Bahkan pernah Mr. Bernard menggodaku untuk berhubungan badan waktu isterinya pulang dua minggu ke negeri mereka. Tapi aku masih bertahan untuk tidak selingkuh. Tapi anehnya malah dengan Mas Agus aku bisa begitu terbuka dan bersedia melakukan apa yang seharusnya hanya boleh dilakukan suami-isteri,” akunya sambil merengkuh tubuhku agar memeluknya. Kami pun berpelukan di <em>bathtub </em>sambil mencari bibir dan kembali  saling melumat dengan rasa cinta yang berkobar-kobar. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kami pun akhirnya mandi setelah berendam sambil saling menyabuni tubuh. Setelah usai mandi, kami berdua keluar dari <em>bathtub</em> dan saling mengeringkan tubuh dengan handuknya. Usai mengeringkan tubuh, saat ia mengambil pakaiannya untuk ia kenakan, sekonyong-konyong tanpa ia duga, kuangkat tubuh telanjangnya dan kubopong keluar kamar mandi. Ia menjerit kaget, “Auuww, Mas … awas jatuh lho!” tetapi ia tidak menolak perbuatanku, malah melingkarkan kedua tangannya merangkul leherku. Dengan keadaan telanjang, kami berdua keluar dari kamar mandi. Sesekali kulabuhkan bibirku mencium bibirnya sambil melangkah ke arah dapur, sebab setahuku kamarnya terletak di dekat dapur. Beberapa kali main ke rumah Mr. Bernard, sering kuperhatikan ia masuk kamar tersebut dan belakangan aku tahu, meskipun jarang tidur di rumah itu, ia diberikan kamar tersendiri apabila ingin beristirahat siang harinya. Dan pernah Mrs. Bernard bercerita tentang Mbak Yati yang rajin dan tak menolak apabila diminta tidur di situ jika kebetulan ada tamu keluarga itu yang datang hingga larut malam, di mana Mbak Yati harus melayani makan minum mereka dan membereskan segala sesuatunya. Ia kemudian berbisik lirih, “Mas, jangan ke kamarku, dipannya kecil. Kita ke kamar Mr. Bernard saja. Sekalian besok spreinya mau sekalian kucuci.” Mendengar kata-katanya, dengan tetap menggendongnya, aku berbalik ke arah kamar Mr. Bernard. Terasa hawa sejuk menerpa tubuh kami ketika memasuki kamar tersebut. Entah kapan Mbak Yati menghidupkan AC di kamar itu. “Lho, koq AC-nya nyala, Mbak?” tanyaku. “Tadi sebelum kita mandi, aku masuk kamar sini dan menyalakan AC, baru ambil handuk ke kamarku dan menyusul Mas Agus ke kamar mandi,” jawabnya. “Pantas ia agak lama tadi meninggalkanku di kamar mandi,” pikirku. Tanpa menutup pintu, tokh tidak ada orang lain selain kami berdua di rumah itu, kubaringkan tubuhnya yang tak ditutupi sehelai benang pun ke atas ranjang Mr. Bernard. Ukuran ranjang yang king size membuat tubuhnya begitu kecil berbaring di sana, padahal Mbak Yati termasuk tinggi, mungkin sekitar 165 Cm tingginya, sebab kalau berdiri di sampingku, tingginya sebatas telingaku. “Bbrrrr, aku kedinginan Mas …… Tolong kurangi AC-nya dong!” pintanya sambil menutupi tubuhnya dengan <em>bedcover</em>. Aku mengambil <em>remote control</em> AC, kuamati angka yang ada di situ, pantas begitu dingin, sebab angka yang tertera di situ adalah 17, kemudian kutekan tombol suhu untuk menaikkan suhu ruangan hingga angka 23<sup>0 </sup>Celcius. Setelah mengembalikan remote ke tempat semula, kumatikan lampu besar dan kunyalakan lampu tidur, sehingga kami berbaring di ruang tidur itu dalam temaram lampu yang romantis. Jam di dinding kulihat menunjuk angka 07.12. Aku naik ke atas ranjang dan menyusulnya masuk ke balik <em>bedcover</em>. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas, aku deg-degan lho,” bisiknya di telingaku waktu kuciumi wajah, bibir dan lehernya lembut. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kenapa, Mbak?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang telanjang.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aku jadi ingat waktu jadi penganten baru dulu. Rasanya seperti itu. Koq bisa ya?” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mbak mau cerita tentang Mbak dan keluarga? Sudah berapa tahun kawin dengan suami? Dan berapa orang anak Mbak, sebab aku cuma pernah liat yang perempuan umur 7 tahun?” tanyaku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Asalku dari Malang, tapi suamiku dari Sidoarjo. Aku hanya tamat SMA, karena orang tua tidak punya uang untuk menyekolahkan aku ke fakultas, walaupun aku berhasil meraih ranking kelima waktu lulus. Kami sudah 15 tahun kawin. Anak kami tiga orang. Yang tertua laki-laki, kelas 3 SMP. Yang kedua juga laki-laki kelas 1 SMP dan yang bungsu perempuan, kelas 6 SD,” paparnya. Kuusap-usap anak rambut di keningnya sambil sesekali mengecup pipinya. “Keterampilanku membuat masakan luar negeri dan kebolehanku berbahasa Inggris membuatku bisa melamar menjadi tukang masak di beberapa orang asing. Mula-mula aku menjadi tukang masak di rumah orang Belanda, lamanya 3 tahun. Waktu ia kembali ke Belanda, ia merekomendasikan aku kepada temannya yang juga orang Belanda, sehingga aku jadi tukang masaknya selama 2 tahun. Orang itu pindah tugas ke Australia, tetapi seperti yang sebelumnya, karena mereka terkesan akan kemampuanku, aku dikenalkan dengan temannya orang Italia, yaitu Mr. Bernard ini. Sudah 2 tahun aku di sini. Saking baiknya mereka, aku diberikan kamar sendiri, padahal tukang masak yang sebelumnya hanya datang pagi-pagi untuk memasak, kemudian sorenya pulang tanpa diberikan fasilitas khusus. Kadang-kadang aku risih, apalagi Mr. Bernard suka memandangiku lama-lama tanpa sepengetahuan isterinya dan bahkan pernah beberapa kali membujukku untuk berhubungan intim. Semula aku takut terus bekerja di sini, tetapi karena isterinya baik hati, tidak tega keluar, apalagi gaji suami hanya cukup untuk hidup sampai tanggal 10 tiap bulannya, padahal anak-anak butuh uang untuk sekolah. Akhirnya kukuatkan diriku untuk terus di sini dan dengan halus menolak godaan Mr. Bernard. Akhirnya ia mau menerima dan menghargai alasanku untuk tidak menerima ajakannya, bahkan ketika kutolak permohonannya untuk hanya meminta ciuman bibir. Sebab kupikir jangan-jangan aku tidak kuasa menolak dirinya jika sudah ia cium. Aku juga sadar, laki-laki seganteng Mr. Bernard pasti pandai merayu dan main seks, sebab beberapa kali, entah disengaja atau tidak, dia dan isterinya pernah bermain cinta padahal mereka tahu saya belum pulang ke rumah.”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Emang mereka tidak liat kalau Mbak memperhatikan mereka?” tanyaku penuh selidik.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Entahlah, apa karena mereka menganggap itu urusan pribadi dan tidak peduli apakah orang lain setuju atau tidak, apalagi tokh di rumah mereka sendiri? Bukan hanya di kamar mereka melakukan itu, pernah malah kupergoki mereka sedang bersetubuh di sofa ruang keluarga sewaktu melintasi ruangan itu mau meletakkan masakan ke meja makan. Tapi Anehnya, mereka bukannya malu hati dan menghentikan lalu pindah ke kamar, aku yang jadi mundur ke dapur sambil mendengar mereka tertawa lalu melanjutkan kegiatan mereka sambil merintih-rintih. Ihhhh, serem ….”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mbak tidak terangsang waktu melihat mereka sedang gituan?” tanyaku lagi.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Orang gila tuch kalau tidak terangsang liat sepasang manusia sedang bergulat gitu, Mas. Aku ya terangsang sich, tapi karena malu, cepat-cepat ke dapur. Lucunya, aku penasaran juga pengen liat lagi tanpa diketahui mereka. Akhirnya, dari celah-celah pintu dapur kuintip mereka main sampai beberapa ronde. Aku sampai terangsang berat dan celanaku basah kuyup saat menyaksikan perbuatan mereka. Ah, udah ah, jangan cerita itu lagi, bikin basah ntar,” katanya mengelak.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“He he he, ntar juga kita bakal main lagi kan, Mbak? Malah harus basah tuch vagina Mbak, kalau nggak gimana penisku bisa mendarat?” godaku sambil mencium bibirnya dengan gemas. “Oh ya, terus gimana tentang suami Mbak?” tanyaku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Oh ya, suamiku pegawai negeri golongan II. Gajinya sich kecil, tapi entah bagaimana caranya, banyak perempuan suka pada dia. Mulanya aku cemburu banget asal liat dia jalan pulang kantor kadang-kadang mampir rumah minta ijin ngantar temannya. Kayak sengaja tunjukin perempuan yang ia bonceng. Aku kadang sebel, tapi mau gimana lagi, anak-anak sudah makin besar, mau minta cerai, malu pada orang tua, walaupun dia pilihan orang tuaku sendiri. Semula aku anggap isu aja waktu dengar dari teman kantornya bahwa suamiku suka jalan dan berhubungan dengan perempuan lain, bahkan bukan cuma teman kantornya. Anehnya, atasannya tidak pernah berani menegur kelakuan suamiku dan ia tidak pernah mendapatkan peringatan atas ulahnya. Lima bulan yang lalu karena kuancam minta cerai, biar sekalian orang tuanya malu kalau kami cerai, keluar pengakuannya, kalau dia hanya pernah berhubungan dengan lima perempuan, tetapi dia berjanji tidak mengulanginya lagi. Orang tuanya sangat baik dan sayang padaku, sekarang ayah mertuaku sedang sakit-sakitan dan ia sangat marah kalau tahu perbuatan anaknya yang pernah selingkuh. Padahal sekarang malah aku yang selingkuh dengan Mas Agus,” katanya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mbak nyesal atas hubungan gelap kita?” tanyaku. Dalam hati bertanya juga, jangan-jangan tidak jadi main dengan dia, karena percakapan kami ini.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nggak koq Mas. Aku memang pernah kesal atas ulah suamiku, tapi hubungan dengan Mas Agus adalah atas keikhlasan hatiku. Aku juga cinta pada Mas, walaupun tidak tahu apakah setelah ini kita masih akan berbuat seperti tadi lagi atau hanya untuk sekarang ini, kemudian kita kembali seperti sebelumnya?” jawabnya berfilsafat.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Hatiku bersorak, namun tidak kunampakkan secara nyata. Aku berbisik di telinganya, “Mbak sayang, aku berterima kasih atas pengakuan tulusmu. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku tidak memaksa koq kalau Mbak merasa terpaksa menerima keperjakaanku. Kalau Mbak tidak berkenan, yah sudah, kita hanya <em>kissing</em> dan <em>petting</em> aja, nggak usah sampai bersetubuh. Aku juga tidak mau kalau nanti Mbak menyesali semua yang terjadi di antara kita dan malah jadi kendala dalam hubungan Mbak dengan suami,” ujarku walaupun dalam hati merasa menyesal juga karena berlama-lama bicara, sehingga rasanya bisa batal main dengan perempuan cantik ini. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nggak apa-apa Mas. Aku rela menyerahkan ragaku untukmu. Seluruh tubuhku adalah milikmu malam ini. Aku rela kau apakan sekalipun demi cintaku pada Mas Agus. Sebab Mas Agus kuperhatikan selama ini begitu baik, sopan, malah tidak begitu saja menyetubuhiku walaupun kesempatan sudah terbuka sejak tadi. Aku malah malu sebab begitu birahi terhadap Mas sejak tadi siang. Malah waktu Mas tertidur pas kupijat tadi sore diam-diam aku merabai kemaluan Mas sambil menahan nafsuku,” keluarlah pengakuannya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aku sempat tertidur tadi Mbak, saking enaknya pijatan jari-jarimu. Waktu Mbak memainkan penisku, aku sebenarnya sudah bangun, tapi aku pura-pura tidur supaya bisa terus menikmati perlakuan Mbak,” kataku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Idiiihhh, Mas Agus jahaattt … aku jadi malu nich ….” rajuknya sambil mencubiti lengan dan pinggangku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aduhhh, ampun …. ampun Mbak,” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Biarin, biar Mas tahu rasa, biar kapok. Enak aja mempermainkan aku,” katanya sambil terus mencubiti tubuhku. Aku menggeliat-geliat kegelian bercampur sakit, tapi nikmat juga kurasakan cubitannya. Akhirnya ia diam setelah kupeluk erat-erat tubuhnya dan kucium bibirnya dengan <em>French kiss style</em>. Ia mendesah dan kembali memeluk leherku dengan kedua lengannya. “Hhhhmmm, ohhh Mas ….” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Sekarang Mbak ceritakan bagaimana kehidupan seks Mbak dan suami,” desakku ingin tahu, setelah kami berciuman beberapa saat.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Buat apa sih nanya-nanya itu? Kan tadi sudah kuceritakan?” elaknya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kalau keberatan, yah sudah, Mbak. Aku hanya ingin tahu sejauh mana kehidupan seks kalian, sebab aku tidak percaya waktu Mbak tadi bilang cuma tahu satu posisi, yaitu posisi klasik di mana suami di atas dan Mbak di bawah.”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Entahlah Mas. Sejak perkawinan kami, aku hanya mau berhubungan dengan satu macam posisi dengan suami. Apalagi setelah tahu bahwa sebelum dan sesudah kami kawin, ia juga main dengan perempuan lain, rasanya tidak punya hasrat untuk melakukan hubungan dengan berbagai gaya. Padahal suami pernah memutar BF di waktu anak-anak tidak di rumah, agar aku terangsang dan mau melakukan gaya yang lain. Tapi aku tetap menolak, hingga ia tidak pernah lagi memaksa. Mungkin itu juga yang membuat suamiku bosan dan suka selingkuh.”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kalau gitu, bagaimana dong kalau ntar Mbak kuajak main dengan bermacam-macam gaya?” desakku. “Jangan-jangan Mbak menolak?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Jangan kuatir Mas. Kan sudah kubilang tadi, malam ini aku adalah milikmu. Perlakukan aku sesukamu, sebab aku percaya Mas tidak akan menyakiti aku, tetapi justru ingin membahagiakan aku. Ayolah Mas, bahagiakan aku. Mari mereguk kenikmatan bersama diriku,” pintanya dengan puitis. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kuperhatikan airmatanya menitik di bawah cahaya lampu tidur, sewaktu mengatakan hal itu, hingga membuatku terharu. Kuusap beberapa tetes air matanya dan kucium lembut bibirnya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Sudahlah Mbak. Maafkan pertanyaanku tadi. Ayolah, sekarang ijinkan aku membahagiakan dirimu dan menjadikanmu wanita sejati,” ajakku sambil memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Bedcover yang menutupi tubuh kami berdua, mulai acak-acakan karena gerakan kami yang semakin liar dan akhirnya terbukalah tubuh kami, seakan-akan dua bayi raksasa sedang bergelut.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Ia menyambut ajakanku dengan ciuman panas dan kurasakan lidahnya memilin lidahku, bahkan bibirnya mengisap lidahku sesekali, hingga aliran darahku kurasakan semakin deras. Jari-jariku mengusap pipinya, belakang telinganya dan lehernya. Bibirku kuarahkan mencium kedua matanya, bulu-bulu matanya yang lentik kuciumi dengan lembut, turun ke keningnya dan menciumi hidungnya yang mancung. Pipinya tak luput dari sasaran ciumanku, turun ke dagunya, kemudian melingkar ke belakang telinganya. Di situ lidahku bermain ke dalam rongga telinganya, hingga matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka menahan nikmat yang semakin merambati dirinya. Setelah itu kuarahkan ciuman ke lehernya lalu naik lagi ke belakang telinganya yang lain. Bibirku terus menciumi daun telinganya sambil menjulurkan lidahku ke dalam telinganya, membuatnya semakin menggeliat dan mengerang. “Aaahhh geli Mas, tapi ….. oookhhhh nikmat …. Terusin Mas …. Aduh kau pintar amat merangsang aku sayang …. ooouggghhhh ….. puaskan aku Masss…..” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Puas bermain di seputar wajah dan lehernya yang jenjang, bibir dan lidahku merambat turun ke pundaknya. Sambil menciumi pundaknya, lidahku kugerakkan menggelitik kulit, membuatnya kembali terangsang hebat. Apalagi ketika kubuat gerakan menggigit lembut, sehingga ia membusungkan dadanya menampilkan payudara dengan putingnya yang kuperhatikan makin tegang. Tanganku kuarahkan merangsang kedua ketiaknya dan perlahan-lahan menekan kedua belahan payudaranya. Remasan demi remasan yang kulakukan di bagian itu kubarengi dengan ciuman dan jilatan bibir dan lidah pada pundak dan dadanya, tapi sengaja putingnya belum kusentuh. Ia merasa penasaran dan menekan wajahku ke dadanya, sehingga mau tak mau putingnya kurasakan pada bibirku. Mula-mula kuciumi dan kuisap puting payudara kanannya sambil terus meremas kedua payudaranya, beberapa saat kemudian giliran puting payudara kirinya. Kedua tangannya menekan kepalaku semakin kuat hingga sulit bernapas, tetapi aktivitasku memesrai kedua gunung indahnya tidak berhenti. Geliat tubuhnya sudah bak cacing kepanasan. Tangannya tidak lagi hanya membelai rambutku, tetapi turun ke punggung dan pinggulku serta mulai meremas-remas kedua belah pantatku. Aku paham, ia sudah ingin dimasuki, tapi aku masih mau melakukan <em>foreplay </em>yang tak terlupakan olehnya, bahkan bila perlu hingga ia orgasme dulu. Saat tangannya mulai mencari penisku, aku bangkit dan duduk di sampingnya menghindari agar penisku jangan mendapatkan rangsangan hebat, aku kuatir tidak kuat menahan permainan tangannya dan ejakulasi sebelum melakukan penetrasi. Itu sebabnya aku kemudian duduk bersimpuh di antara kedua pahanya tanpa dapat ia cegah dan kembali meremas kedua payudaranya sambil menciumi pusarnya, pinggangnya dan pinggulnya. Beberapa saat di situ, ciumanku kemudian turun ke sela-sela pahanya, membuatnya semakin menguakkan kedua belah pahanya, sehingga kuamati vaginanya yang merona merah semakin mekar. Kucium dan kujilati sela-sela pahanya, sambil membelai-belai rambut vaginanya yang tak seberapa lebat tetapi tumbuh dengan baik, tetapi pada bagian labia vaginanya kulihat rambutnya tak seberapa banyak. Saat membelai-belai rambut vaginanya, kulihat ada setitik noktah hitam di paha kirinya, juga ada satu lagi dekat labia sebelah kanan. Kukuakkan rambut-rambut di bagian itu, dan saat kudekatkan wajahku, terlihat adanya tahi lalat. Waktu mengamati bagian klitorisnya yang makin tegang, kulihat ada tahi lalat juga persis di bagian atas klitorisnya, “Wah, pantas nich orang begitu kuat nafsunya, ada beberapa tahi lalatnya di sini,” pikirku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ada apa sich Mas, koq liatin barangku kayak gitu?” tanyanya penasaran. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nggak Mbak. Aku sedang meneliti vaginamu. Soalnya aku kagum akan daya tahan seks Mbak. Kuliat ada beberapa tahi lalat. Makanya jadi maklum akan kemampuan seksual Mbak,” jawabku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ah, ada-ada aja. Jadi malu aku …” katanya tersipu-sipu. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Udah dong, jangan diliatin terus …”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kuteruskan aksiku melakukan eksplorasi dengan membelai-belai celah-celah kedua pahanya, ciumanku juga berlabuh di sana sambil menggigit lembut karena gemas. Ia terpekik atas ulahku, “Auuuwww … diapain pahaku Mas?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Tenang sayang ….. nikmati saja ya? Rileks ya biar kuantar Mbak ke gerbang kenikmatan yang takkan terlupakan.” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Usai mencium dan menggigit lembut, lidahku mulai kujulurkan ke klitorisnya tanpa menyentuh vaginanya sama sekali. Ia menggelinjang dan kembali mendesah. Kedua tanganku masih terus bermain di pahanya, membelai rambut-rambut halusnya, dan kadang-kadang menekan lembut kulit pahanya, hingga membuat desahannya berubah menjadi rintihan. Kurasakan klitorisnya semakin tegang, membuatku tak kuasa menahan diri untuk tidak mengisapnya. Kuarahkan bibirku dan menjilat sambil mengisap klitoris, mula-mula dengan perlahan, lama-kelamaan semakin gencar kuisap. Sewaktu klitorisnya yang sudah tegang sebesar biji kacang tanah sedalam-dalamnya ke dalam mulutku, lidahku kugunakan untuk merangsang klitorisnya dalam mulutku. “Ooooohhhh, sayang ….. aaaakkkkhhhhh nikmatnya ……., teruskannnn … yahhhh ….. ougghhhh…” rintihnya sambil meliuk-liukkan pinggulnya seperti penari Spanyol. Bibirku kini bukan hanya bermain di klitorisnya tapi juga mengisap kedua labianya secara bergantian. Akibatnya ia semakin <em>horny</em> dan kedua kakinya ditekukkannya ke kasur sambil menaik-turunkan pinggulnya, sehingga vaginanya semakin merekah dengan rona merah dan cairan yang semakin banyak mengalir. Akhirnya tak kuasa lagi membendung gelora birahinya, kedua tangannya menekan belakang kepalaku kuat-kuat ke vaginanya, hingga mulutku menyatu dengan vaginanya, sedangkan cairan vaginanya menetes keluar dengan derasnya. Saat kuisap cairannya, tiba-tiba kudengar bunyi, “Crooott … crott … crottt …..” Rupanya seperti kejadian tadi sore, ia mengalami orgasme yang begitu hebat, hingga mengeluarkan cairan vagina bersamaan dengan air seninya. Semua cairan itu kuhirup dengan bibir dan mulutku meskipun ada juga yang muncrat mengenai wajahku. Aku menyesal juga tak sempat memasukkan jari ke dalam vagina dan anusnya saat ia mengalami orgasme lagi. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Beberapa saat ia menggelinjang-gelinjang menahan nikmat, kemudian gerakannya perlahan-lahan melemah dan ia tergolek di ranjang dengan mata terpejam penuh kepuasan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nikmat sayang?” tanyaku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Yahh, nikmat sekali Mas …. Aku puas,” jawabnya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku masih penasaran ingin memasukkan jari ke vagina dan anusnya, kemudian mengangkat kedua kakinya ke pundakku, sehingga ia terkejut. “Mas, ntar dulu, aku masih capek …..” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aku yakin kau masih sanggup, Sayang. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Tenang aja. Aku takkan menyakiti dirimu,” kataku sambil menempatkan kedua kakinya di pundakku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kembali kuserang vaginanya dengan jari-jariku dan sisa-sisa cairannya kugunakan juga untuk merangsang anusnya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aduh Mas, aku nggak kuat. Nanti dulu dong!” rengeknya. Tapi ucapannya tidak kupedulikan. Jari telunjuk mulai mengeksplorasi liang vaginanya, sedangkan jari tengah tangan kananku memasuki anusnya. Kedua jari tersebut kugerakkan perlahan-lahan sementara jari-jari tangan kiriku kugunakan untuk menekan lembut perutnya tepat di bagian tulang-tulang yang ada di atas kemaluannya. Aku pernah melihat teknik demikian di suatu film porno di mana si perempuan benar-benar merasakan kenikmatan. Sekarang aku mempraktekkannya pada perempuan di depanku. Meskipun tadi ia sempat menolak karena sudah orgasme, tetapi begitu mendapatkan rangsangan hebat lagi, kembali ia menggeliat-geliat. Aku yakin perempuan ini mampu dalam waktu yang berdekatan mendapatkan orgasme, sebab tadi saja ia sudah mencapai multi-orgasme, dan melihat tahi lalat di vaginanya serta pengetahuanku tentang seks selama ini, pasti aku dapat memberikan kepuasan berantai baginya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Benar saja. Tak lama kemudian kembali Mbak Yati mengerang-erang, bahkan pinggulnya bukan hanya menggeliat ke kanan kiri, tetapi juga menyodok-nyodok jariku ke arah atas hingga pantatnya bergerak juga atas bawah. Pemandangan itu membuatku semakin bersemangat dan mempercepat aksiku. Terlebih lagi waktu ia memintaku, “Ayo Massss, teruskan, lebih kuat Mas …. Ooooohhhh nikmatnyaaaa ….” Tiba-tiba kuhentikan gerakanku dengan tetap menempatkan jari-jariku pada vagina dan anusnya. “Kenapa Mas? Koq berhenti?” tanyanya penuh rasa penasaran.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Yang di anal Mbak sakit nggak? </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kalau sakit biar kustop,” tanyaku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nggak koq, enak banget. Suamiku aja tidak pernah bisa memuaskanku seperti ini. Ayo dong Mas, terusin lagi …. tanggung nich. Jangan bikin aku tersiksa …. Maasss …” rintihnya memohon.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Katanya tadi capek, koq sekarang malah minta lagi?” godaku sambil tersenyum.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Abis Mas pinter banget menaikkan nafsuku. Tadi sih benar-benar sudah lemas, tapi begitu dirangsang hebat, mana tahan, aku jadi pengen lagi nich … Ayo dongggg…. Mas! Tega ya menyiksaku?” kembali ia memohon.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ok sayang, terimalah persembahanku untuk kenikmatanmu,” kataku puitis, sambil kembali melakukan gerakan seperti semula. Perlahan-lahan birahinya naik lagi, gerakan tubuhnya kembali semakin liar, apalagi ketika kugesekkan jari-jari tangan kiriku pada klitorisnya sambil mempercepat gerakan jari-jari yang lain ke dalam vagina dan anusnya. Rintihnya kini semakin meninggi bahkan ia mulai menjerit-jerit. “Tenang Mbak, ntar kedengaran orang, kita bisa ketahuan lho!” kataku. “Iyaaa …. Ooohhh , iyaahhhh Masss…. Abis enak banget sichhhh ….” rintihnya sambil menurunkan suaranya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Pahanya kukuakkan selebar-lebarnya, sehingga terpampanglah vaginanya dan seisinya di hadapanku. Bahkan anusnya nampak terangkat beberapa kali karena pantatnya naik turun. Dengan rintihan panjang, ia mencapai orgasme lagi untuk kesekian kali. Kurasakan betapa kuat denyutan anusnya dan jepitan vaginanya, sedangkan klitorisnya kulihat berdenyut beberapa kali. “Begini rupanya gerakan klitoris jika sedang klimaks,” pikirku. Kembali cairannya muncrat dan kujilati, walaupun tidak sebanyak yang tadi lagi. Lalu kuturunkan kakinya dari pundakku dan rebah di sampingnya sambil mencium bibirnya. Ia dengan sangat bernafsu menciumi bibirku dan lidahnya mengait-ngait rongga mulutku, bahkan sesekali mengisap lidahku. Setelah itu napasnya makin reda, tidak lagi terengah-engah. Kami berdua berbaring bersisian sambil berpegangan tangan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas, terima kasih ya. Kau benar-benar luar biasa memuaskan diriku,” katanya. “Kau hebat banget lho Mas, bisa-bisanya menahan diri padahal aku sudah berulang-kali orgasme.” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Demi dirimu, Mbak. Aku mau memberikan berapa banyak pun orgasme yang kau inginkan. Malam ini milik kita berdua. Kenanglah malam ini sebagai malam yang paling berkesan bagi kita berdua,” pintaku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ya sayang. Aku puas banget. Giliranku sekarang mengantar Mas kepada kenikmatan yang Mas dambakan,” katanya sambil membelai-belai dadaku dan memainkan putingku. Tak berapa lama ia mulai menggerakkan tubuhnya dan mencium bibirku. Birahiku mulai naik sewaktu lidahnya ia julurkan ke dalam mulutku mencari-cari lidahku dan mengisapnya dengan gemas. Kemudian bibirnya bergerak menciumi telingaku seperti yang kulakukan terhadap dirinya tadi, turun ke leher dan pundakku. Ketika sampai di bagian dada, putingku dijilatinya bahkan kadang-kadang digigitnya lembut. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Perasaanku makin tak menentu sewaktu bibir dan lidahnya menyapu sekujur dada, perut dan pinggangku. Kemudian diraihnya penisku dengan jari-jarinya, memainkan rambut di sekitar penisku dan menekan glans penisku dengan lembut. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Agar permainan seimbang, cepat kuraih tubuhnya dan dengan setengah paksa kubaringkan terlentang di ranjang. Lalu dari arah yang berlawanan, kutempatkan tubuhku di atasnya, sehingga ujung kaki kami berdua terletak berlawanan arah namun kepala kami bertemu. Kuciumi ubun-ubunnya terus mengarah ke mata dan hidungnya, sedangkan ia dari arah bawah juga menciumi mata dan hidungku. Selanjutnya bibir kami bertemu. Lidahku mengait-ngait lidahnya dan mengisap lidahnya. Dagunya kuciumi lalu terus ke lehernya. Ia pun membalas dengan ciuman pada dagu dan leherku di bawah tubuhku. Mulutku mulai mencari-cari payudara kanannya, sementara bibirnya sudah menciumi dadaku sebelah kiri. Lama menciumi putingnya sambil meremas dan mengisap belahan dada kanannya, kemudian aku berpindah ke payudara kirinya, sedangkan Mbak Yati beralih ke dadaku sebelah kanan. Setelah puas menciumi dadanya, aku makin turun ke perutnya dan menciumi pusarnya, sedangkan dia melakukan hal yang sama di bawah. Seterusnya kuciumi pangkal paha dan rambut-rambut halusnya serta mulai menjilati celah-celah pahanya dan mengarahkan mulutku ke vaginanya. Ia mendesah sambil mencari-cari penisku dengan bibirnya. Sesaat kemudian ia menemukan glans penisku. Ujung lidahnya mengait lubang pipisku, membuat darahku mengalir makin cepat menambah ketegangan penisku. Gerakan lidahnya memutari leher penisku membuatku makin menggeliat, rasa geli bercampur nikmat melanda diriku. Apalagi ketika bibirnya kemudian mengulum penisku perlahan-lahan, hingga sebatas lehernya. Sambil mengulum glans penis, ia menggerak-gerakkan lidahnya menyapu glans penisku dan sesekali menusuk-nusukkan ujung lidahnya ke lubang kencingku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ahhh … nikmatnya Mbak …” desahku menahan nikmat yang semakin memuncak. Aku merasa ia kurang bebas melakukan kegiatannya dengan posisi di bawah, sehingga dengan suatu gerakan kugulirkan tubuhku ke sampingnya kemudian kedua tanganku yang memegang pantatnya menaikkan tubuhnya ke atas tubuhku. Kini ia berada di atas dengan posisi wajahnya menghadap penisku, sementara aku di bawahnya dengan posisi wajah tepat berada di bawah vaginanya. Kudengar erangannya saat lidahku kembali mengait klitorisnya dengan gerakan memutar. Penisku kembali ia telan, bahkan bukan hanya sebatas kepada dan lehernya, ia memasukkan penisku semakin dalam ke dalam rongga mulutnya hingga kurasakan ujung penisku menyentuh langit-langit mulutnya. Lidahnya terus bermain menjilati kulit batang penisku, glans penis dan lubang kencingku pun tak luput dari sasaran lidahnya. Aku menggeliat atas perlakuannya, ia makin pintar memainkan lidahnya dan tangannya tak ketinggalan meremas-remas pantatku. Dari bawah, kutusukkan lidahku makin dalam ke liang vaginanya, hingga cairan vaginanya semakin membanjir turun menetes ke wajahku. Aku sibuk menjilati cairannya. Klitorisnya pun menjadi sasaran bibirku. Kuciumi, kujilat dengan lidahku berulang-ulang dan beberapa kali kuisap hingga pantatnya kurasakan bergerak naik turun akibat rasa nikmat yang ditimbulkan perbuatanku. Jari telunjuk tangan kiriku mencari sasaran lain, yaitu lubang anusnya. Cairan vaginanya kuoleskan di jariku sebelum mencari permukaan lubang anusnya, dan blesss …. masuklah jari telunjukku ke dalam lubang tersebut, hingga ia semakin mengerang nikmat. Jilatan lidah dan bibirku pada liang vagina, labia dan klitorisnya membuatnya birahinya makin menjadi-jadi. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas, aku nggak kuat lagi…. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Ayo, masukin kontolmu, sayang! Oooohhh…. ” pintanya sambil merintih-rintih menahan nikmat yang tak terperikan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Baiklah sayang, kuturuti perintahmu,” kataku sambil membalikkan tubuhnya ke samping dan menempatkan tubuhku terlentang lalu menarik tubuhnya agar naik di atas tubuhku. “Mbak di atas ya, biar cepet dapet,” kataku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Ia mencoba protes, “Tapi aku belum pernah melakukan posisi begini dengan suamiku.” “Wah, repot juga nich, ada perempuan yang sudah 15 tahun kawin tapi cuma bisa satu macam posisi,” rutukku dalam hati. “Udah deh Mbak, ntar bisa sendiri koq. Ayo rebahan aja di atas badanku,” ajakku sambil menarik kedua lengannya ke atas dan memeluk punggungnya. Ia merebahkan tubuhnya, tapi kuangkat sedikit tubuhnya dengan cara menolakkan perutnya ke atas dan kuraih pinggulnya agar vaginanya tepat berada di atas penisku. Karena vaginanya sudah begitu basah tadi, maka otomatis glans penisku yang tepat berada di bawahnya mendapatkan keleluasaan untuk mencari pintu masuk ke liang vaginanya. Saat ia merasa ujung penisku sudah menyentuh labia dan klitorisnya, secara alamiah ia menggesekkan vaginanya semakin rapat ke arah penisku, dan mulailah penisku terbenam ke dalam liang vaginanya yang berdenyut-denyut. Rasa hangat di liang vaginanya sangat merangsang diriku. Ia tak kuat duduk di atas perutku, sehingga ia hanya merebahkan tubuhnya menelungkup di atas badanku sambil mencium bibirku. Aku membalas ciumannya dengan lilitan lidah pada rongga mulutnya, sambil kedua tanganku mencari-cari dan memilin putingnya serta meremas-remas kedua payudaranya. Pantatnya mulai bergerak naik turun dan kadang-kadang bergerak secara memutar di atas perutku, hingga kurasakan penisku mendapatkan rangsangan yang luar biasa, apalagi mpot ayam yang ia miliki begitu dahsyat meremas-remas penisku yang bergerak masuk keluar liang kenikmatannya. Sesekali ia bergerak memutar di atas perutku hingga penisku kurasa seperti diputar-putar. Lain waktu, ia naik turunkan pantatnya hingga penisku masuk keluar vaginanya dengan ritme yang semakin cepat. Dari bawah aku melakukan gerakan memutar, tetapi kadang-kadang kulakukan gerakan menekan penis ke liang vaginanya dengan kuatnya, sehingga sesekali pantatnya terlihat terangkat akibat hentakan penisku pada vaginanya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ahhh…. aku mau keluar lagi, Mas…. Aku nggak kuattt lagiiiii …. ooookhhhhh …. nikmat …. sayang …” rintihnya sambil memeluk tubuhku erat-erat dan menggigit pundakku dengan mesra. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kurasakan penisku seakan-akan diremas-remas dengan kuatnya dan glans penisku seperti disedot oleh sesuatu nun jauh di ujung liang kenikmatannya. Cairan vaginanya kurasakan membanjiri penisku dan menetes turun ke pangkal penis dan sela-sela pahaku. Aku merasakan sesuatu mendesak dari dalam diriku yang semakin memusat pada penisku. “Agaknya aku juga akan orgasme,” batinku. Kedua belah pahanya kujepit dengan kedua pahaku dan penisku kutekan sekuat-kuatnya memasuki liang vaginanya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Saat puncak kenikmatan semakin mendekat, tiba-tiba kurasakan pantatnya kembali naik turun dan Mbak Yati menghempaskan pantatnya kuat-kuat hingga penisku ditelan vaginanya hingga pangkalnya, bahkan kedua testisku kurasakan terjepit sedemikian rupa di celah-celah pahanya dan kembali kurasakan aliran air yang deras mengalir dalam liang vaginanya. “Nampaknya air seninya kembali muncrat bersamaan dengan orgasmenya,” pikirku sambil terus menjepit pahanya dan semakin mempercepat gerakan tubuhku. Lalu dengan suatu lenguhan panjang, aku mengalami orgasme berbarengan dengan semprotan air seninya pada penisku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ahhhh …. Mbak Yati, aku sayang kamu ….” desahku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kurasakan betapa banyak cairan kami yang keluar membasahi sprey ranjang tersebut. Tapi semua tidak kami pedulikan, yang penting puncak kenikmatan telah kami raih bersama-sama. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Masih dengan nafas tersengal-sengal kami berciuman sambil berbaring miring saling berhadapan. Payudaranya kuremas-remas dan putingnya kumainkan dengan jari-jariku, sedangkan tangan kirinya memainkan penis dan testisku yang basah kuyup akibat siraman liang kenikmatannya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kami berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamar. Kudengar ucapannya lembut, “Mas, aku puas banget lho ….. Bagaimana denganmu Mas? Sudah puas?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ya Mbak, aku puas. Kau begitu luar biasa melayaniku,” jawabku sambil meremas jari-jarinya. Ia diam dan kuperhatikan beberapa saat kemudian matanya sudah terpejam, mungkin ia akan tertidur. Jari-jarinya masih kuusap dan remas, gerakannya membalas remasan jariku makin pelan dan akhirnya berhenti. Kulihat matanya benar-benar sudah terpejam dan kuamati ia sudah tidur pulas. Kubiarkan ia tertidur dan sambil menatap wajahnya, dalam hati aku berkata pada diriku sendiri, “Betapa nikmatnya bersenggama. Akhirnya kulepas keperjakaanku pada seorang perempuan, walaupun bukan pada pacarku, melainkan pada isteri orang. Namun aku tidak menyesali hal ini, sebab kami melakukannya dengan cinta kasih, kecuali jika kuserahkan keperjakaanku pada perempuan tuna susila.”  </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kubiarkan pikiranku mengembara hingga lelah sendiri dan mataku ikut terpejam. Agak lama tertidur, kurasakan rabaan jari-jari pada bagian dada dan perutku. Kutoleh ke sebelah kiriku, ternyata Mbak Yati sudah bangun dan memesrai tubuhku kembali. “Mas, aku mau lagi ….. Boleh nggak minta lagi, Mas?” bisiknya mesra.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kalau nggak boleh, gimana?” godaku sambil tersenyum.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Yah sudah. Tidur aja deh. Aku nggak maksa koq,” ujarnya cemberut.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ha … ha … ha … mana bisa aku menolak permintaan perempuan secantik kau, Mbak? Sekarang kita pakai gaya apa nich?” tanyaku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Terserah Mas dech. Aku ngikut aja,” jawabnya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kubalikkan tubuhnya hingga telungkup dan aku menciumi pundak, punggung dan turun ke pinggul dan pinggangnya. Kemudian kedua belah pantatnya kuremas-remas dan jari-jariku mengait-ngait lubang anusnya. Lidahku kuarahkan menciumi anusnya hingga ia terpekik, “Ahhh …. diapain lubang yang itu, Mas?” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aku gemas pada dirimu Mbak. Tapi percayalah, aku akan memuaskan dirimu lagi.”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Lidahku kugerakkan memutari permukaan lubang anusnya bahkan sesekali menusuk lembut ke dalam, meskipun tidak bisa dalam kumasukkan lidah ke situ, tetapi beberapa kali tusukan sudah cukup menaikkan birahinya kembali. Setelah itu, aku menjilati celah-celah pahanya dan turun ke arah vaginanya. Kuciumi labianya dan lidahku kujulurkan masuk ke liang vaginanya. “Ehhhssssttt … Massss … yahhh enak tuch, terusin yaaa…” rintihnya sambil meliuk-liukkan pinggulnya. Kurasakan vaginanya mulai basah lagi dan kuperhatikan liang vaginanya berdenyut-denyut mengembang dan menguncup dengan warna merah muda dan aroma yang harum. “Heran, koq bisa-bisanya vagina perempuan ini begitu indah padahal sudah 15 tahun kawin dan melahirkan tiga orang anak?” pikirku. Sambil berpikir demikian kurasakan gejolak darahku semakin deras dan penisku semakin tegang. Akhirnya kuarahkan penisku tepat di belakang pantatnya, lalu kutarik sedikit ke belakang kedua belah pantatnya hingga agak nungging. Perlahan-lahan kuarahkan penisku ke lubang vaginanya setelah mengusap-usap labianya dengan glans penisku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Oooukkhhhh …. Mas …. Aduhhhh …. koq bisa begini enak ya?” desahnya dengan suara yang hampir tak kedengaran. Aku tahu birahinya sudah semakin tinggi, sebab pantatnya dengan cepat melakukan adaptasi terhadap penisku. Ia gerakkan pantatnya maju mundur ke arah penisku, sehingga aku tidak mengalami kesulitan untuk memasukkan dan mengeluarkan penisku ke dalam liang kenikmatannya. Kedua tanganku menjangkau kedua belah pantatnya yang masih terlihat sexy, lalu kumaju- mundurkan pantatnya agar penisku bebas masuk keluar vaginanya. Ia semakin mempercepat goyangan pantatnya maju mundur dan sesekali melakukan gerakan ke kiri dan ke kanan. Aku menekan penisku semakin dalam ke liang vaginanya, sehingga kurasakan betapa glans penisku mulai menemukan ujung vaginanya, sebab terasa sudah buntu. Saat kusentuh ujung rongga vaginanya dengan glans penisku dan kulakukan gerakan memutar saat penisku berada sepenuhnya di dalam vaginanya, ia merebahkan tubuhnya ke kasur, tidak lagi nungging. Kuikuti gerakannya dengan menempatkan tubuhku tepat di atas tubuhnya, tanpa melepaskan penisku dari liang vaginanya. Kedua payudaranya di bagian depan tubuhnya kuremas-remas sambil menghentakkan penis semakin dalam ke liang vaginanya dari arah belakang. Pantatnya semakin liar bergerak-gerak. Aku pun tak mau kalah <em>action</em>, kupercepat goyangan pantatku naik turun hingga penisku terbenam sedalam-dalamnya ke dalam vaginanya dan dengan suatu lolongan panjang, ia menjerit sambil tangannya meremas bantal yang ada di wajahnya. “Ohhhhhh …. Masss .…..” Ia kembali orgasme sedangkan aku masih belum apa-apa. Cairannya kembali menetes dan membasahi liang vaginanya dan penisku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Penasaran ingin melakukan gaya yang lain lagi, aku terlentang dan kuraih tubuhnya dan kutempatkan di atas, tetapi dengan posisi punggungnya bersentuhan dengan dadaku dan pinggangnya di atas perutku. Ia tidak lagi berusaha menolak seperti tadi. Mungkin karena pasrah atau malah penasaran juga ingin mencoba berbagai posisi denganku? </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Setelah kurasakan posisi tubuhnya sudah benar-benar relaks di atasku, kuangkat sedikit pantatnya dengan satu tangan dan tanganku yang lain memegang penisku untuk kuarahkan ke liang vaginanya. Mula-mula penisku gagal mencapai liang vaginanya, tetapi kemudian Mbak Yati sendiri berinisiatif memegang penisku dan dengan posisi agak duduk di atas perutku, ia mengarahkan penisku memasuki liang vaginanya. Lalu ia kembali terlentang di atas tubuhku, maka jadilah penisku ditelan lagi oleh vaginanya. Posisi kami sebenarnya masih sama seperti tadi, hanya bedanya yang tadi merupakan <em>doggy style </em>di mana tubuhku menguasai tubuhnya secara utuh; sedangkan posisi sekarang tubuhnyalah yang menguasai tubuhku walaupun tidak seutuhnya, sebab ia membelakangi aku. Kunaik-turunkan pinggulku agar penisku masuk keluar vaginanya, sedangkan tanganku meremas-remas payudaranya sambil lidahku menciumi leher dan pundaknya. Kembali ia mengerang. Sekitar sepuluh menit kami dalam posisi itu, kurasa ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dalam tubuhku. Sedangkan Mbak Yati sendiri juga tak kalah hebatnya meliuk-liukkan pinggulnya menerima hunjaman penisku. Sambil merintih-rintih, ia menekan pantatnya agar penisku semakin dalam masuk ke dalam vaginanya dan aku tak kuasa lagi membendung birahiku yang sudah memuncak, “Akkuuu keluar Mbakkkkk ….” aku melenguh sambil menusukkan penisku sedalam-dalamnya hingga ujungnya kurasakan berhenti sebab telah mencapai ujung dinding liang vaginanya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Oookkkhhh kita bareng Mas…. Aku juga dapet lagi nich …. Akkkhhhh … oougghhh,” jeritnya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kedua tubuh kami sudah bersimbah keringat, meskipun AC di ruangan itu cukup dingin. Nafas kami masih memacu dengan kencangnya saat menuntaskan permainan kami. Dengan suatu ciuman panas, Mbak Yati memagut bibirku dan rebah terlentang di atas tubuhku. Di bawah sana kurasakan cairan dari vaginanya meleleh ke penis, perut dan pahaku. “Luar biasa kenikmatan yang kureguk dari perempuan ini. Tak percuma kulepas keperjakaanku baginya,” batinku. “Mbak Yati, makasih ya atas pelayananmu. Mungkin suamimu pun belum pernah mendapatkan pelayanan begini rupa ya?” kataku dengan tulus sambil menyelidik.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Ia menciumi wajahku dan berbisik lirih, “Mas, aku hanya serahkan tubuhku seutuhnya padamu. Suamiku sendiri pun belum pernah bersebadan hingga aku puas berkali-kali. Saat ini aku adalah isterimu, sayangku …..” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Beberapa saat kemudian, dengan hanya mengenakan celana dalam dan BH, Mbak Yati bangkit meninggalkan aku keluar kamar. Lalu ia masuk lagi sambil membawa segelas air untukku. Aku pun menenggak air tersebut hingga habis dan gelas yang sudah kosong itu ia taruh di meja kecil dalam kamar tersebut. Kutoleh ke arah jam dinding, sudah pukul 22.45. Berarti kami sudah main selama kurang lebih tiga jam. Rasanya agak letih, tetapi entah mengapa kami berdua seperti lupa waktu dan seakan-akan ingin memanfaatkan sebaik-baiknya waktu yang ada. Melihatnya dengan celana dalam dan BH bukannya membuat nafsuku mereda, malah timbul keinginanku untuk kembali menyetubuhinya. Kuraih tubuhnya ke arah tubuhku hingga kami kembali berpelukan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas tidak capek? Koq minta lagi sih?” rajuknya sambil menciumi dadaku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Tahu tuch, aku juga heran koq maunya main lagi nich. Padahal sudah dua ronde kudapatkan, Mbak sendiri sudah beberapa kali ya?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Sekarang maunya apa lagi, Mas?” bisiknya di telingaku sambil mengusap-usap dadaku dan menciumi pipiku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku tidak menjawab pertanyaannya, melainkan menarik tubuhnya ke pinggir ranjang. Ia tidak melawan atau protes. Aku tahu ia juga penasaran ingin mencoba gaya lain lagi. Kutarik kedua kakinya hingga menjuntai ke lantai sedangkan pantatnya hingga ujung rambutnya berada di ranjang. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kujilati tumit kakinya, naik ke betis dan lututnya hingga pahanya. Ia mulai mengerang lagi sewaktu kuperlakukan demikian. Erangannya lagi-lagi meninggi sewaktu kuciumi dan jilati sela-sela pahanya, dan kusibakkan labia vaginanya ke kanan kiri agar leluasa merambah wilayah tersebut. Kurasakan aroma harum pada vaginanya. Kesimpulanku ia tadi sempat membasuh bagian tersebut di kamar mandi sewaktu keluar kamar mengambilkan air minum untukku. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas … nikmat amat sich?” desahnya, “Aku jadi ketagihan kau ciumi memekku…” lanjutnya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Segalanya kupersembahkan demi kenikmatanmu, sayang … Nikmatilah apa yang kuberikan padamu malam ini, Mbak …” kataku di sela-sela kesibukan melakukan penjelajahan-ulang pada kemaluannya yang begitu merangsang. Aku heran, sudah berkali-kali ia orgasme dan kutusukkan penisku pada vaginanya, tetapi tidak terlihat tanda-tanda keletihan pada dirinya atau labianya semakin melebar. Bahkan kulihat labianya tetap seperti pertama kali kuamati tadi sore.   </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kutusukkan lidahku pada klitorisnya dan jari-jariku membenam masuk ke liang vaginanya. Jariku yang lain kembali mencari liang anusnya dan mulai memasukinya perlahan-lahan. “Mas, aku nggak kuat, pengen kau tusuk lagi nich … Jangan pake tanganmu lagi, aku mau kau tusuk pakai kontolmu yang gagah itu,” pintanya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Emang barangku gagah ya Mbak?” tanyaku setelah mendengar permintaannya. “Besar mana dengan barang suami Mbak?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Masih besar punya suamiku sih, tapi gaya mainnya jauh di bawah Mas Agus yang begitu luar biasa,” katanya memuji.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ah, bisa aja Mbak. Karena kita sedang berdua aja makanya Mbak ngomong begitu. Di hati Mbak pasti menertawai aku, kan?” desakku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Apa gunanya aku berbohong Mas? Kontol Mas Agus kulihat biasa saja, malah lebih kecil daripada punya suamiku. Tapi sampai sekarang masih bisa tegang terus, tidak seperti punya suamiku, baru sekali main sudah letoy. Makanya aku capek jika diminta meladeni dia. Baru juga goyang sepuluh menit, sudah muncrat, padahal aku belum apa-apa. Jarang aku bisa puas dengannya. Entahlah, apa karena aku suka jijik membayangkan dia main dengan perempuan lain, sehingga aku tidak pernah merasa <em>enjoy</em> kalau bersetubuh dengannya.” Aku tertawa kecil mendengar penuturannya sambil terus menciumi dan menjilati klitorisnya. Lagi-lagi ia merintih dan berkata lirih, “Maaasss, jangan siksa aku lagi, ayolah masukin kontolmu dong!”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dengan kedua kakinya tetap menjuntai di pinggir ranjang dan telapak kakinya menyentuh lantai kamar, kulabuhkan tubuhku ke atas tubuhnya. Penisku kuarahkan ke klitorisnya, beberapa gesekan kulakukan di situ sebelum memasukkan penis ke liang vaginanya. Ia merengek manja sewaktu klitorisnya kurangsang dengan jari-jariku sambil memasukkan penis semakin dalam. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ooohhh, lagi … lagi … lebih dalam lagi, Mas!” rintihnya</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kutempatkan tubuhku di antara kedua pahanya dan kedua tanganku menggenggam kedua telapak tangannya sambil memaju-mundurkan penisku ke dalam vaginanya. Kurasakan kedua pahanya semakin lebar membuka memberikan ruang bagi kedua pahaku, dan sekonyong-konyong kedua pahanya dikatupkannya membelit pahaku. Aku tak kalah garang, kedua tanganku kutarik dan dengan bertumpu pada kedua tanganku di atas ranjang, aku mendapatkan ruang gerak lebih untuk melakukan tekanan pada bagian intimnya. Rintihannya kembali memenuhi kamar tidur tersebut. Goyangan pantatnya semakin tak menentu, namun kedua belah pahanya tidak melepaskan jepitan mautnya pada pahaku. Sementara denyutan vaginanya pada penisku kurasakan semakin kuat. “Memang dahsyat stamina Mbak Yati ini di atas ranjang, tak kenal lelah dan mampu mengimbangi setiap langkahku,” kataku dalam hati. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Untuk menambah sensasi, kutarik sedikit demi sedikit penisku keluar vaginanya, walaupun pantatnya berusaha mengikuti gerakan mundurku agar tetap dapat menguasai penisku. Ia tidak tahu maksud gerakanku, sebab kudengar ucapannya, “Jangan ditarik dong Mas, aku sudah mau dapet lagi nich?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku tak menjawab, melainkan menarik hingga batas leher penis, lalu tanpa ia duga, kutekan kuat-kuat penisku masuk ke dalam liang vaginanya hingga ujung penisku membentur ujung dinding vaginanya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aaaaaahhhhhh …..” rintihannya begitu kuat terdengar. Rupanya ia tak menyangka taktik yang kupersiapkan, sehingga tanpa dapat ia cegah, ia tiba pada puncak kenikmatan yang sebenarnya masih akan ia capai beberapa saat lagi. Kurasakan siraman cairan kenikmatannya pada penisku. Kutarik lagi penisku hingga hampir lepas dari jepitan vaginanya hingga ia melolong seakan-akan tak mau melepas begitu saja penisku saat kenikmatan melanda dirinya, “Jangan cabut Massss …. Aku masih mau jepit kontolmu …. Oooohhhh …….” Aku hanya tersenyum sambil kembali melakukan gerakan menghentakkan pantat kuat-kuat dan membenamkan penis sambil membuat gerakan mengebor hingga ujung vaginanya benar-benar terasa di ujung penisku. Putaran pantatku hingga penis meliuk-liuk dengan gaya ‘mur memasuki baut’ membuat Mbak Yati mendapatkan orgasme lagi. Cairan vaginanya membasahi penisku lagi walaupun kurasakan tidak sebanyak orgasme-orgasmenya yang sebelumnya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Saat ia meredakan ketegangan dengan nafas yang tersengal-sengal, aku masih tetap menancapkan penis pada vaginanya. Lalu kuraih punggungnya. Mungkin ia pikir aku akan rebah di atas tubuhnya, sehingga ia diam saja. Tapi setelah memegang kedua pundaknya, kutarik tubuhnya mendekati tubuhku, kedua tangannya kuarahkan merangkul leherku. Kurasakan jepitan pahanya mulai mengendor, lalu kulilitkan lagi ke pahaku, bahkan naik ke pinggangku. Kemudian dengan suatu sentakan, kurangkulkan kedua tanganku ke pinggangnya lalu berdiri, sehingga kini ia benar-benar bergantung pada pinggangku. Mulutnya membuka secara spontan, kaget bercampur takjub atas kenikmatan yang ia rasakan, membuat mulutnya mendesis, “Sssshhhh …. Akkhhh, Mas Agussss …. kau benar-benar lihay ….. Ohhhhh, gerakan apa lagi nih?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Sambil merangkul pinggangnya, aku naik turunkan tubuhnya, sehingga penisku yang tegang kembali maju mundur di dalam liang vaginanya. “Ini gaya monyet menggendong anaknya, Mbak. Enak nggak?” jawabku sambil menantikan reaksinya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Enaakkk sayang ….. tapi apa aku tidak jatuh ntar?” desahnya disertai rasa kuatir.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Asal Mbak tetap merangkul leherku, nggak bakalan jatuh deh,” kuyakinkan dia sambil mulai menggerakkan kakiku melangkah berjalan di dalam kamar tersebut. Luas kamar itu kutaksir sekitar 5 X 6 meter, dikurangi ranjang berukuran king size, masih tersisa ruangan yang cukup untuk menggendongnya dalam posisi tersebut. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Okkkhhhhh, nikmat sekali sih, Mas? Aneh-aneh aja gayamu ya? Tapi semuanya bikin aku .… puasssss …. Ahhhhh,” rintihnya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mbak juga bisa coba gerakkan badan naik-turun dengan berpegangan pada leherku,” tukasku mengajarinya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Iya Mas, aku sedang berusaha nich…. Okkhhh benar sekali, nikmat amat sih?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kuperhatikan usahanya untuk menarik-turunkan tubuhnya agar penisku bisa maju-mundur di dalam liang vaginanya. Tangannya dilingkarkan erat-erat di leherku, tetapi kini ia sudah semakin pandai menaikkan dan menurunkan tubuhnya. Saat menaikkan tubuhnya, penisku keluar hingga sebatas lehernya, dan sewaktu ia menurunkan tubuh, penisku terbenam hingga ke pangkalnya. Aku masih terus berjalan tertatih-tatih sambil menikmati permainannya dan memegangi pinggangnya. Pada klimaks kenikmatannya, ia meracau dan mengerang, memeluk leherku kuat-kuat dan menggigit dadaku serta menurunkan tubuhnya sedemikian rupa hingga penisku terbenam seluruhnya di dalam liang kenikmatannya. Getaran pahanya yang membelit serasa merontokkan pinggangku. Kembali cairannya kurasakan meleleh di penisku turun hingga testis dan pahaku. Aku sendiri belum mendapatkan orgasme lagi. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kuletakkan tubuhnya ke kasur dalam keadaan menelungkup. Kubaringkan diriku di sampingnya sambil berbisik, “Mbak, keberatan nggak kalau aku mencoba sesuatu yang agak berbeda?” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Apaan maksudmu, Mas?” tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aku mau melakukan penetrasi pada analmu, Mbak. Boleh nggak?” bujukku lagi.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Tapi aku belum pernah tuh? Apa enak? Nggak sakit anusku dimasuki kontolmu yang cukup besar ini, Mas?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ya kita coba dulu. Kalau nanti Mbak benar-benar sakit, ya kuhentikan,” kataku lagi.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Idihhh, Mas Agus ini benar-benar kuda liar ya? Aku belum sempat ngaso, sudah mau diperkosa lagi?” ledeknya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kalau tak bersedia, yah sudahlah Mbak. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku nggak mau maksa koq. Udah deh, tidur aja kalau gitu,” aku pura-pura merajuk dan membalikkan badan membelakanginya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Jangan ngambek dong Mas. Ntar aku marah lho,” katanya sambil membalikkan tubuhku agar kembali berhadapan dengannya. “Tapi tunggu bentar ya, biar aku sempat bernafas dulu,” sambungnya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku tidak menjawab, hanya tersenyum dan mengelus keningnya. Kami berbaring miring dalam posisi saling bertatapan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Sekitar 10 menit kemudian, ia menepuk punggungku sambil berkata, “Ayo Mas. Masih mau nggak? Mumpung aku belum tidur lho,” godanya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku bangun dari rebahan, kutempatkan diriku di belakang dirinya yang masih berbaring miring. Ia mencoba menghadap ke arahku, tetapi tubuhnya kutahan, “Mbak nggak usah berbalik, begini saja. Ntar perhatikan apa yang kulakukan ya?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kaki kanannya yang menindih kaki kirinya kuangkat dan kuletakkan agak ke depan hingga paha dan lutut kaki kanannya menyentuh kasur. Lalu kusentuh vaginanya dari arah belakang. Kuraba dengan perlahan-lahan, kucari labianya dengan jari-jariku dan kusentuh klitorisnya yang sudah mengecil. Berkat sentuhanku, klitorisnya mulai membesar lagi dan labianya mulai basah. Kuambil sedikit cairannya dan kuoleskan pada duburnya. Masih merasa kurang basah, kuambil air ludahku dengan telunjuk dan kutaruh di permukaan anusnya. Gerakanku itu membuatnya mendesah lirih. Kemudian dengan posisi berlutut dekat pantatnya, kuarahkan penisku yang juga sudah kuolesi air ludah hingga tepat berada di muka liang anusnya. Perlahan-lahan kugerakkan glans penisku masuk ke anusnya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kudengar rintihannya, “Aduhhhh, sakitttt Mas…..” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Apa kustop aja Mbak, kalau sakit?” tanyaku sambil menghentikan gerakanku.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nggak, terusin aja Mas, tapi pelan-pelan ya, sayang …” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku bersorak dalam hati. Wah, dalam semalam ini sudah beberapa <em>style </em>kulakukan. Benar-benar pelajaran seks yang takkan terlupakan seumur hidup.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kubasahi lagi penisku dengan air ludahku dan kembali kumasukkan perlahan-lahan ke liang anusnya. Glans penisku sudah masuk makin dalam hingga batas leher penis. Kuamati wajah Mbak Yati. Tadi ia masih meringis, tetapi sekarang kulihat mulutnya setengah membuka dan matanya terpejam, namun tidak tampak tanda-tanda kesakitan lagi. “Masih sakit Mbak?” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Udah nggak begitu sakit lagi, Mas. Mulai terasa enak … tapi jangan kencang-kencang ya, pelan-pelan aja,” jawabnya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ya Mbak, aku tidak akan menyakitimu, bahkan aku bermaksud memberikan kenikmatan seutuhnya pada dirimu,” kataku meyakinkan dirinya sambil memasukkan penis makin dalam ke liang anusnya. Setelah setengah penisku berada di dalam anusnya, kutarik keluar, lalu kumasukkan lagi pelan-pelan. Begitu seterusnya, hingga ia merintih-rintih, “Aaaahhhh …. koq sekarang sakitnya makin hilang Mas? Nikmatnya seperti vagina yang dimasuki penismu kayak tadi …” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Makanya kita perlu uji-coba, Mbak. Kalau sudah enak Mbak rasakan, biar kuteruskan ya?” kataku meminta persetujuannya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Yahhh …. ooohhh … terusin aja Mas. Sudah semuanya masuk?”</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Belum Mbak. Sabar ya sayang. Tiba saatnya kumasukkan semuanya,” kataku sambil menghunjamkan penisku semakin dalam.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Oooooohhhhhhh …. nikmatttt …. Sayangkuuuu ….” rintihnya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Setelah penisku melesak hingga pangkalnya, kutarik lagi sebatas glans penis, lalu kumasukkan kembali sedalam-dalamnya, begitu kulakukan berulang-ulang, hingga rasa nikmat kembali merasuki diri Mbak Yati. Denyutan anusnya pada penisku pun kurasakan begitu dahsyat, tak kalah dengan denyutan vaginanya. Apalagi sama sekali ia belum pernah diperlakukan demikian oleh suaminya, sehingga akulah yang mendapatkan kehormatan memerawani anusnya. Sambil melakukan penetrasi pada anusnya, jari-jariku mulai kugunakan untuk merangsang vaginanya dan tanganku yang lain kupakai meremas-remas payudaranya. Rintihannya semakin menjadi-jadi demi mendapatkan serangan pada tiga bagian tubuhnya, “Maassss, kau pinter amat sihhh memuaskan akuuuu? Ayo Mas, makin cepat dong nusuknya, aku mau dapat lagi nich!” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Mendapatkan tawaran begitu rupa, aku semakin bersemangat melakukan tusukan maut ke dalam anusnya. Bahkan beberapa kali kubuat gerakan mengebor di anusnya, seperti pada vaginanya tadi, sambil memasukkan jariku ke dalam liang vaginanya. Kedua pahanya kemudian semakin rapat dan kurasakan anusnya menjepit penisku hingga tak mampu bergerak maju maupun mundur. Akhirnya aku hanya dapat meliuk-liukkan pinggulku agar dengan gerakan memutar tersebut dapat memberikan sensasi tinggi bagi dirinya. Jariku makin dalam menusuk liang vaginanya yang semakin kuat berdenyut, dan akhirnya jeritan panjangnya kembali terdengar, “Aaaaaahhhhhhhhhh …. Massss…. aku dapet lagi ………. ooooohhhhhh ………..” Penisku mendapatkan himpitan yang luar biasa dan tanpa dapat kutahan lagi, akupun mencapai orgasme bersamaan dengan keluarnya cairan dari vaginanya. Napas kami berdua terdengar begitu kencang, seperti desahan dua kuda liar yang habis berpacu. Kutarik penisku keluar dari anusnya. Kuperhatikan ada sedikit cairan merah di ujung penisku. Mungkin saking kuatnya tusukanku tadi, terjadi sedikit pendarahan pada anusnya, pikirku. “Mbak, sakit nggak anusnya?” tanyaku sambil merebahkan diri di sampingnya dan memandang wajahnya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Cuma sedikit perih, Mas. Tapi itu tak berarti dibanding kenikmatan yang barusan kuperoleh lagi,” jawabnya sambil memeluk leherku. Aku mencium bibirnya dan mengelus pundaknya. Sambil menarik <em>bedcover </em>menutupi tubuh kami berdua, aku memejamkan mata. Sekarang baru terasa lelah. Ia pun tertidur lebih dulu, diikuti olehku. Pukul 2 pagi kembali aku bangun dan mengajaknya main lagi dengan gaya lotus, gaya berdiri dan gaya gunting. Benar-benar tangguh Mbak Yati. Tapi iapun mengakui kehebatanku bermain seks, katanya, “Mas, kalau aku kangen, jangan tolak permintaanku untuk main lagi besok-besok ya?” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mbak tidak takut ketahuan suami atau orang lain?” tanyaku memancing.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Yah, kita pandai-pandai aja mengatur kapan kita main. Selama suamiku belum pulang dari Surabaya dan Mr. Bernard masih di negaranya, kita main aja. Kalau aku tidak nginap di sini pun, datang aja siang-siang pas cuma aku di sini, supaya kita bisa main dengan bebas. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Asal aman, Mas Agus akan kusms,” katanya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Begitulah pengalamanku dengan Mbak Yati. Hanya malam itu kami menginap berdua di rumah Mr. Bernard, tetapi agar tetangganya tidak curiga ia tidak pulang selama 4 hari suaminya di Surabaya, kami hanya bertemu dan main pada siang hingga sore hari. Itupun setelah ia memberi tanda lewat sms, setelah tukang kebon pulang. Praktis 4 hari lamanya kami habiskan bersama, walaupun hari pertama semalaman kami bertempur, sedangkan tiga hari berikutnya hanya kami pergunakan 3-4 jam setiap harinya. Setelah suaminya pulang dari </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Surabaya</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">, masih ada beberapa kali kami main tanpa ada yang tahu, sebab Mr. Bernard belum kembali dari negaranya. Namun setelah Mr. Bernard kembali, kami sudah jarang bertemu, apalagi untuk bercinta. Kadang-kadang smsnya datang menanyakan kabar dan rindunya kepadaku. Aku menjawab bahwa aku juga rindu padanya dan takkan melupakan pelajaran cinta yang kami rajut berdua. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Pada episode selanjutnya akan kuceritakan bagaimana Mbak Yati kembali bermain denganku di rumah Mr. Bernard yang sedang bepergian dengan keluarganya ke </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Bali</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> dan </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Lombok</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> selama dua minggu. Bahkan permainan kami jauh lebih gila dan liar, sebab saat itu ada seorang gadis desa yang lugu, pembantu baru di rumah itu yang berhasil kami bujuk untuk bermain cinta bertiga. Bagaimana hingga gadis itupun turut dalam permainan gelap kami, menjadi kisah tersendiri yang tak kalah serunya untuk dikenang, bahkan setelah sekarang aku berumah tangga dengan gadis dari seberang pulau. Harap para pembaca bersabar menantikan episode ketiga tersebut.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/surgadunia.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/surgadunia.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/surgadunia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/surgadunia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/surgadunia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/surgadunia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/surgadunia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/surgadunia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/surgadunia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/surgadunia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/surgadunia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/surgadunia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/surgadunia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/surgadunia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/surgadunia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/surgadunia.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=surgadunia.wordpress.com&amp;blog=488310&amp;post=13&amp;subd=surgadunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://surgadunia.wordpress.com/2007/02/19/pengalaman-dengan-mbak-yati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/201112ee97f0805487f43bf36143f1ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">surgadunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
